Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 01 Edisi Januari 2014 / Pedagogi Reflektif di Tengah Derasnya Sekularisme

Pedagogi Reflektif di Tengah Derasnya Sekularisme

Andreas Doweng Bolo, SS., M.Hum.
(Dosen MKU)

Andreas DowengBila lembaga pendidikan masih memandang diri sebagai satu-satunya sumber informasi, itu isyarat ia tengah sekarat. Pernyataan itu kuat bergema dewasa ini di tengah teknologi yang kian canggih. Dunia kini dengan hingar-bingar lalu lintas teknologi yang dahsyat memudahkan manusia termasuk peserta didik mengakses informasi bertubi darimanapun. Bila abad ke-19 lembaga pendidikan masih cukup kukuh memandang diri sebagai sumber informasi, di akhir abad ke-20 dan di abad ke-21 ini kepercayaan diri ini telah gugur. Tebaran informasi yang tak terhingga membombardir manusia abad ini termasuk para pelajar dan mahasiswa. Informasi tersedia apa saja, apakah itu yang baik atau yang buruk. Ia tersedia bagi siapa saja, dimana saja, dan kapan saja. Tulisan kecil ini merupakan upaya menyarikan dan merefleksikan, seminar Pedagogi Reflektif yang disajikan oleh Bruder Yustinus Triyono, SJ bertempat di Mgr. Geise Lecture Theater-FISIP, 10 Desember 2013. Apakah kita terutama orang muda, para mahasiswa memiliki cukup kekuatan untuk menghadapi berbagai tawaran nilai dan gaya hidup? Atau hidup kita sekadar ikut arus semata?

Sekularisme

Kenikmatan menjadi rumus hidup dewasa ini, itu terlihat dalam nafsu belanja tak terkendali (konsumerisme). Masyarakat adalah pasar dan hidup dikendalikan oleh iklan. Keutamaan hidup menjadi bahan tertawaan. Segala yang berkaitan dengan keutamaan hidup, kerohanian ditolak, no miracles, no saints, no dogma, no religion, no God. Itulah mantra sekularisme yang merasuk dengan dasyat. Cuaca dunia ini berakibat pendangkalan hidup terutama di tiga bidang: berpikir, berperasaan, berelasi. Pertama, Pendangkalan berpikir terlihat dari kemalasan berpikir dimana manusia dewasa ini ingin solusi serba cepat tanpa memikirkan dampaknya. Selain itu, daya kritis berada dititik nol, karena kecenderungan mengikuti pola pikir mayoritas.  Akibatnya lahirlah generasi sekadar meniru dan mengatakan ulang dan tidak berpikir sendiri. Kedua, pendangkalan perasaan yang tercermin pada sikap masa bodoh dengan perasaan orang lain, escape mechanism, tidak berani menghadapi kenyataan sulit. Perasaan-perasaan seperti belas kasih, empati, saling menghargai “dinonaktifkan”. Situasi ini melahirkan dimensi ketiga, yaitu pendangkalan relasi. Konsekuensi logis dari situasi di atas adalah orang hidup tanpa komitmen atau takut berkomitmen, orang tak peduli dengan orang lain, tak mau bertanggungjawab. Manusia bukan lagi “guyub” dalam komunitas tetapi lebih sekadar “kerumunan”. Dan dalam kerumunan yang hingar-bingar itu orang merasa kesepian, terasing.

Manusia seutuhnya

Di tengah gempuran kenikmatan, lembaga pendidikan termasuk UNPAR mencoba merumuskan kembali kekayaan spirit dan nilai-nilai yang dimiliki, berdiri di atas keutamaan hidup merupakan sikap yang tepat. Paradigma Pedagogi Reflektif (PPR) merupakan sebuah upaya menghadapi tantangan dunia ini. Pedagogi reflektif menjawab konteks hidup orang muda dengan mengembangkan: competence (keunggulan akademik), compassion (berbelarasa, kasih) dan conscience (berkarakter, kebenaran). Pendidikan reflektif bertujuan membela iman dan menegakkan keadilan.

Pedagogi reflektif mengedepankan pendidikan manusia seutuhnya yaitu dalam bidang: budi, kehendak, rasa, ingatan, imaginasi, hasrat. Mendidik budi berarti melatih nalar menuju pemahaman yang mendalam, selain itu kemandirian berpikir atas dasar prinsip dan nilai yang benar. Nalar bagi pedagogi reflektif merupakan kekuatan untuk menelaah dan memahami realitas diri. Mendidik kehendak yaitu menanamkan kekuatan  menghendaki yang baik dan benar. Kehendak muncul setelah terjadi perpaduan antara dimensi kognitif dan afektif. Di bidang kognitif orang mengakui bahwa  perbedaan adalah keniscayaan. Sementara di bidang afektif muncul ketertarikan menghargai perbedaan. Dari sini lahir kehendak membangun kehidupan yang menghargai perbedaan. Dimensi berikut yaitu mendidik rasa agar menjadi peka dan compassion dengan yang menderita. Mendidik ingatan menjadi hal penting, karena didalamnya dihidupkan ingatan-ingatan bermakna untuk mengembangkan pengetahuan dan menumbuhkan hidup bijaksana. Mendidik imaginasi memungkinan pengembangan kemampuan berpikir kreatif. Mendidik hasrat yang membuat “kehendak” menjadi lebih menyenangkan, bukan sesuatu yang dipaksakan. Hasrat menciptakan keadilan, kedamaian dan kasih.

Akhirnya, Paradigma Pedagogi Reflektif menekankan pentingnya, pengalaman, refleksi, aksi, dengan menyertakan konteks pendidikan dan evaluasi. Pedagogi yang mengupayakan perkembangan manusia seutuhnya-man for others, kompeten dan murah hati dalam memperjuangkan hidup bersama yang adil, damai, dan kasih.