Pembelajaran Sebagai Sebuah Proses

Dr. Miryam Lilian Wijaya
(Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan)

Memunculkan kata “proses” membawa kita ke kerangka berpikir input – proses – output. Untuk proses pembelajaran, mahasiswa adalah salah satu input dan alumni adalah salah satu output. Itulah cara pandang saya selama tahun-tahun pertama menjadi dosen, sampai saya disadarkan bahwa cara pandang seperti itu menempatkan mahasiswa sebagai obyek yang seringkali menjadi pihak yang salah kalau output berupa alumni hebat tidak dihasilkan oleh proses. Saya berhutang maaf pada semua mahasiswa saya pada tahun-tahun pertama saya mengajar. Pengalaman menjadi mahasiswa yang paling tidak tahu apa-apa di kelas ketika saya melanjutkan studi telah memicu saya untuk melihat mahasiswa sebagai subyek pembelajaran.

Pembelajaran sebagai sebuah proses saya pahami melalui pengidentifikasian siapa (pelaku) melakukan apa (belajar apa) dimana (lingkungan belajar). Proses pembelajaran berlangsung pada setiap individu sejak usia dini. Proses pembelajaran harus dijalani sendiri oleh individu yang mau belajar, tidak dapat diwakilkan kepada orang lain, tapi dapat ditemani atau didampingi oleh orang lain. Dengan demikian, proses pembelajaran membuat semua pihak yang terlibat menjadi makin terpelajar. Proses pembelajaran adalah proses mengasah ketrampilan mental dan fisik, sehingga pengulangan (berlatih) dan pemantauan (pemberian masukan) perlu terus dilakukan selama proses pembelajaran. Karenanya proses pembelajaran perlu waktu (tidak bisa instant) dan motivasi (keinginan untuk tahu atau menjadi bisa). Hasil dari proses pembelajaran adalah individu dengan kemampuan belajar yang lebih tinggi.

Karena kemampuan belajar adalah hasil dari proses pembelajaran, maka proses pembelajaran tidak berhenti dengan berakhirnya semester atau selesainya penempuhan semua matakuliah dalam suatu kurikulum. Kemampuan belajar yang sudah ada akan membawa manusia kedalam proses pembelajaran sepanjang hayat. Dalam proses belajar sepanjang hayat ini, yang terjadi adalah penyeimbangan peran logika, ego dan emosi dalam berkata-kata, bersikap, dan berbuat. Peran logika yang membuat manusia menjadi tahu/mengerti, harus diimbangkan dengan peran ego yang meletakkan kepentingan diri dan kepentingan orang lain secara benar, dan dengan peran emosi yang memunculkan rasa bahagia dan damai.

Dalam lingkungan pendidikan tinggi, mahasiswa dan dosen (pelaku) mempelajari teori atau metode tertentu (belajar apa) dalam suasana kerja yang dimunculkan oleh sebuah komunitas akademik yang didukung kelengkapan sarana fisik/material (lingkungan belajar). Student-centered learning menekankan peran aktif mahasiswa sebagai pelaku pembelajaran. Kesungguhan mahasiswa untuk benar-benar mau belajar menjadi syarat yang perlu dan seringkali juga cukup (necessary and sufficient condition) untuk memunculkan hasil pembelajaran berupa kemampuan belajar. Mahasiswa yang sudah menjadi manusia pembelajar akan terus membangun kemampuan menalar (mampu menemukan kebenaran), kemampuan merasa (menyukai, mencintai, menghargai kebenaran dan kebaikan), dan kemampuan berkarya / berbuat (produktif bersama dan untuk orang banyak).

Implikasi lain dari pembelajaran sebagai proses adalah perlunya kita memahami kesaling-terkaitan antara tiga dharma perguruan tinggi: pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Ketentuan administrasi telah membuat setiap dharma terpisah satu dari yang lain, padahal proses pembelajaran dibangun dari semua unsur dharma perguruan tinggi. Setiap pelaku pembelajaran melakukan unsur meneliti dalam rangka mencari jawab atas pertanyaan yang muncul dibenaknya, melakukan unsur mendidik ketika pelaku pembelajaran menyampaikan hasil pencariannya kepada yang lain, melakukan unsur mengabdi kepada masyarakat ketika pelaku pembelajaran menggunakan pengetahuan dan ketrampilannya untuk membangun masyarakat.

Terakhir, tetapi sangat penting, semboyan Unpar Bakuning Hyang Mrih Guna Sancaya Bhakti dalam pandangan saya menjadi bermakna: setiap manusia ditugasi untuk menjadi manusia pembelajar, setiap manusia ditugasi untuk menggunakan hasil pembelajarannya guna kesejahteraan seluruh umat manusia. Setiap anggota sivitas akademik seharusnya dapat dipastikan adalah juga manusia pembelajar yang mampu menujukkan makin seimbangnya peran logika, ego, dan emosi dalam tutur kata dan perilaku kita sehari-hari.


Tulisan ini adalah rangkuman hasil belajar selama lebih dari 25 tahun untuk mengajar dan mendampingi mahasiswa di berbagai jenjang pendidikan tinggi. Banyak tulisan dan pembicaraan yang telah menjadi sumber inspirasi, namun tidak dapat saya temukan kembali untuk dapat dimunculkan sebagaimana layaknya. Mohon maaf untuk kepada semua pemilik atau pencetus ide.