Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 01 Nomor 02 Edisi November 2013 (ISSN: 2339-0910) / Perubahan Teknologi Tantangan Pop Culture Perguruan Tinggi

Perubahan Teknologi Tantangan Pop Culture Perguruan Tinggi

Albertus Sophan Ajie Setiarmo, SS.
(Dosen Matakuliah Estetika)

Sophan AjieManusia modern yang diindentikan dengan kaum urban saat ini sedang terlena denganeuforia kemajuan pesat, salah satu pilar besar penyokong keberadaban manusia, yaitu teknologi.   Secara berkala, semua orang beramai-ramai memperbarui kemampuan mereka dalam menerapkan bantuan teknologi untuk kehidupan sehari-hari. Sebab, keterlambatan memperbarui penerapan teknologi akan menimbulkan masalah cukup serius dalam kelancaran manusia berdinamika dalam realitas sehari-hari. Kecenderungan takut terasing diantara sesama, kehilangan up date informasi, dan kegelisahan keterbatasan sumber pengetahuan, menghantui manusia apabila terlambatmelek teknologi. Maka, kaum muda sebagai ikon manusia enerjik dan cinta pada inovasi-inovasi adalah kelompok yang berusaha untuk tetap terikat mengeksistensikan dirinya melalui peningkatanketerampilan memanfaatkan kecanggihan teknologi. Inilah yang disebut kaum muda modern saat ini yaitu, kaum muda yang memiliki mental quick respon pada teknologi.

Teknologi pada pun menjadi gaya hidup dan simbol diri yang menyiratkan siapa penggunanya. Pengguna produk Steve Job atau Bill Gate akan memiliki gengsi dan maknanya masing-masing di tengah masyarakat, sebab melalui kedua jenis produk tersebut (entah disadari atau tidak) ada pencintraan yang dimunculkan oleh publik berkaitan dengan seseorang menggunakan produk siapa.Tidak heran bila Apple dan Microsoft terus berinovasi dan membuat trend-trend yang diharapkan menarik banyak peminat untuk ikut serta dalam life stylebaru yang mereka tawarkan. Persoalan life styletanpa disengaja memberikan pengaruh besar pada iklim pendidikan pada umumnya, yaitu pendidikan modern adalah pendidikan yang sepatutnya paham teknologi termuktakhir, serta mampu mengaplikasikannya ke dalam setiap unsur internal lingkungan pendidikan tersebut.Teknologi pun menjadi media populer kenyataan manusia sehari-hari atau Raymond Williams membahasakan situasi seperti ini sebagai wujud pop culture, yaitu suatu proses umum perkembangan karya intelektual, spiritualitas, dan estetika yang mengacu pada hubungan banyak disiplin yang berada di antara masyarakat dan memberi minat besar (trend) bagi publik.

Salah satu praktek pop culture yang memanfaatkan kecanggihan teknologi dalam dunia perguruan tinggi adalah dosen harus memberikan presentasi dalam bentuk power point atau film jika ingin menarik perhatian mahasiswa. Dosen-dosen yang hanya berorasi tanpa melibatkan teknologi audio visual akan semakin ditinggalkan mahasiswa, meskipun dosen tersebut pandai dalam membawa suasana dengan gaya mengajar yang interaktif. Maka, ada realita baru, bahwa dosen harus memiliki instrumen teknologi mumpuni untuk membantu mengajarnya.

Ironisnya ada momentum ketikadunia pendidikan modern terjepit oleh kondisimelek teknologi dalam kegiatan belajar mengajar. Piranti audio visual dianggap terlalu menyempitkan  ‘imajinasi organik’ pikiran manusia, yaitu imajinasi yang dilahirkan tanpa kehadiran rangsangan visual atau audio tertentu (imajinasi organik cenderung tumbuh liar, seperti seseorang membaca novel yang hanya dipenuhi oleh teks-teks tanpa gambar), sebab cenderung memberikan stimulan teknis yang harus konkret dan terukur sehingga persoalan bagaimana mahasiswa dapat memahami konsep keindahan menjadi sia-sia, jika tidak ada wujud keindahan itu sendiri?

Kebiasaan menerapkan perkuliahan dengan audio visual, memang sangat membantu materi mudah dimengerti oleh mahasiswa dan tugas dosen pun menjadi lebih ringan, sebab data power point materi perkuliahan bisa digunakan untuk perkuliahan yang sama dilain waktu. Kondisi ini lambat laun akan mereduksi kemampuan mahasiswa dan dosen dalam menciptakan konsep berpikir kritis dan karya kreatif. Contoh lain, kemudahan Google memberikan akses informasi membawa dampak minimnya pengunjung perpustakaan kampus. Perpustakaan hanya diisi oleh segelintir mahasiswa tingkat akhir yang sedang menyelesaikan skripsi, mungkin karena ada aturan akademik yang mengharapkan mahasiswa-mahasiswa tersebut memiliki buku fisik sebagai sumber informasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Tetapi, seiring berkembangnya kebijakan kampus tentang tata cara penulisan, aturan tentang sumber data digital pun mulai diberika toleransi. Maka, Google pun menjadi perpustakaan digital yang mudah, ‘mungkin tepat’, dan menjadi pilihan cepat pencari sumber informasi. Perpustakaan pun semakin sepi dan lebih cepat tutup dari seharusnya karena pengunjungnya menyusut.

Kehadiran pemanfaatan teknologi sebagai pilar perubahan menuju kemajuan peradaban tentunya semakin hari semakin terasa di dunia akademik. Teknologi menjadi sangat adaptiveuntukdikombinasikan dengan sistem pendidikan yang sangat ketat yang akanselalu menjaga nilai keilmiahannya. Perubahan dari kecanggihan teknologi sepatutnya menjadi jawaban bagi kemajuan pendidikan, bukan menjadi masalah dalam pendidikan sehingga teknologi yang menguasai sistem dan manusianya. Melainkan, sistem dan manusia di dalamnya harus tetap menguasai teknologi, menjadi tuan yang menentukan teknologi. Maka, mentalitas akademik harus kuat dan prima dalam mengikuti perkembangan teknologi yang sangat dinamis, agar tidak terbawa menjadi hambanya.