Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 03 Edisi Mei-Juni 2014 / Kedudukan Media dalam Proses Pembelajaran

Kedudukan Media dalam Proses Pembelajaran

Wawancara dengan Prof. Bambang Suryoatmono, Ph.D.
(Guru Besar Teknik Struktur)

 Prof. Bambang Suryoatmono,  Ph.DRedaksi Sañcaya berkesempatan menemui Pak Bambang, sapaan akrab Prof. Bambang Suryoatmono, Ph.D ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Teknik, Beliau berkenan membagikan pengalamannya dalam menggunakan media pembelajaran. Berikut ini petikan wawancaranya.

Menurut Pak Bambang, media pembelajaran itu apa?

Saya perlu cerita sedikit. Dulu sekali, media pembelajaran sangat terbatas; malah mungkin belum ada papan tulis. Dosen berbicara mahasiswa mendengarkan. Ketika saya kuliah sudah ada papan tulis dan kapur tulis. Komputer belum ada. Jadi, waktu itu media pembelajaran seperti sekarang tentunya belum dikenal. Yang ada hanya talk and chalk. Dosen berbicara atau menulis di papan tulis, mahasiswa mendengarkan atau menyalin. Fotocopy bahan atau diktat sangat jarang. Kita betul-betul menyalin dan belajar dari bahan tersebut. Tahun 1985 saya mulai bekerja di UNPAR. Waktu itu sudah ada spidol (white board), Over Head Projector (OHP) mulai ada. Keberadaan OHP mempercepat proses pembelajaran. Dosen mulai menggunakannya. Ada dosen yang mem-fotocopy bahan OHP-nya dan dibagikan kepada mahasiswa sebagai bahan belajar; Ada juga dosen yang tidak mem-fotocopy bahan OHP-nya. Mahasiswa hanya boleh mencatat. Saya termasuk yang memperbolehkan mahasiswa mem-fotocopy-nya. bagi saya, lebih cepat mendapatkan bahan pelajaran itu lebih baik dipakai untuk transfer ilmu pengetahuan daripada untuk menyalin. Setelah OHP, berkembang Slide Projector. Dengan Slide Projector kita bisa menunjukkan foto-foto. Tidak lama kemudian setelah itu ada video. Video pun masih dalam format Betamax. Video ditayangkan pada televisi tabung yang besar. Waktu itu, tahun 1995, saya menjadi PD I. Dalam bidang teknik, melalui video, kita bisa memperlihatkan proses konstruksi, proses campuran beton dll. Tentu untuk bidang lain juga pasti ada gunanya. Setelah itu berkembang proyektor untuk menampilkan buku, laptop, dan LCD projector. Waktu itu belum tiap ruangan tersedia LCD projector  karena harganya mahal sekali. Saat ini, dengan adanya laptop dan LCD projector, kita tidak hanya bisa menampilkan teks (melalui aplikasi power point, dll) tapi juga bisa menampilkan gambar, video yang sangat membantu proses pembelajaran.

Dengan demikian, apa peran penting media dalam proses pembelajaran?

Media pembelajaran jelas menjadikan proses -proses pembelajaran jauh lebh baik. Dengan media pembelajaran ini kita bisa menampilkan teks photo, bagan, tabel, audio-video, dll. Referensi materi juga tidak hanya terpaku pada buku (textbook/hardcopy) tapi juga bisa dari internet yang sangat kaya sumbernya (website, wikipedia, youtube, jurnal, dll). Dengan menggunakan media pembelajaran terkini (multimedia), mahasiwa dapat memahami materi dengan lebih mudah, lebih cepat, lebih komprehensif, dan lebih menarik. Contohnya, penggunaan video dalam bidang teknik. melalui video animasi arsitektur kita bisa masuk dalam ruang-ruang secara tiga dimensi bahkan dengan teknik tertentu bisa menampilkan efek bayangan. Hal ini tentu tidak bisa dilakukan kalau hanya mengandalkan textbook. Untuk referensi materi khusus bidang saya, misalnya, saya bisa akses website Civil Engineering Association dan American Institute of Steel Construction (AISC), dll. Jadi, kita sangat tertolong dengan adanya media pembelajaran.

