Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 03 Edisi Mei-Juni 2014 / “PJJ” yang Feasible bagi UNPAR: Sebuah Sharing

“PJJ” yang Feasible bagi UNPAR: Sebuah Sharing

Dr. Veronica Sri Moertini, Ir., M.T.
(Dosen Program Studi Teknik Informatika)

Dr. Veronica Sri Moertini, Ir., M.T.

Pada akhir tahun 2012 sampai dengan awal 2013 saya menjadi anggota Tim PJJ UNPAR yang menyiapkan materi PJJ bagi Universitas De la Salle di Manado. Sebagai calon dosen PJJ, saya mendapatkan arahan dan tips dari dosen yang sudah berpengalaman. Materi PJJ antara lain harus tidak membosankan, sederhana, singkat, “mengalir”, dan rich media content. Berdasar pedoman ini,   selama lebih dari dua minggu, dengan “jungkir-balik” dan memakai beberapa perangkat lunak aplikasi, saya menyiapkan materi pertemuan pertama, hanya untuk mendapati bahwa akhirnya materi tersebut nyaris tidak memenuhi satu kriteria pun. Betapa sulitnya menyusun materi PJJ! Maka saya menganggap bahwa saya tidak mampu mengajar PJJ dan hanya mampu untuk menjadi “dosen tradisional” di kelas.

Namun, sebagaimana kita ketahui, PJJ sudah menjadi kebutuhan di dunia pendidikan tinggi, sehingga kemungkinan dosen tidak dapat “menjauhkan diri” dari PJJ. Pada awal tahun ini, saya mendapat tawaran dari Kaprodi S2 Informatika di universitas yang dimiliki perusahaan telekomunikasi ternama di Indonesia, untuk mengajar kelas “PJJ”. Prodi S2 tersebut belum memiliki ijin untuk menyelenggarakan PJJ (yang sebenarnya), namun karena ada kebutuhan (yang besar) untuk meningkatkan pendidikan para pegawai yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia, prodi Informatika menyiasatinya dengan membuka “PJJ”, dimana “pembelajaran tatap muka” tetap dilaksanakan tapi dengan bantuan sistem PJJ. Tawaran saya terima karena saya tetap akan menjadi “dosen tradisional” saja. Selain itu, saya juga ingin mendapatkan pengalaman memanfaatkan sarana PJJ yang, saya pikir, pastinya oke karena disiapkan oleh perusahaan telekomunikasi terkenal.

Setelah “PJJ” saya jalani sampai dengan menjelang akhir semester, saya dapati bahwa “PJJ” berlangsung cukup baik dengan hasil yang cukup baik pula. Terpikir lah oleh saya bahwa UNPAR mungkin juga untuk menyelenggarakan “PJJ” serupa ini. Karena itu, saya ingin berbagi disini.

Infrastruktur “PJJ”: Dengan memanfaatkan Vmeet Learning Management System. Pada sisi server/komputer yang digunakan oleh dosen, sistem ini mengintegrasikan kamera, microphone, speaker, papan tulis interaktif, perangkat lunak manajemen konten pembelajaran dan komunikasi interaktif antara pengajar dan peserta (secara tertulis maupun lisan). Para peserta memanfaatkan komputer client di tempat masing-masing (rumah atau kantor), dimana mereka dapat mengikuti perkuliahan secara interaktif . Komputer server dan client, terkoneksi via internet.

Cara pembelajaran di kelas “PJJ”:

    • Pada awalnya dosen dan setiap peserta melakukan “sign on” pada Vmeet. Lalu, dosen memaparkan materi secara “biasa” (seperti mengajar di kelas) dengan menghadap ke layar monitor yang menampilkan slide dan/atau materi lain. Pada setiap saat, peserta dapat melakukan interupsi untuk mengajukan pertanyaan. Peserta dapat juga diminta untuk mempresentasikan tugas dengan memanfaatkan slide atau file, dimana presentasi dapat diikuti oleh dosen dan seluruh peserta. Baik dosen maupun peserta lain dapat memberikan umpan-balik.
    • Pada setiap perkuliahan, dosen didampingi (benar-benar didampingi)oleh seorang teknisi yang sudah menguasai pemanfaatan seluruh sistem. Maka, jika ada kesulitan teknis apa pun, teknisi selalu membantu. Dosen dapat fokus ke mengajar saja.
    • Seluruh perkuliahan direkam. Oleh teknisi, video kemudian dipecah-pecah agar ukuran kecil-kecil, lalu bersama dengan materi perkuliahan yang lain, diunggah ke e-Learning. Dengan demikian peserta yang “tidak masuk” dapat mengunduh dan memutar video perkuliahan.

Metodologi ajar: Sebelum pembelajaran online, para peserta wajib hadir secara fisik di Bandung selama empat hari saja.  Pada waktu tersebut diselenggarakan pelatihan dan uji-coba pemanfaatan Vmeet dan diadakan pertemuan tatap muka “di darat” sebanyak 4 kali pada 4 hari berturut-turut. Selanjutnya, pertemuan diadakan online via sistem Vmeet. 

Adapun metodologi ajar yang saya rancang dan terapkan adalah sbb:

    • Pada slide: selain materi kuliah juga saya cantumkan petunjuk detil tentang dimana materi yang lebih detil dapat ditemukan (untuk buku, terdapat halaman berapa).
    • Untuk setiap tugas, dibuat template laporan dengan petunjuk yang (sangat) detil.
    • Setelah mengerjakan tugas, peserta diminta presentasi.  Umpan balik diberikan untuk memperbaiki tugas. Jika didapati bahwa para peserta mengerjakan tugas dengan salah, penjelasan materi saya ulangi dengan memberikan penekanan tertentu. Dengan demikian, sebuah tugas dikerjakan dalam 2-3 siklus.

Dengan menerapkan metodologi tersebut, secara umum pada akhirnya tugas-tugas terkerjakan dengan baik yang mengindikasikan bahwa para peserta telah memahami materi dengan cukup baik.

Untuk “PJJ” yang hanya membutuhkan “dosendosen tradisional” seperti itu, semestinya UNPAR juga dapat menyelenggarakannya. Namun, karena bagaimana pun “PJJ” menuntut  peserta yang memiliki kemandirian yang memadai, program dapat dimulai untuk S2 dan  S3 dulu. Dengan demikian, UNPAR dapat menyelenggarakan pendidikan S2 dan S3 bagi mahasiswa di seluruh wilayah Indonesia atau bahkan manca-negara.