Sañcaya

Dr. Stephanus Djunatan
(Dosen MKU)

Stephanus DjunatanPengasuh Buletin yang sedang anda baca ini memilih kata Sañcaya sebagai nama. Bukannya tanpa alasan nama ini dipilih. Nama itu pun bukan pula sesuatu yang tak Anda kenal di UNPAR. Nama Sañcaya diambil dari sesanti UNPAR: Bakuning Hyang Santjaja Bhakti. Santjaja di sesanti kita ini ditulis dalam ejaan lama. Huruf ‘tj’ dalam ejaan lama Bahasa Indonesia sama dengan huruf ‘c’ dalam Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Huruf ‘j’ dalam ejaan lama sekarang menjadi ‘y’ dalam ejaan baru. Demikianlah ‘Santjaja’ dilafalkan ‘Sancaya’ menurut EYD. Nama Sañcaya dipilih bukannya tanpa arti. Kata ini berasal dari bahasa Sansekerta dan Kawi. Santjaya atau Sañcaya menurut Bahasa Sansekerta mengacu pada arti ‘tugas profesional’. Konteks makna Sañcaya sebagai ‘tugas profesional’ berasal dari Kitab Veda, buku Srimad-Bhagavatam (Bhagava Purana), Kidung 3, Bab 12, Ayat 42 (lih. http://vedabase.net/sb/3/12/42). Terjemahan teks tersebut dalam bahasa Inggris adalah sebagai berikut.

“Then the thread ceremony for the twice-born was inaugurated, as were the rules to be followed for at least one year after acceptance of the Vedas, rules for observing complete abstinence from sex life, vocations in terms of Vedic injuctions, various professional duties (Sañcaya- penulis) in household life, and the method of maintaining a livelihood without any one’s cooperation by picking up rejected grains.

Jika kita membacanya dalam terjemahan bahasa Indonesia, teks di atas berbunyi:

“Kemudian rangkaian upacara untuk kelahiran kedua dikukuhkan, seperti aturan harus diikuti untuk minimal satu tahun setelah menerima Veda, aturan-aturan untuk menjalani pantang dari kehidupan seks; (sesuai dengan penulis) panggilan menurut nasihat/perintah Veda, (menjalankan penulis) berbagai macam tugas profesional dalam kehidupan keluarga, dan metode untuk memelihara kehidupan sendiri tanpa mengandalkan bantuan orang lain dengan cara memungut bulir-bulir yang terbuang”.

Seorang calon pandita Hindu atau brahmacari harus menjalani baik tahap pendidikan dasar maupun lanjutan. Pendidikan dasar tersebut dirancang sedemikian rupa sehingga seorang calon pandita bisa hidup mandiri. Pada saatnya, seorang calon pandita akan mengalami tes akhir. Calon yang tidak lulus dan tidak bisa menerima sumpah diijinkan untuk pulang dan menikahi seorang istri. Murid yang lulus akan menjadi brahmacari yang menjalani hidup selibat secara tetap. Seorang Brahmacariyang selibat harus memenuhi kebutuhan hidupnya sendiri tanpa mengandalkan sumbangan orang lain. Ia pun dituntut menjalankan tugas-tugas profesionalnya sebagai pandita.

Sementara itu dalam Bahasa Kawi, Sañcaya memiliki konotasi khusus. Dalam Kamus Kawi, kata Sañcaya berpadanan dengan ‘pergaulan, keterlibatan dalam lingkungan sosial’. Dalam hal ini, Sañcaya merujuk pada kepedulian dan keterlibatan, partisipasi aktif untuk berbuat sesuatu bagi lingkungan hidup. Tentu saja, keterlibatan dan partisipasi itu diwujudkan melalui profesi atau hasil pembelajaran ilmu kehidupan.

Baik pemaknaan Sañcaya menurut Bahasa Sansekerta maupun Bahasa Kawi merujuk kepada beberapa hal. Pertama, Sañcaya berhubungan dengan proses pendidikan yang dilakukan seorang murid atau pembelajar sebagai sebuah tugas. Proses pembelajaran tersebut bertujuan melahirkan seorang yang memiliki profesi. Kita dapat menyebut profesi itu sebagai bagian inti dari kesarjanaan yang sudah kita capai melalui proses pendidikan di perguruan tinggi. Kedua, tugas profesional yang kita emban sebagai pendidik dan sarjana di perguruan tinggi tidak lepas dari keterlibatan di tengah-tengah masyarakat. Masyarakat di sinibisa berarti komunitas di luar perguruan tinggi. Bisa juga berarti komunitas pendidikan atau komunitas civitas akademik. Ketiga, Sañcaya sebagai tugas profesional dan kepedulian sosial mengingatkan kita akan pentingnya menjadi pribadi yang bijaksana. Semakin menjadi bijak, semakin kita peduli terhadap sesama dan lingkungan hidup.

Pusat Inovasi Pembelajaran, yang menerbitkan buletin ini, bermaksud mengundang sarjana dan pendidik di UNPAR untuk berbagi pengalaman tentang mendidik dan bertugas sebagai profesional di bidangnya masing-masing. Harapannya ialah civitas akademika di UNPAR bisa saling belajar dan mengembangkan diri sebagai pendidik dan sarjana. Diharapkan pula kita bisa saling mengasah diri agar menjadi pribadi yang bijaksana. Pribadi yang bijaksana disini mengarah pada kemampuan mewujudkan profesi sesuai dengan kode etik akademisi. Termasuk pula, bijaksana dalam arti tetap peduli pada persoalan sosial yang mewarnai civitas akademika dan masyarakat di sekitar kita.

Akhirnya, nama Sañcaya menjadi pengingat (reminder) bagi kita semua di UNPAR. Kita diingatkan untuk selalu bertekun dalam menjalankan tugas-tugas profesi kita: mendidik dan mengembangkan ilmu pengetahuan melalui penelitian dan kegiatan pengabdian kepada masyarakat. Buletin ini berfungsi sebagai reminder agar kita tidak berhenti bertumbuh dan saling menginspirasi dalam panggilan kita: pendidik dan sarjana.