Pendidikan yang Memerdekakan

Bartolomeus Samho, SS., M.Pd.
(Dosen MKU)

Bartolomeus SamhoJudul di atas mengisyaratkan proses transformasi dari keadaan konkret yang dehumanistik akibat memuaskan kehendak yang buta ke kondisi hidup yang humanum. Kehendak adalah potensi tanpa batas, sementara pemuasannya adalah terbatas. Visi dan misi pendidikan, bila kita lacak akar sejarahnya, justru demi “memerdekakan manusia” agar tidak terjebak dalam belenggu kehendak diri yang buta, pongah dan serakah.

Masyarakat kita rupanya relatif kuat dikuasai oleh kehendak yang buta. Tanda real-nya adalah fenomena kekerasan fisik dan verbal, tindakan brutal, anarkis, diskriminatif, tawuran antar-pelajar, konflik horizontal dan vertikal, sikap sektarian, fanatisme sempit, sikap primordial, sikap masa bodoh, mentalitas pragmatis dan koruptif yang begitu sistemik, amarah yang destruktif, dendam, iri, dengki, hidup yang terjebak dalam budaya konsumtif dan hedonis, dst. Rupanya perkembangan dunia pendidikan kita belum berjalan seiring dengan perkembangan mentalitas dan pengendalian diri. Anehnya, sebagian besar manusia yang terjebak (sebagai pelaku dan korban) dalam situasi demikian justru pernah mengalami proses pendidikan formal sampai pada level yang fantastis. Ironis memang, pendidikan yang seharusnya “memerdekakan manusia” dari segala kondisi yang dehumanistik (karena mengalami proses pengembangan kognisi, intuisi, afeksi, imajinasi, relasi, kreasi, sosial, dan spiritual), tapi dalam kenyataan-nya belumlah persis seperti itu.

Patut kita curigai bahwa akar persoalannya bukan sekadar pendidikan yang dominan kognitif, tapi ada sisi-sisi patologis tertentu yang bersarang dalam sistem pendidikan kita yang memang tidak disadari atau sulit dikenali sosok dan kepentingannya. Sistem pendidikan yang mementingkan intelektualitas sembari secara sadar meminggirkan pembentukan karakter akan melahirkan pribadi-pribadi yang pintar tapi egois, cerdas tapi tipis kesadaran moral, terampil tapi tanpa visi, dan kurang kooperatif. Bila demikian adanya, pendidikan yang idealnya untuk “memerdekakan manusia” seperti dipaparkan di atas memang terasa sulit didaratkan dalam kenyataan. Namun, kita tidak perlu terlampau berkecil hati. Masih ada peluang untuk berbenah diri. Mari kita menimba inspirasi dari sang maestro pendidikan kita Ki Hadjar Dewantara.

Esensi pendidikan menurut Ki Hadjar Dewantara adalah daya-upaya untuk “memerdekakan aspek lahiriah dan batiniah manusia”. Oleh karena itu, tujuan pendidikan adalah untuk membentuk para peserta didik menjadi pribadi-pribadi yang berbudi pekerti luhur. Dengan demikian, mereka mampu mengendalikan dorongan ego diri yang pongah dan serakah, mampu menolak segala godaan yang menjerumuskan kehidupan, dan senantiasa hidup secara beradab dalam realitas sosialnya. Itulah hidup yang berperikemanusiaan. Kedewasaan dalam karakter memapukan seseorang untuk hidup secara teratur dan tertib, termasuk tertibnya relasi dengan kemerdekaan orang lain.

Pribadi yang berkarakter dewasa menghayati hidupnya sebagai medan pembelajaran yang tak berkesudahan. Hidup adalah panggilan untuk bertumbuh menjadi pribadi yang rendah hati, murah hati, berjiwa inklusif, pemaaf, mampu menghargai sesama, tulus dan ikhlas dalam membantu orang lain, harmonis relasi dengan diri sendiri, sesama, dan lingkungan. Dalam perspektif religiusitas, manusia yang berkarakter dewasa itu menempatkan Allah di atas segala-segalanya dan mencintai sesama seperti mencintai diri sendiri. Lembaga pendidikan bertanggung jawab untuk membentuk para peserta didiknya menjadi pribadi-pribadi yang berkarakter dewasa sehingga mampu menghayati dan menjalani hidup secara bermakna. Dalam perspektif itu kiranya semboyan non scholaesed vitae discimus (pendidikan itu untuk hidup) sungguh layak kita refleksikan sebagai ajakan untuk hidup dalam kerangka makna positif.

Hanya manusia yang mau bertumbuh dalam kerangka makna yang positif yang sungguh mengalami transformasi diri. Itulah sebabnya, setiap insan terdidik penting dan perlu memaknai hidupnya dan membangun hidupnya secara bermakna bagi diri, sesama, dan lingkungan. Sokrates bahkan dengan tegas mengatakan bahwa, hidup yang tidak dimaknai adalah hidup yang tidak layak dihidupi. Pendidikan apapun pendekatan, metode, dan mazhabnya adalah upaya sadar dan sengaja dalam rangka memaknai hidup dalam arti memerdekakan manusia dari situasi hidup yang terpuruk menuju kondisi hidup yang humanum. Dalam konteks itu, para pendidik penting dan perlu menempa diri menjadi model dan teladan bagi para peserta didiknya untuk selalu bertumbuh dalam makna positif dan menjalani hidup secara humanum.