Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 01 Nomor 02 Edisi November 2013 (ISSN: 2339-0910) / Wawancara dengan Dr. A. Koesdarminta: Ilmu, demi Kebahagiaan Orang Indonesia

Wawancara dengan Dr. A. Koesdarminta: Ilmu, demi Kebahagiaan Orang Indonesia

Perubahan adalah takdir yang menjadi peristiwa yang perlu terus dikisahkan. Kali ini Saňcaya menurunkan wawancara dengan Dr. A. Koesdarminta yang akrab disapa Pak Koes. Di temui di ruang kerja, gedung Biro Kemahasiswaan dan Alumni, Pak Koes dengan perlahan mengisahkan beberapa hal seputar pengalamannya berkarya di UNPAR. Beberapa bulan terakhir ini, kondisi Pak Koes mengalami penurunan, beberapa bulan lalu sang rektor kedua UNPAR ini setia berjalan kaki dari rumah ke kampus dan kampus ke rumah, kondisi tersebut tak memungkinkan saat ini. Pada edisi kedua ini Sañcaya mewawancarai Pak Koes, pribadi dengan dedikasi penuh kerendahan hati. Demikian petikan wawancara Sañcaya (S) dengan Pak Koes (K).

S: Apa Pak Koes, bisa menceritakan awal mula berkarya di UNPAR?

K: Saya mulai di UNPAR dari yayasan tahun 1958, jadi sesungguhnya tidak begitu banyak mengetahui persis yang terjadi di Universitas selain itu ada beberapa hal yang lupa.

Kalau di yayasan kami ada lima orang, anehnya mereka menyerahkan tugas ketua itu pada saya. Saat itu di yayasan, saya bekerja dipimpin oleh Pastor Duijnhoven, OSC. Kami rapat dua hari sekali dan seminggu sekali ketemu Mgr. Arntz, OSC. Kami bekerja untuk Gereja, keuskupan, begitu pikiran kami waktu itu.

S: Bagaimana pandangan Pak Koes, dengan kerjasama di awal UNPAR tersebut?

K: Kerjasama dengan Mgr. Arntz, Pastor Duijnhoven dan Mgr. Geise sangat menyenangkan hidup saya. Mgr. Arntz juga memperhatikan perkembangan ilmu, diantaranya dengan memberi brosur-brosur perkembangan dunia ilmu pengetahuan.

S: Bagaimana situasi ketika Pak Koes menjadi rektor?Dr. A. Koesdarminta

K: Pertama, saya harus mengakui bahwa saya tidak mengerti nama universitas katolik. Apa artinya itu? Karena saya tidak tahu, maka saya mengundang 3 orang untuk memberi masukan kepada saya. Pertama, Prof. Jansen, ekonom Jesuit; Kedua, Prof. Bertholete, seorang awam guru besar ilmu sosial di Tilburg dan ketiga, Prof. Pepersak, OFM, ahli hukum dari Nijmeggen. Ada banyak masukan, tetapi satu hal yang coba saya terjemahkan masukan tentang “kurangilah kuliah dengar”. Nasihat ini coba saya terjemahkan terutama kepada para dosen. Saya ingin supaya para dosen sebelum kuliah sungguh-sungguh mempersiapkan diri dengan baik, sudah belajar. Untuk itu, saya meminta para dosen menulis di transparency yang akan ditampilkan di OHP. Saya juga menugaskan Pak Parjan dari administrasi rektorat agar mengumpulkan tulisan-tulisan tersebut ke rektorat. Saya juga ingin agar semua dosen membuat pertanyaan kepada mahasiswa mengenai kuliahnya. Demikian juga mahasiswa bertanya kepada dosen. Dengan demikian di kelas sungguh terjadi sebuah diskusi yang hidup. Jadi, kuliah tidak hanya mendengar saja.

S: Bagaimana persiapan pendidikan untuk para dosen?

K: Kita ingin membentuk kader ke luar negeri, untuk itu mereka harus pandai bahasa Inggris. Saat itu diadakan persiapan kursus bahasa Inggris ke ITB untuk yang akan berangkat. Tetapi kemudian, munculnya para suster Maryknoll sangat membantu persiapan ini. Saat itu kita terus mengirim mahasiswa melalui kedutaan Amerika Serikat, selain itu juga ke Leuven. Bahkan program ini masuk dalam buku birunya Bapenas kerja sama G to G (Government to Government)

S: Di tengah perubahan yang merupakan keniscayaan, menurut Pak Koes, apa tantangan UNPAR saat ini?

K: Mgr. Geise menulis A social change is a medium through which God act to awaken the world anew. Mgr. Geise lebih mengarahkan pada mendidik a learn technocrat yang sekaligus juga mengakar pada budaya setempat. Dengan demikian dialog bisa terjadi dengan lebih hidup. Perguruan tinggi harus mempunyai karakter. Dulu, ada Pak Poespo yang mengajar mata kuliah-mata kuliah filsafat. Meskipun itu sulit, begitu berita yang sering saya dengar, tetapi mata kuliah-mata kuliah itu sungguh berkesan di antara mahasiswa dan menjadi salah satu ciri khas UNPAR.

S: Apa harapan Pak Koes terhadap UNPAR?

K: Saya tidak terlalu berani bicara hal ini, namun sepengetahuan saya, tahun yang lalu UNPAR bercita-cita menjadi Universitas yang go international. Saya condong untuk tidak usah tenggelam dalam slogan ini, tetapi juga harus fokus pada nilai-nilai/hal-hal yang khas Indonesia. Contoh Universita Tokyo terkenal sekaligus sungguh mengakar dan menjawabi kebutuhan masyarakat lokal dalam hal ini Jepang. Demikian juga UNPAR perlu mengakar sekaligus bisa menjawab kebutuhan masyarakat Indonesia pada umumnya dan Jawa Barat pada khususnya. Sehingga bagi saya ilmu itu pertama-tama dibaktikan untuk membahagiakan orang Indonesia.

(Pewawancara: Andreas Doweng Bolo, SS., M.Hum)