Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 05 Edisi September-Oktober 2014 / HABITUS UNPAR: KESEIMBANGAN DIANTARA TARIKAN-TARIKAN KEHIDUPAN

HABITUS UNPAR: KESEIMBANGAN DIANTARA TARIKAN-TARIKAN KEHIDUPAN

Wawancara dengan Prof. V. Bob Sugeng Hadiwinata, MA, Ph.D.

BobDitemui di ruang kerja, Fakultas Ilmu sosial dan Ilmu Politik Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), Prof. V. Bob Sugeng Hadiwinata, Ph.D, akrab disapa Mas Bob, berbincang sejenak dengan tim Sancaya. Berikut petikannya:

Pierre Bourdieu adalah salah seorang pemikir sosial, filsuf yang memperkenalkan istilah “habitus”. Apakah Pak Bob bisa menjelaskan secara ringkas inti pemikiran Bourdieu tentang habitus dari filsuf Perancis tersebut? 

Pierre Bourdieu mendefinisikan habitus sebagai suatu klasifikasi yang agak general dari  dari kebiasaan, lifestyle, norma-noma yang ada.

Bagaimana habitus tersebut dipahami dalam konteks perguruan tinggi?

Dalam perguruan tinggi, habitus berarti perihal cara belajar, sikap hidup yang berkaitan dengan kehidupan akademisi.

Awal tahun ajaran ini di UNPAR ada proses penerimaan mahasiswa baru yang disebut INAP (Inisiasi dan adaptasi). Bagi, Pak Bob, seberapa penting acara INAP dalam menciptakan habitus akademikus di   UNPAR?

Acara ini penting sekali, bagaimana habitus akademis dibangun pada tahap awal. Bila kita merujuk pada semboyan UNPAR Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, bagi saya acara ini memperlihatkan keunikan UNPAR dibandingkan dengan universitas lain. Karena  di UNPAR berdasarkan sesanti tersebut ilmu tidak hanya sebagai verstehen, maksudnya sekadar memahami semata tetapi ilmu juga dibaktikan kepada masyarakat. Marx merupakan pemikir yang mengedepakan dimensi ini,  ilmu yang diabdikan demi kepetingan masyarakat. Lebih lanjut, hal itu juga berarti bahwa di UNPAR tidak hanya sekadar menuntut ilmu tetapi juga ada moralitas di dalamnya, ada kebaikan-kebaikan didalamnya. Misalnya kalau kita bicara tentang international trade, kita tidak hanya bicara tentang international trade semata tetapi juga bicara tentang fair trade yaitu trade yang tidak melanggar konvensi  ILO soal hak buruh, termasuk tidak melanggar standar lingkungan hidup. Jadi kita memahami ilmu dan unsur moralitas secara seimbang didalamnya. Sehingga barangkali berbeda dengan ilmu yang sama dipelajari di tempat lain. Di sini kita tidak hanya belajar trade tetapi juga fair trade.  Trade yang bermoralitas ini yang perlu ditanamkan sejak awal sehingga sungguh menjadi habitus UNPAR.

Habitus seperti apakah yang harus dihidupi seorang dosen?

Saya melihat ada tarik menarik antara profesi seseorang sebagai dosen dengan segala pemahaman keilmuannya, kualifikasi akademiknya  dan praktik sehari-hari. Jadi rasionalitas yang mengemuka di situ. Namun ada tarikan lain yaitu hedonisme ini. Dua hal ini selalu ada yaitu antara rasionalitas dan tantangan hedonisme, apalagi di tempat seperti UNPAR ini. Barangkali sebagai dosen UNPAR, kita juga tergolong dalam dosen UNPAR yang hedonis. Tarikan-tarikan itu pasti ada. Oleh karena itu, keseimbangan harus kita cari.  Seorang dosen harus terus-menerus mencari dan mengembangkan formula keseimbangan  antara hedonisme dan dunia akademis yang puritan.

Mahasiswa baru yang masuk UNPAR sesungguhnya telah digembleng sejak SD, SMP dan SMA. Itu berarti mereka telah tumbuh dalam habitus akademik tertentu. Kalau begitu, apa yang perlu dibuat UNPAR dalam menindaklanjuti pembentukan atau habitus yang telah ada ini? 

