skip to Main Content

Welcome

Say hello to the toggle bar. This is an optional section you can use to display any content you'd like. Simply select a page from the theme panel and the content of the page will display here. You can even use the drag and drop builder to create this! This is a perfect place for your company mission statement, alerts, notices or anything else.

Get In Touch

Email: support@total.com
Phone: 1-800-Total-Theme
Address: Las Vegas, Nevada

Our Location

Beyond Paradoxes: Memandang, Menerima, Mengalami Realitas (Part 2)

Salam jumpa saya Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC., S.Ag., S.TL. saya adalah pengajar di Fakultas Filsafat Universitas katolik Parahyangan dan saya juga mengajar filsafat di Universitas lain. Bidang keahlian saya adalah filsafat estimologi dan secara khusus saya menggunakan metodelogi yang disebut fenomenologi. Topic yang akan kita bahas kali ini ialah beyond paradoxes, memandang realitas lebih daripada apa yang saling bertentangan memandang realitas ini adalah salah satu cara untuk memperoleh pengetahuan dan itu kita pelajari dalam epistemologi.

Pembicaraan kita dimulai dengan tema mengenai apa yang terjadi dan apa yang dialami oleh masyarakat kita sekarang ini yaitu bahwa terjadi dekonstruksi, fragmentasi dan pluraritas dalam persepsi. Masyakarat kita itu seperti masyarakat yang terus menerus berpikir, tetapi hermeneutika itu bisa melelahkan. Karena seakan-akan kita berpikir keras setiap saat kita berusaha untuk menafsirkan setiap kejadian berusaha untuk memahami makna dari setiap peristiwa.

Kita berjuang untuk meneliti sebab-akibat kausalitas kita juga mencari keterkaitan dan relevansi dari berbagai pernyataan, berbagai pengetahuan, berbagai kejadian yang terjadi sekaligus secara simboltan. Tetapi apa yang terjadi ujung-ujungnya kita hanya menyimpan sebagian kecil saja yang kita anggap berguna bagi kita diri sendiri. Kita terlanjur berpandangan dualistik. Pikiran kita lebih mudah meneliti apa yang berbeda dan ini dia kita cenderung menempatkan segala-galanya dalam sebuah sistematika. Logika menjadi begitu superior dan mendominasi cara pandang kita terhadap realitas. Sehingga semua yang tidak sistematis apa yang tidak masuk akal, lalu dikategorikan sebagai suatu anomali atau suatu paradoxes.

Tim Produksi

Narasumber:

Dr. Hadrianus Tedjoworo, OSC., S.Ag., STL.

Dosen Jurusan Ilmu Filsafat

Fakultas Filsafat

Universitas Katolik Parahyangan

 

Tim Produksi:

Pusat Inovasi Pembelajaran UNPAR

  • Ch. Helda Resa Pandhita
  • Doni Priza Adhitya

Tim 90STUDIO

  • Marco Felix
  • Calvin Wangsawiharja
  • Axzel Ezraferanza
  • Gorivano Agasta
  • Bernadus Bagus Krisdwianto
Back To Top