Pendidikan yang Mendewasakan

Prof BennyWawancara dengan Prof. Dr. B. Suprapto Brotosiswojo

Pendidikan merupakan sebuah Proses. Sañcaya kali ini mewawancarai Prof. Dr. B. Suprapto Brotosiswojo yang akarab disapa Pak Benny. Dengan pembawaan yang ramah, murah senyum, rendah hati, Pak Benny mensharingkan pendapat dan pengalamannya berkarya di UNPAR. Berikut ini petikan hasil wawancaranya.

Bagaimana awal karya Pak Benny di UNPAR?

Saya mulai berkarya di UNPAR tahun 1998 dengan menjabat ketua Yayasan UNPAR. Kemudian, permintaan Rektor UNPAR pada waktu, Pak A. P. Sugiharto, SH meminta saya menjadi rektor. Dengan menjadi rektor, tentunya saya harus resmi mengajar. Pada waktu itu saya minta supaya mengajarnya tidak terlalu banyak karena menjadi rektor itu banyak sekali problemnya.

Kondisi sosial seperti apa yang dihadapi UNPAR pada saat awal Pak Benny Menjabat sebagai Rektor?

Pada waktu itu ada eforia tentang pentingnya transparansi. Ini terkait erat dengan awal krisis besar yang dialami Bangsa Indonesia pada waktu itu. Persisnya adalah krisis pemerintahan. Ketika itu Suharto digulingkan dari jabatannya sebagai Presiden. Ada tuntutan transparansi dan keterbukaan dalam hal informasi dan komunikasi pada waktu itu. Namun, tuntutan transparansi biasanya disalah artikan. Transparansi Komunikasi itu bukan berarti semuanya terbuka. Transparansi itu memiliki dua sisi. Di satu sisi, transparansi itu bagus sekali karena semua jelas. Semua orang bisa tahu. Di sisi lain, transparansi bisa disalahgunakan karena, seperti hanya internet, tidak adanya sensor. Informasi negatif juga bisa masuk. Di sini yang dipentingkan adalah pendewasaan masyarakat.

Bagaimana dengan proses perkuliahan di UNPAR yang Pak Benny alami pada waktu itu?

Kalau saya bandingkan dengan proses perkuliahan saat saya studi di Amerika, saya merasa kita itu banyak sekali memberikan materi tapi tidak mendalam. Ketika saya belajar di Amerika, materi yang saya terima itu sedikit tapi mendalam. Jadi itu lebih penting sehingga mahasiswa mengerti. Oleh karena itu ada yang mengatakan bahwa kalau ingin melihat hasil sebuah pendidikan tunggu sampai sepuluh tahun setelah anak didik tamat; Apakah mereka masih ingat atau mengerti apa yang mereka dapatkan saat kuliah. Ini berarti teknik pengajaran yang baik sangat penting untuk diperhatikan. Oleh karena itu, ketika saya mengajar di UNPAR, kalau materi perkuliahan sudah diterima mahasiswa di SMU saya tidak mengulangnya karena bisa membosankan. Jadi, saya mengajarkan materi yang belum didapatkan oleh mahasiswa dengan teknik yang lebih sederhana. Sasarannya supaya mahasiswa mengerti secara mendalam. Kalau mereka mengerti akan dibawa seumur hidup. Mastery learning atau Belajar Tuntas itulah yang dipentingkan.

Menurut Pak benny, apakah terlalu banyak materi kuliah itu terkait dengan sistem SKS?

Sistem SKS itu meniru Amerika. Berbeda dengan cara Belanda. Di Belanda, kita sering kali bertemu dengan dosen. Dosen itu sibuk meneliti. Yang diajarkan adalah sesuatu dihasilkan dari penelitian. Mahasiswa, boleh dikatakan, menjalani ‘studi bebas’. Mereka boleh hadir-boleh tidak tapi ada ujian. Ujian ditujukan untuk menguji apakah mahasiswa itu layak menjadi sarjana atau tidak bukan apakah mahasiswa mengingat materi atau tidak. Pernah ada teman saya yang tidak pernah bolos kuliah. saat ujian teman saya ditanya oleh dosennya tentang materi tertentu dan menanggapinya dengan mengatakan bahwa materinya belum diajarkan. Dosennya menjawab, “Saya tidak menguji apakah anda tahu atau tidak sebuah materi tapi apakah anda layak atau tidak menjadi sarjana”. Karena itu proses pembelajarannya disebut ‘studi bebas’. Setelah tamat, di ijasahnya hanya dicantumkan: boleh menggunakan gelar sarjana. Jadi, spiritnya adalah: belajar itu ada challenge, suatu tantangan. Kalau saya mau masuk sebuah universitas dan menginginkan gelar sarjana harus melalui suatu tantangan.

Bagaimana dengan sistem SKS yang kita jalani yang merupakan tiruan dari Amerika?

Ada semangat yang berbeda. Mereka membedakan antara beban dengan kredit. Kredit adalah hasil yang nanti diketahui dan dipakai. Beban adalah pelajaran yang harus diikuti. Tidak semua pelajaran menjadi persyaratan atau memiliki nilai kredit. Salah satu spirit utamanya adalah mahasiswa harus bertanggung jawab dan komitmen dengan proses belajar yang ditempuhnya. Oleh karena itu mahasiswa tidak bisa begitu saja mengambil SKS yang banyak atau yang penting cepat selesai. Spirit ini belum sungguh ditiru.

sketsa

Lantas proses perkuliahan seperti apa yang kita tiru dengan menjalani sistem SKS yang kita jalani sekarang ini?

Model universitas kita itu meniru Eropa. Sayangnya yang kita tiru atau yang kita tangkap itu yang terlihat saja, yang tangible saja. Misalnya, terkait dengan universitas itu: ya ada dosen, guru, ada murid. Dosen atau guru berbicara (mengajar) dan murid mendengarkan, ada kelulusan dengan busana toga-nya, dll. Padahal bukan itu yang harusnya kita tiru. Itu semua hanya lambang-lambangnya saja. Yang harus ditiru adalah membantu mahasiswa mengerti dan mendewasakan mereka. Tentu ini membutuhkan proses dan kita harus sabar.

Mencermati kondisi tersebut apa harapan Bapak terhadap UNPAR terkait pentingnya proses pembelajaran dalam pendidikan?

Kita harus serius; baik itu tenaga pendidik maupun tenaga kependidikan. Kita harus membantu mahasiswa mengerti dan dewasa. Pendidikan merupakan Long Life Education.