Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 04 Edisi Juli-Agustus 2014 / Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa: Matching Potensi dan Kompetensi

Pembelajaran Berpusat pada Mahasiswa: Matching Potensi dan Kompetensi

Dr. Carles Sitompul, S.T., M.T., MIM (Dosen Program Studi Teknik Industri)

Dr. Carles SitompulIstilah kompetensi bagi sivitas akademika, khususnya di Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), bukanlah hal yang baru. Aslinya, kompetensi merujuk pada kemampuan untuk memenuhi sebuah persyaratan atau kebutuhan. Dalam konteks pekerjaan dan profesionalitas, kompeten berarti mampu melakukan pekerjaannya dengan baik. Seorang dosen dianggap kompeten jika memiliki kemampuan untuk mendidik secara profesional. Itu sebabnya seorang dosen diharuskan memiliki sertifikat pendidik profesional sebagai bukti kompetensi yang dimilikinya memenuhi persyaratan untuk melakukan tugas profesionalnya. Menurut Spencer dan Spencer (1993), kompetensi adalah pengetahuan, keterampilan, sikap, nilai dan karakteristik yang dibutuhkan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya dengan baik atau superior. Kompetensi generik menurut Spencer dan Spencer ini terdiri dari 20 jenis seperti motivasi berprestasi, inisiatif, berpikir analitis,  fleksibilitas, kerjasama tim dan seterusnya. Setiap pekerjaan membutuhkan kompetensi dengan profil yang berbeda dibandingkan dengan pekerjaan yang lain. Seorang insinyur, misalnya, diharuskan memiliki kompetensi berpikir analitis yang lebih tinggi dibandingkan dengan seorang pekerja sosial.

Menurut Undang-Undang No. 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi, pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya. Potensi adalah kekuatan yang dimiliki seseorang untuk melakukan sesuatu hal.  Tingkat kecerdasan seseorang yang diukur dengan tes IQ (intelegensia) menunjuk pada potensi kecerdasan berpikir yang dimilikinya. Di bidang akademik, pengukuran potensi seseorang dapat dilakukan dengan tes potensi akademik (TPA).  Masih menurut undang-undang yang sama, pendidikan tinggi harus dilaksanakan dengan prinsip pembelajaran yang berpusat pada mahasiswa. Oleh karena itu, proses pembelajaran harus tetap berpusat dan berdasarkan pada mahasiswa serta potensi yang dimilikinya. Semboyan Yunani Kuno “know thy self” atau mengenal diri sendiri masih dan sangat relevan dengan dunia pendidikan, khususnya pendidikan tinggi. Proses pembelajaran di pendidikan tinggi harus membantu mahasiswa untuk mengenali dirinya sendiri, mengenali batas-batas potensinya, serta mengenali kompetensi yang harus dicapainya yang akan digunakan ketika melakukan pekerjaan profesionalnya di masyarakat.

Secara sistem,  proses pembelajaran dapat dipandang sebagai sebuah proses yang mengubah input (potensi mahasiswa) menjadi output (kompetensi lulusan). Keunikan sistem ini terletak pada input dan output yang tetap melekat pada diri mahasiswa dimana mahasiswa berperan sebagai obyek sekaligus subyek pada proses pembelajaran.  Pembelajaran berbasis kompetensi seperti yang diamanatkan oleh peraturan perundangan di Indonesia,  pada dasarnya adalah sebuah sistem tarik (pull).  Sistem tarik berarti proses pembelajaran dimulai dengan proses identifikasi  kebutuhan kompetensi pekerjaan atau profesi di masyarakat.   Kemudian, setiap program studi di Perguruan Tinggi juga harus merancang pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan di masyarakat yang ditunjukkan dengan adanya learning objectives (outcomes) atau luaran pembelajaran. Taksonomi luaran pembelajaran dapat dilihat pada Bloom (1959) yang terdiri dari tiga ranah, yaitu: kognitif, afektif dan psikomotorik. Selanjutnya, Satuan Acara Perkuliahan (SAP) atau Rencana Pembelajaran Semester (RPS) dibuat dengan memperhatikan tujuan pembelajaran program studi, yang pada akhirnya berkontribusi pada pembentukan kompetensi lulusan program studi.

Sistem ini akan berjalan dengan baik hanya jika input, yaitu potensi mahasiswa memang cocok atau sesuai dengan kompetensi lulusan yang dirancang oleh program studi.   Salah satu upaya yang dapat dilakukan oleh UNPAR agar proses pembelajaran dapat berjalan dengan baik adalah dengan pembenahan sistem seleksi mahasiswa baru agar terjadi proses matching antara potensi dan kompetensi, misalnya dengan tes potensi akademik (TPA) atau tes kecerdasan (IQ) untuk program studi sarjana. Potensi calon mahasiswa baru harus dapat diukur dengan lebih komprehensif, tidak semata-mata berdasarkan mata ujian Matematika dan Bahasa Inggris. Jika diperlukan, pengukuran potensi calon mahasiswa dapat juga dilakukan dengan wawancara atau tulisan berupa esai. Hasil pengukuran potensi calon mahasiswa yang lebih komprehensif dapat menjadi faktor atau kriteria prediktor terjadinya kesuksesan belajar mahasiswa di sebuah program studi. Selain itu, faktor lain yang dapat mempengaruhi kesuksesan belajar mahasiswa adalah adanya dukungan dari lingkungan dan keluarga agar mahasiswa dapat mengembangkan potensi dirinya di program studi yang diminati dan sesuai dengan karakteristik dirinya. Jika tujuan pembelajaran tidak tercapai pada beberapa mahasiswa, UNPAR sebagai institusi memiliki kewajiban untuk membantu mahasiswa yang drop out  (DO) mendapatkan program studi yang lebih cocok dengan  profil potensi dirinya, misal dengan  cara konseling atau tes potensi akademik atas inisiatif UNPAR. Dengan demikian tidak ada mahasiswa yang bodoh, tetapi setiap mahasiswa cerdas secara berbeda (differently intelligent).

Pustaka

  • B.S. Bloom, 1959, Taxonomy of Educational Objectives the Classification of Educational Goals, New York: David McKay.
  • Lyle M. Spencer dan Signe M. Spencer, 1993, Competencies at Work. Models for Superior Performance, New York: Wiley.
  • Undang-Undang Republik Indonesia No 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi.