Pembelajaran Berbasis Kompetensi

Dr. Yasmin Suriansyah, Ir., MSP. (Dosen Program Studi Teknik Arsitektur)

Dr. YasminPada tingkat Fakultas Teknik UNPAR dinyatakan bahwa luaran dari Fakultas Teknik adalah lulusan yang unggul dan mempunyai kompetensi kognitif, psikomotorik, afektif dan kooperatif di bidang teknik sipil  dan  teknik  arsitektur, yang dapat dikembangkan untuk kemudian dibaktikan kepada masyarakat, di tingkat nasional dan internasional demi peningkatan martabat manusia dan keutuhan alam ciptaan.

Adapun profil dan kompetensi lulusan yang ditetapkan prodi Arsitektur UNPAR sebagai basis pengembangan pembelajaran di prodi Arsitektur UNPAR dapat dilihat pada Buku Petunjuk Pelaksanaan Akademik 2014-2015 yaitu: menghasilkan lulusan di bidang arsitektur yang kompeten, mampu mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, mampu belajar mandiri dan berkelanjutan, mampu bekerjasama dalam menerapkan keahliannya secara profesional sesuai dengan kode etik perilaku dan profesi; serta mampu bersaing di tingkat internasional untuk peningkatan martabat manusia.

Ada sekian banyak kata kunci yang harus dijadikan dasar dan pertimbangan dalam penyelenggaraan pembelajaran demi mencapai kualitas lulusan di Program Studi Arsitektur UNPAR yang diturunkan dari Visi, Misi, dan Tujuan Pembelajaran dari tingkat Universitas dan tingkat Fakultas; yaitu: kompetensi kognitif, afektif, psikomotorik, dan kooperatif; berbakti kepada masyarakat; peningkatan martabat manusia; kearifan dan tataran lokal-global, nasional-internasional; kepekaan ekologis dan kutural; pembangunan lingkungan binaan perkotaan; keutuhan alam ciptaan; menjunjung etika perilaku dan etika profesi; sikap mandiri dan aktif; berfikir komprehensif dan kreatif dalam pembangunan; tepat aturan, ukuran, waktu, dan kelayakan, dan bertanggungjawab atas hasil karya; serta mampu merealisasikan tujuan pembangunan dalam batasan kondisi teknis dan non teknis, dengan mengadaptasi, memanfaatkan, dan mengembangkan IPTEKS yang menunjang bidang arsitektur.

Dapat dibayangkan jika pembelajaran masih menggunakan sistem pembelajaran Teacher Centered Content Learning (TCCL). Oleh karena itu, dalam salah satu mata kuliah yang saya ampu yaitu mata kuliah pilihan Arsitektur Bangunan Hijau (Green Building Architecture), saya menggunakan sistem pembelajaran yang menggunakan prinsip Student Centered Learning (SCL), dimana dosen lebih berfungsi sebagai fasilitator, yang lebih menunjukkan cara dan memberi arahan untuk mencapai pengetahuan apa yang perlu diketahui, dikuasai, untuk diterapkan pada kehidupan sehari-hari dan pada dunia kerja secara profesional dan menjunjung etika profesi, serta bermanfaat bagi peningkatan martabat manusia. Bukan sekedar menyampaikan tentang pengetahuan itu sendiri, karena dalam era kini semua informasi tentang berbagai pengetahuan sangat mudah didapat. Perkuliahan saya bagi dalam tiga bagian, yaitu: (1) pemahaman tentang tujuan dan urgensi mempelajari isi mata kuliah; (2) eksplorasi tentang perkembangan dan kemutakhiran keilmuannya (state of the art); dan (3) penerapan pengetahuan dalam keilmuan tersebut dalam kehidupan nyata dan dunia kerja.

Adapun metoda pembelajaran pada bagian pertama, dosen lebih banyak porsinya memberikan penjelasan; sedangkan pada bagian kedua dan ketiga mahasiswa dituntun dan diarahkan untuk sangat aktif mencari informasi dari berbagai sumber yang kontekstual dengan topik tematik yang terkait dengan isi mata kuliah. Mahasiswa diminta menuliskan hasil eksplorasinya, kemudian mempresentasikan di depan kelas, kemudian mendapatkan tanggapan dari rekannya dan dari dosen. Dosen berfungsi untuk meluruskan pemahaman, mengembangkan dan memperdalam pemahaman, serta memastikan bahwa mahasiswa termotivasi untuk menerapkan prinsip perancangan green building dalam rancangannya. Outcome yang sejauh ini dirasakan hasilnya adalah beberapa mahasiswa yang telah mengikuti perkuliahan Bangunan Hijau ini telah berhasil mendapatkan Award SPA6 dan SAA karena dalam tugas rancangannya memasukkan prinsip rancangan bangunan hijau. Seperti kita ketahui, bahwa prinsip rancangan bangunan hijau adalah merancang bangunan dengan mengutamakan efisiensi sumber daya energi, air, dan material, serta mengutamakan pula kenyamanan dan kesehatan pengguna bangunan tersebut. Mendapatkan Award adalah salah satu hal yang membanggakan, namun akan lebih membanggakan bila lulusan prodi Arsitektur UNPAR mempunyai nilai lebih dalam kompetensinya, tidak hanya sekedar mampu merancang bangunan dan lingkungan binaan, tetapi juga menghasilkan bangunan hijau, yang berarti ikut memberikan kontribusi sangat positif bagi pembangunan lingkungan binaan serta bagi keutuhan alam ciptaan sesuai dengan visi dan misi UNPAR.