Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 03 Edisi Mei-Juni 2014 / Dosen sebagai Pandu & Teladan, tanpa Manjadi Pemicu Kekerasan

Dosen sebagai Pandu & Teladan, tanpa Manjadi Pemicu Kekerasan

Dr. Aloysius Rusli
(Dosen Program Studi Fisika)

Dr. Aloysius Rusli

Saya sependapat dengan Prof. Bob Sugeng Hadiwinata, Drs., M.A., Ph.D dalam tulisan Sañcaya edisi Maret 2014 berjudul “Membangun Demokrasi Melalui Pendidikan”. Bahwa sikap demokratis non-sentimen etnis/agama/kedaerahan, non-klientilisme/feodalisme/paternalisme, non-ekstremisme/moderasi, perlu sekali dibangun melalui kontak dan kuliah di kelas. Saya pun menyetujui pandangan Tutik Rachmawati, S.IP., M.A berjudul “Sudahkah Kita Menjadi Pengajar yang Demokratis” bahwa nilai-nilai dan tujuan hidup perlu diperkenalkan/diingatkan oleh dosen, dengan semangat memberdayakan bukannya mengerdilkan, dengan menyadari betapa dapat rumit latar belakang mahasiswa, sehingga perilakunya mungkin tak berkenan pada dosen, dan bukannya memaksakan pendapat dosen walau diyakini sebagai unggul.

Tulisan Maria Ulfah, S.H., M.Hum mengingatkan bahwa perbedaan pengalaman dapat menghasilkan perbedaan persepsi dan pilihan pada mahasiswa. Prof. Arief Sidharta mengingatkan bahwa kompetensi dapat menjurus pada penukangan/keterampilan/kemahiran-teknis belaka, patut pula disadari dosen. Prof. Arief juga menandaskan tentang kebebasan ilmiah (empiris atau matematis), bernalar-kritis dan memilih asumsi-nalariah memang jangan terkesampingkan oleh dosen karena sekadar mau mengejar target materi.

Dosen berperan sebagai pandu, pemberi wawasan, serta penyadaran akan luasnya ilmu dan dunia. Dosen pun jangan takut memperkenalkan diversitas pandangan, baik pandangan UNPAR maupun pandangan dirinya, dan pandangan alternatif. Semua ini akan membantu mahasiswa untuk memilih jalan mewujudkan kemanusiaannya yang utuh. Sebagaimana juga dikatakan oleh Santo Yohanes Paulus II (Paus 1978-2005) sejak awal penggembalaannya, “Jangan takut!”.

Beberapa jawaban Ujian Tengah Semester Etika Profesi yang saya baca memperlihatkan bahwa ada kekerasan di antara mahasiswa. Seringkali dosen dan mahasiswa senior, dalam menunjukkan jalan yang ‘benar’, lupa bahwa kekerasan amat mudah terjadi.

Untuk mengatasi situasi ini perlu keberanian karena ia menjadi unsur dasariah maka perlu terus ditumbuhkan. Misalnya keberanian mahasiswa untuk bertanya, keberanian dosen untuk bersabar mendengar mahasiswa. Dengan sikap batin ini tumbuh hati nurani yang lebih peka. Dan hal ini sejalan dengan semangat UNPAR sebagaimana termaktub dalam Spiritualitas dan Nilai Dasar Unpar (SINDU).