Home / Menjadi “ Manusia-Manusia UNPAR “

Menjadi “ Manusia-Manusia UNPAR “

Robertus Bambang M. (Mahasiswa Program Studi Ilmu Hukum)

Robertus Bambang_Pada umumnya, setiap insan manusia terlahir dalam keterbatasan. Konteks keterbatasan berarti ketika manusia lahir di dunia, mereka dalam keadaan tidak memiliki kemampuan apapun baik secara batiniah maupun lahiriah.  Namun seiring berjalannya waktu melalui proses kehidupan, segala keterbatasan tersebut berangsur-angsur hilang. Manusia mulai mengenal keadaan sekitar, memiliki kemampuan untuk bertahan hidup, dan kemampuan-kemampuan lainnya. Dalam mendobrak segala keterbatasan manusia tersebut, pendidikan memiliki peranan yang sangat vital. Mengutip pendapat dari Ki Hajar Dewantara bahwa pendidikan memiliki esensi untuk memerdekakan aspek lahiriah dan batiniah manusia.

Sebagai seorang mahasiswa, saya merasakan bahwa pendidikan yang telah saya lalui, dimulai dari tingkat dasar hingga tingkat perguruan tinggi, telah mendobrak keterbatasan-keterbatasan saya. Khususnya dalam konteks pendidikan di perguruan tinggi, mampu membentuk intelektualitas  dan karakter saya untuk menjadi manusia yang seutuhnya.

Secara umum, pendidikan tinggi memiliki peran yang strategis dalam mencerdasakan kehidupan bangsa. Hal tersebut diatur dalam pasal 4 Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi bahwa pendidikan tinggi secara garis besar memiliki fungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak demi mencerdaskan kehidupan bangsa, pengembangan Sivitas Akademika melalui penerapan Tridharma, dan pengembangan ilmu pengetahuan  dan teknologi berdasarkan nilai humaniora.

Kemudian fungsi dan peran pendidikan tinggi tersebut diejawantahkan oleh seluruh perguruan tinggi di Indonesia dengan pendekatan dan cara yang berbeda-beda sehingga memiliki kekhasan masing-masing, seperti yang dilakukan oleh UNPAR. Secara pribadi saya merasakan bahwa tempat saya berkuliah tersebut, memiliki karakter yang khas dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi.

Dalam menyelenggarakan pendidikan tinggi, UNPAR sungguh berorientasi pada pengembangan aspek lahiriah dan batiniah. Pendekatan yang dilakukan tidak hanya berpusat pada peningkatan intelektualitas semata, melainkan juga pembentukan karakter untuk menjadi seorang “manusia”. Dalam mewujudkannya, UNPAR memiliki basis nilai yang kuat untuk dijadikan pedoman. Secara garis besar, basis nilai tersebut dapat dijabarkan ke dalam tiga unsur sebagai berikut: Pertama, Nilai-Nilai Pendiri UNPAR. UNPAR didirikan oleh 2 uskup, yaitu Mgr. Arntz dan Mgr. Geise dengan  dilandasi semangat untuk memajukan pendidikan di lingkungan Jawa Barat. Tujuannya adalah agar penduduk di Jawa Barat dapat mengenyam pendidikan tinggi yang cukup sehingga dapat meningkatkan taraf hidup mereka. Oleh karena itu, para pendiri UNPAR selalu berpegang pada prinsip bahwa UNPAR tidak perlu menjadi kampus yang besar dan mabuk akan perkembangan, melainkan cukup menjadi kampus yang bebas diskriminasi dan menghasilkan lulusan yang berkualitas dan bermanfaat bagi masyarakat. Kedua, Sesanti UNPAR Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti. Sesanti UNPAR yang diambil dari bahasa Sanskerta tersebut memiliki arti “Berdasarkan Ketuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan Kepada Masyarakat.” Sejalan dengan nilai yang dipegang oleh para pendiri UNPAR, bahwa setiap ilmu yang didapatkan harus mampu untuk dibaktikan kepada masyarakat. Artinya, civitas akademika UNPAR harus hadir di tengah-tengah masyarakat untuk menerapkan ilmu yang dimiliki agar dapat bermanfaat secara nyata bagi masyarakat luas. Ketiga, Spiritualitas dan Nilai Dasar UNPAR (SINDU). SINDU merupakan hasil dari penggalian,  dan refleksi nilai-nilai khas yang dimiliki oleh UNPAR. SINDU dirumuskan ke dalam 3 nilai dasar dan 7 prinsip turunan. Tiga nilai dasar tersebut, yaitu hidup dalam keberagaman, cinta kasih dalam kebenaran, dan kemanusiaan yang utuh. Kemudian nilai-nilai dasar tersebut diturunkan ke dalam 7 prinsip dasar, yaitu keterbukaan, sikap transformatif, kejujuran, keberpihakan kaum miskin, bonum Commune, subsidiaritas dan nirlaba. SINDU ditanamkan pada setiap mahasiswa UNPAR diantaranya melalui Inisiasi dan Adaptasi mahasiswa baru, gladi yang diselenggarakan oleh Lembaga Pengembangan Humaniora, dan lain-lain.

Ketiga unsur di atas merupakan ciri khas  yang menjadi bagian dari sistem pendidikan yang ditanamkan kepada seluruh Civitas Akademika UNPAR, khususnya mahasiswa. Tujuannya akhirnya adalah agar mahasiswa mendapat pendidikan yang mampu mentransformasi pribadi mereka menjadi manusia yang seutuhnya. Artinya, manusia yang memiliki keseimbangan antara kecerdasan secara intelektual dan karakter yang mumpuni berdasarkan nilai-nilai      khas UNPAR yang sudah diinternalisasikan dalam pribadi mereka. Dengan bangga    saya menyebut mereka sebagai “Manusia-Manusia UNPAR.”

Semoga kekhasan pendidikan yang  diajarkan oleh UNPAR selalu mewujudkan “manusia-manusia UNPAR” yang selalu berguna di tengah masyarakat, terlibat     untuk menolong sesama dengan semangat kasih tanpa diskriminasi, dan menjadi generasi penerus bangsa yang mampu memimpin Indonesia mencapai tujuan yang dicita-citakan.