Proses Pendidikan Demokratis

Maria Ulfah, S.H., M.Hum.
(Dosen Program Studi Ilmu Hukum)

Maria Ulfah

Proses pendidikan sebagai salah satu sarana untuk transfer of knowledge telah dilakukan sejak kita masih kecil. Proses pendidikan ini beragam, salah satunya adalah proses pendidikan di tingkat perguruan tinggi. Peserta didik yang dikenal sebagai dosen dan berproses di tingkat perguruan tinggi ini. Kita sebagai dosen pasti pernah mengalami situasi menjadi mahasiswa, namun mereka yang merupakan mahasiswa (nantinya menjadi alumni) belum tentu akan mengalami situasi menjadi dosen. Oleh karena itu, saling pengertian di antara keduanya mungkin tidak mudah terbangun.

Apabila mengingat proses pendidikan sebagai mahasiswa, perlu disadari bahwa itu bukan hal mudah untuk dijalani. Beragam situasi sangat berbeda ketika menjadi mahasiswa di tingkat perguruan tinggi daripada menjadi siswa di tingkat sekolah menengah. Mahasiswa dapat diartikan sebagai peserta didik yang tidak hanya sekadar menjadi pelajar, tetapi perlu menjadi dewasa dalam bersikap dan berpikir. Hal serupa juga terjadi dalam proses pendidikan bagi dosen. Dosen tidak sekadar mampu memberi materi mata kuliah saja, tetapi penting untuk mampu mendidik mahasiswa yang berkarakter lebih baik dengan penanaman beragam nilai kebaikan (misalnya adalah tanggung jawab, disiplin, keterbukaan, kejujuran, sikap transformatif, keberpihakan pada yang berkekurangan, dan nilai lainnya).

Pada proses pendidikan di atas, dosen dan mahasiswa tidak berhubungan seperti atasan dan bawahan, mereka berkedudukan seimbang dengan beragam hak dan kewajiban masing-masing. Keduanya diartikan sebagai pendidikan demokratis.

Pendidikan demokratis ini dapat dipahami sebagai adanya sikap saling bertoleransi, saling menghargai, saling menghormati, dan saling mengurangi keegoisan antara dosen dan mahasiswa demi tercapainya kepentingan bersama (yakni tercapainya knowledge dan nilai-nilai kebaikan, serta terciptanya kehidupan komunitas akademik humanum).

Proses pendidikan demokratis terwujud dengan adanya kebebasan bertanggung jawab. Maksud dari kebebasan tersebut adalah kebebasan yang menghormati dan memahami kebebasan di antara dosen dan mahasiswa dengan batasan tertentu yaitu hak dan kewajiban masing-masing. Contoh pertama adalah dosen dan/atau mahasiswa dapat mengungkapkan pendapatnya, tetapi perlu dipertimbangkan pula bahwa masih ada pemikiran dosen dan/atau mahasiswa lain yang berbeda dengan dirinya, sehingga dosen dan/atau mahasiswa tersebut mampu untuk tidak memaksakan pendapatnya serta mampu menghargai perbedaan-perbedaan yang datang dari setiap individu lain.

Contoh lain yang dapat memperlihatkan kebebasan di atas yakni mahasiswa memiliki hak untuk mendapatkan nilai bagus, namun diperlukan pemenuhan kewajiban yakni belajar dan bersikap lebih baik untuk mencapai hak tersebut. Begitu pun dengan dosen, berkewajiban untuk hadir dan memberi knowledge yang hendak dituju agar hak dari mahasiswa itu dapat terwujud dengan baik. Keduanya saling mempengaruhi, sehingga diperlukan komunikasi dan koordinasi yang baik di antara dosen dan mahasiswa tersebut. Adapun keterlibatan secara aktif satu sama lain dalam proses pendidikan ini menjadi penting untuk dilakukan.

Nuansa demokratis di atas, pada tingkat perguruan tinggi sebaiknya tidak hanya berlaku untuk dosen dan mahasiswa saja. Akan tetapi, perlu dijalin juga antar-dosen, antar-tenaga kependidikan, antar-mahasiswa, antar-ketiga pihak tesebut, serta tak lupa adalah antara para pihak tersebut dengan anggota masyarakat (baik itu orangtua mahasiswa maupun anggota masyarakat lainnya). Hal itu penting karena dengan keterlibatan secara baik dari semua pihak di dalam suatu perguran tinggi (khususnya UNPAR), akan turut membantu tercapainya proses pendidikan demokratis yang bertujuan pada penerapan “Spiritualitas, Nilai-Nilai, dan Prinsip Dasar UNPAR” (SINDU) dan perwujudan “Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti” (Berdasarkan Ke-Tuhanan Menuntut Ilmu untuk Dibaktikan Kepada Masyarakat).

 

Catatan kaki:

Azzet, Muhaimin A., Pendidikan yang Membebaskan. Yogyakarta, Ar-Ruzz Media, 2011.