Tentunya, dosen juga dituntut untuk menguasai media pembelajaran tersebut!

Ya. Kalau dosen tidak bisa menguasai (catch of) teknologi media pembelajaran maka dosen akan kesulitan mengoptimalkan media tersebut dalam proses pembelajaran. Menjadi sulit bagi dosen untuk mengoptimalkan media dalam proses pembelajaran kalau dosen tidak bisa mengunduh file, tidak bisa membuat materi dengan menggunakan aplikasi Power Point, dll. Perkuliahan bisa berdurasi sampai 3 jam pelajaran (3 sks). Tidak mudah untuk mengkondisikan mahasiswa memperhatikan kita dengan baik. Oleh karena itu, terkait dengan aplikasi Power Point, dosen harus membuatnya menarik. Materi pada Power Point bisa kita lengkapi atau perkaya dengan photo, video, audio, bagan, tabel, dll. Tampilan Power Point jangan hanya hitam putih. Kita buat colorful. Tentunya colorful yang bermanfaat; misalnya untuk memberi highlight, dll. Terkait dengan pemahaman kita tahu bahwa  dengan hanya mendengar kita mendapatkan sedikit tapi dengan mendengar dan melakukan maka pemahamannya akan meningkat apalagi kalau mendapatkan feedback. Selain dituntut untuk mampu merancang media pembelajaran baik, tentunya dosen juga dituntut mampu mengkomunikasikannya dengan baik. Ingat media pembelajaran tidak bisa serta-merta menggantikan dosen. Bagaimanapun dosen yang mengendalikan proses pembelajaran. Tidak bisa dosen datang ke kelas menayangkan video, kemudian dosen diam begitu saja. Saya sangat setuju dengan proses pembelajaran yang berpusat pada student (Student Center Learning). Dalam Student Center Learning terjadi komunikasi dua arah. Sekarang ini banyak mahasiswa yang malu bertanya atau takut bertanya. Kita harus membuat mereka bertanya. Caranya: ya tanya mereka! Kita harus menghidupkan mereka. Kita seharushnya terarah pada proses pembelajaran yang berbasis kompetensi. Apa yang menjadi capaian pembelajarannya? Jadi, metode pembelajaran (buku, jurnal, internet, dll) hanyalah tools untuk mencapai tujuan proses pembelajaran.

Menurut Bapak, apakah saat ini UNPAR sudah tanggap terhadap perkembangan teknologi media pembelajaran?

UNPAR sudah sangat concern dan sudah  mengantisipasi perkembangan teknologi media pembelajaran. Internet, misalnya. Dulu, waktu pertama kali ada di UNPAR, internetnya very slow. Sekarang internet sudah sangat kencang. Coba bayangkan kalau UNPAR tidak memiliki jaringan internet? UNPAR mau jadi apa? Sekarang di setiap ruangan sudah ada LCD. UNPAR juga sudah mengembangkan proses pembelajaran berbasis e-learning. Jadi dilihat dari fasilitas media pembelajaran, UNPAR sudah sangat concern.

Menurut Bapak, apakah media pembelajaran bisa menjadi sarana untuk menanamkan values dalam proses pembelajaran?

Penanaman values dalam proses pembelajaran pertama-tama ada di tangan dosen; bukan pada medianya. Seperti orang tua yang hendak mendidik anak-anaknya. Jangan sampai terjadi: orang tua mengajarkan anaka jangan suka berbohong tapi orang tuanya malah berbohong. Anak akan belajar dari contoh. Jadi, penanaman values dalam proses pembelajaran akan kembali ke keteladanan dosen. Misalnya, mahasiswa diminta tidak telat tapi dosennya yang telat; mahasiswa diminta tidak mencontek tapi dosennya malah plagiat. Kita tidak bisa seperti ini, Ingat, apa pun proses pembelajarannya kita jangan lupa dengan values yang akan disampaikan. Itulah yang kita cari di UNPAR.

(Pewawancara: Hendrikus Endar dan Maria Ulfah)