Kompetensi atau Rasa Kompeten?

Dr. Margaretha Banowati Talim, Dra., M.Si.  (Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Bisnis)

Dr. Banowati Talim“ Being competent, is meaningful if supported by self efficacy, competencies without self efficacy mean nothing”

Dunia pendidikan diramaikan oleh adanya kurikulum berbasis kompetensi yang dicanangkan pemerintah melalui Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan. Mulai dari pendidikan usia dini, sampai pendidikan tinggi. Seminar, lokakarya banyak dilakukan untuk mengelaborasi kebutuhan kompetensi ini dalam kurikulum baik itu dalam penataan mata pelajaran yang diberikan, maupun dalam pengembangan proses belajar dan mengajar. Sejauh ini belum terlihat penulis yang secara khusus menyoroti rasa kompeten, namun lebih banyak pembahasan difokuskan pada kompetensi itu sendiri.

Kompetensi banyak didefinisikan sebagai kumpulan dari pengetahuan, ketrampilan, dan perilaku yang dimiliki oleh seseorang sehingga dapat menampilkan kinerja terbaiknya. Sementara itu, rasa kompeten lebih menyoroti aspek psikologis dari seseorang yang mana sudah memiliki rasa percaya diri untuk mengaktualisasikan semua kompetensi yang dimilikinya. Kompetensi itu dipandang sebagai sesuatu yang diberikan dari luar diri individu ke dalam diri individu (outside-in), misalnya pendidikan di sekolah, pelatihan; dan rasa kompeten justru sebaliknya, dimunculkan oleh diri individu dan ditampilkan ke luar, sehingga dapat dilihat oleh orang lain sebagai individu yang kompeten (inside-out).

Mana yang lebih penting dari kedua konsep ini? Menurut pandangan Hartanto (2009), rasa kompeten ini menduduki prioritas utama daripada kompetensi itu sendiri. Katakanlah, seseorang yang sudah lulus dan memiliki sertifikasi untuk melakukan Behavioural Even Interview (BEI), apakah dia secara otomatis akan juga mampu menampilkan kompetensi tersebut dalam prakteknya di tempat dia bekerja? Banyak faktor lain yang perlu dipersiapkan untuk menjadikan seseorang memiliki rasa kompeten. Dalam dunia pendidikan, kompetensi saja tidak cukup. Penting bagi para Pendidik untuk memastikan setiap anak didiknya memiliki rasa kompeten, sehingga lebih percaya diri dalam menampilkan kompetensinya.

Faktor yang menjadi kunci pokok dalam mengembangkan self efficacy banyak terdapat di dalam proses pembelajaran. Pertama, suasana kebersamaan yang dibangun antara Pendidik dengan peserta didik. Pendidik memberikan dorongan kepada peserta didik untuk mau saling berbagi dan memberikan kontribusi pada kerja sama kelompok. Proses pembelajaran banyak menggunakan kerja   di dalam kelompok, bukan hanya bekerja individual. Misal, tugas atau dinamika kelompok di dalam kelas, peserta dibagi ke dalam kelompok untuk mengerjakan sesuatu. Bagi peserta didik di lingkungan di sini, suasana nyaman, merasa diterima oleh anggota kelompok lain, memunculkan rasa percaya diri untuk terus mengembangkan potensinya. Kedua, semangat belajar terus menerus. Pendidik mendorong peserta didik untuk mau belajar dari kesalahan, mengevaluasi diri secara arif, dan memberikan ruang untuk melakukan kesalahan. Istilah penulis ketika di kelas adalah “kesempatan untuk malu-maluin diri sendiri”. Dalam proses pembelajaran seperti ini, peserta didik akan belajar untuk saling menghargai satu sama lain, dan percaya diri dengan apa yang sudah dimiliki dan diketahuinya, namun juga mau belajar dari anggota lainnya untuk pengembangan kompetensi diri. Berbagai pendapat dari peserta didik akan diberikan apresiasi positif, sekalipun apa yang disampaikan atau dilakukan masih terdapat kekurangan. Melalui proses ini peserta didik semakin mampu untuk memunculkan rasa percaya dirinya dan semakin terpacu untuk mau terus belajar dari berbagai media atau kesempatan.

Ketiga, kesadaran diri untuk mau berubah. Bertambahnya kompetensi yang dimiliki akan dapat merubah seseorang menjadi lebih baik, lebih kompeten selama seseorang mau merubah dirinya disesuaikan dengan penambahan kompetensinya. Percuma saja seseorang diikut sertakan dalam berbagai program pelatihan, jika di dalam hatinya, tidak muncul kesadaran dan keinginan   untuk berubah. Kesadaran diri untuk mau berubah ini tentunya akan banyak ditentukan oleh kejelasan mengenai apa yang diinginkan oleh seseorang. Dalam dunia pendidikan, kesadaran diri untuk mau berubah dapat dimunculkan oleh pendidik, dengan memberikan contoh bagaimana pendidik sendiripun mau berubah. Selain  itu, pendidik juga dapat memberikan berbagai wawasan baru dari berbagai sumber, yang dapat memicu kesadaran diri peserta didik bahwa berubah sendiri akan lebih menyenangkan dan lebih terhormat daripada dipaksa untuk berubah.

Akhirnya, kompetensi yang dimiliki seseorang, akan lebih bermakna dengan adanya rasa kompeten yang dapat dibangun melalui rasa kebersamaan, semangat belajar terus menerus, dan kesadaran diri untuk berubah. Selamat mencoba, semoga dapat memperkaya implementasi Pembelajaran Berbasis Kompetensi.

Referensi
Hartanto, FM., 2009, Paradigma Baru Manajemen Indonesia: Menciptakan Nilai dengan Bertumpu Pada Kebajikan dan Potensi Insani, Mizan.