Pembelajaran yang Mengubah

Mangadar Situmorang, Ph.D.
(Dosen Program Studi Hubungan Internasional)

mangadar situmorang

“Pembelajaran yang Mengubah”, sebuah judul dan frase yang menggugah sekaligus menantang untuk ditanggapi serius. Judul ini menggiring pada kesadaran pertama, yang kadang pudar, bahwa pembelajaran berlangsung sepanjang hayat. Pembelajaran tidak pernah berhenti, kecuali oleh sang waktu, yaitu sebelum kelahiran dan sesudah kematian. Pembelajaran tidak terbatas pada ruang-ruang kelas, gedung-gedung fakultas, atau kompleks universitas bernama kampus. Pembelajaran juga tidak ditentukan oleh kurikulum yang hebat dan standadisasi yang tinggi. Ia juga tidak berhenti pada terminal-terminal pendidikan dasar, menengah, dan tinggi.

Kesadaran kedua, yang juga kerap terabaikan, yakni bahwa substansi dan tujuan pembelajaran adalah peningkatan pengetahuan, pematangan diri, dan penyempurnaan hidup. Jika pengetahuan atau ilmu yang menjadi kata kunci dari pendidikan atau pembelajaran, maka pembelajaran sejatinyaadalah rangkaian aktivitas tentang cara memperoleh pengetahuan, memaknai dan memanfaatkan pengetahuan itu sendiri.

Kesadaran ketiga yang penting adalah bahwa pembelajaran merupakan proses interaktif dan dialogis. Padanya berlangsung hubungan antara subjek (yang belajar) dengan objek (yang dipelajari). Dan yang tidak kalah penting adalah hubungan antara yang belajar dan yang mengajar dengan peran yang saling bertukar. Pembelajaran, dengan demikian, merupakan interaksi antarsubjek.

Oleh karena itu, preposisi utama yang ingin digarisbawahi disini adalah bahwa “pembelajaran yang mengubah” ditentukan oleh (1) bagaimana hubungan antara subjek dan objek serta (2) bagaimana hubungan antara subjek dengan subjek lainnya berlangsung. Objek yang dipelajari dalam kegiatan pembelajaran pada hakikatnya adalah kebenaran ilmiah, atau secara singkat disebut ilmu, mengenai sesuatu, sejumlah, atau seluruh alam semesta (universe). ini tidak harus dibenturkan pada dikotomi natural science dan sosial science. Sebab, sesuatu yang disebut ilmu atau ilmiah lebih ditentukan oleh cara atau metode yang diakui oleh otoritas keilmuan.

“Kebenaran-kebenaran ilmiah yang dapat mengubah” mencakup kebenaran faktual dan empirik. Tetapi juga bisa merupakan hal yang konseptual, teoretis, dan hipothesis. Yang em-pirik merupakan hasil dari pengujian dengan cara mengendalikan faktor-faktor (atau variabel-variabel) tertentu yang selanjutnya menghasilkan kepastian. Sedangkan kebenaran teoretis mengandung logika-logika berpikir yang bisa dipertanggungjawabkan dan diterima akal sehat masyarakat walau masih memerlukan pengujian dan pengujian. Jika eksperimentasi, regularitas, kepastian, dan universalitas lebih sering dikenakan pada ilmu-ilmu eksakta, hal itu tidak mengurangi kadar kebenaran ilmiah dari ilmu-ilmu sosial. Sebab, kaidah-kaidah ilmiah semacam itu juga ditempuh. Kelebihan, jika bukan kekurangan, ilmu-ilmu sosial adalah bahwa kebenarannya yang pasti tidak selalu berlaku universal. Dua jenis kebenaran ilmiah semacam itu telah membawa perubahan sikap dan perilaku manusia secara global. Yang pertama adalah mereka yang memiliki kepercayaan diri yang sangat tinggi atas kebenaran yang pasti dimilikinya. Sisi baik dari sikap seperti ini adalah pentingnya bukti dan keterukuran. Lebih jauh lagi adalah keinginan yang kuat untuk mencari dan mencari kebenaran-kebenaran baru. Sisi negatif dari kepercayaan diri yang berlebihan adalah munculnya fundamentalisme dan rendahnya toleransi. Kelompok sikap dan perilaku kedua adalah mereka yang juga positivis tetapi sangat terbuka dan toleran terhadap hukum ke(tidak)pastian. Pelajaran penting dari pembicaraan tentang kebenaran seperti itu adalah adanya pengakuan bahwa kebenaran, termasuk kebenaran ilmiah, itu tersebar, berubah, dan berkembang.

“Pembelajaran yang mengubah” juga amat ditentukan oleh hubungan antar-subjek. Pencarian kebenaran (ilmiah) pada hakikatnya adalah proses saling belajar antara yang mengajar (dosen) dan yang belajar (mahasiswa). Sebuah proses dialogis yang saling mendengar, memberi dan menerima; bukan proses untuk mencari siapa yang salah dan siapa yang benar; bukan proses yang saling menegasikan; tetapi yang saling memperkaya. Bersamaan dengan itu pula adalah sikap saling membutuhkan satu sama lain. oleh karena itu, proses pembelajaran adalah interaksi yang menampilkan rasa hormat dan saling menghargai. Dengan paparan yang lebih lugas bisa dikatakan bahwa seseorang (mahasiswa) bisa berubah bukan karena kebenaran ilmiah yang disampaikan oleh orang lain (dosen), tetapi lebih karena cara (dosen) menyampaikan, metode dan media yang digunakan, serta yang lebih penting lagi adalah sikap yang ditampilkan. Dosen tidak hanya menyemangati (encouraging), mengilhami (inspiring), tetapi juga menunjukkan rasa hormat kepada para mahasiswa. Pembelajaran yang berpusat pada pencarian kebenaran-kebenaran ilmiah dan bertumpu pada sikap saling menghormati pada gilirannya akan membawa perubahan besar, yaitu berupa kebaikan diri sendiri (berkembangnya sikap positif dan toleran di kalangan mahasiswa dan dosen) dan kebaikan bersama (karena ilmu yang diperoleh digunakan untuk kemajuan umat manusia dan alam semesta).

** Tulisan ini merupakan refleksi penulis terhadap pengalaman dan pengamatan terhadap pelaksanaan pendidikan selama lebih dari 20 tahun di UNPAR. Tidak ada referensi buku teks, pun hasil survey yang reliabel, yang digunakan untuk membenarkan atau mendukung pemikiran yang dituangkan.