Betul seperti yang anda katakan bahwa jumlah input mahasiswa yang kita tampung  sudah membawa tradisi akademik dari tingkat SD, SMP, SMA. Jadi, membentuk habitus itu juga tidak mudah karena terdapat berbagai macam mahasiswa dengan latar sekolah dan budaya termasuk didalamnya latar sosial, ekonomi yang beragam.  Umumnya mahasiswa kita berasal dari Upper middle class jadi mereka mempunyai mind set tersendiri yang lebih liberal, yang mempunyai privilese tertentu yang seringkali dibawa ke kampus. Ini menjadi tantangan untuk kita. Ini tidak juga berarti kita meminta mereka untuk mengembangkan budaya lower middle class tetapi di sini butuh keseimbangan. Apalagi kalau mahasiswa datang dengan tekanan dari orang tua: yang penting kuliah, daripada bengong di rumah. Jadi seringkali mereka kurang sigap ketika diberi tantangan, dan kadang-kadang bahkan suka mengeluh. Sedangkan mahasiswa yang dari desa-desa, kelas menengah ke bawah mereka lebih struggle, masa depan saya akan berhasil kalau saya belajar keras, kelas ini siap menghadapi tantangan.  Barangkali acara-acara seperti gladi, inap mungkin ada efeknya agar  mereka (mahasiswa) lebih challenging.

Bagaimana dengan habitus yang perlu dikembangakan pegawai yang bukan dosen?

Saya melihat ada sisi pengabadian dan ada sisi karier yang cepat, jenjang karir yang baik. Tetapi saya melihat ada kendala di kita (UNPAR). Ketika saya datang untuk pertama kalinya ke UNPAR, saya melihat spirit mereka sebagai komunitas UNPAR sangat tinggi sekali beda dengan sekarang. Dulu dedikasi mereka sangat tinggi, mungkin karena manajemen kita yang kurang memberi perhatian pada kita akhirnya semangat yang begitu tinggi menjadi berkurang. Situasi seperti ini ditempat lain bisa menciptakan korupsi walaupun ini belum terjadi di UNPAR. Namun, bila kita tidak mengantisipasi dengan cepat korupsi itu akan terjadi karena dedikasi yang tadinya mereka junjung tinggi akan semakin luntur. Ini jangan kita biarkan. Misalnya dulu kita tidak mendengar karyawan itu demo, sekarang kita sering dengar karyawan itu demo, walaupun kecil-kecilan dengan cara pemotongan jam kerja mereka, curi-curi jam kerja, kerja dengan kurang hati-hati. Ini yang saya sebut sebagai quiet resistance, resistensi secara diam-diam. Ini sayang sekali padahal awalnya mereka datang dengan semangat yang tinggi, jangan sampai hilang semangat ini. Kita tahu bahwa yang masuk UNPAR tidak sembarangan tetapi orang dengan dedikasi tinggi.

Bagaimana Pak Bob melihat kebijakan yang selama ini diambil baik ditingkat rektorat maupun ditingkat yayasan, apakah kebijakan-kebijakan itu sungguh memelihara habitus akademis di UNPAR?

Sekarang sedang ada penilaian bahwa semuanya dinilai dari output. Ini untuk bisnis, pabrik iya tetapi untuk dunia akademik sepertinya agak sulit. Mungkin ada kelemahan dengan sistem yang lama, mungkin orang yang  berprestasi sama gajinya dengan yang kurang berprestasi, barangkali ini spirit dari lembaga katolik yaitu kesetaraan. Kasihan pendiri UNPAR dari Ordo Fransiskan yang mendirikan lembaga ini dengan semangat kesetaraan tetapi kemudian terkontaminasi dengan orientasi bisnis. Bagi saya production oriented itu agak susah. Untuk output dari dosen barangkali bisa dilihat dari publikasinya, tetapi dari tenaga non-dosen sulit untuk mengukurnya. Apa hitungannya mereka rajin datang menjadi ukuran utama. Orientasi produksi tidak cocok diterapkan di dunia akademik, harus ada modifikasi-modifikasi. Salah satu alasan saya bekerja di UNPAR yaitu saya melihat tidak ada gap yang terlalu menonjol dari sisi gaji maupun dari sisi penghargaan untuk karyawan dosen dan non-dosen. Dimensi kesetaraan ini jangan sampai tergerus. Bukan berarti saya anti kapitalis tetapi UNPAR perlu menimba terus spirit dari sesanti, Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti.

Modifikasi seperti apakah yang bisa dilakukan UNPAR, apakah pada orang atau sistem? 

Bagi saya sistemnya. Jadi bukan output based oriented yang telanjang. Karena ada juga dosen yang mengajar baik tetapi penerbitan kurang. Ini tidak berarti mereka dipandang dosen yang tidak berhasil, tidak produktif dan konsekuensinya tidak dapat intensif.

Apa harapan Pah Bob, untuk UNPAR di masa depan? 

Mudah-mudahan UNPAR tetap seimbang  di tengah tarikan antara  kepentingan bisnis dan pengembangan ilmu. Sekarang  tarik-menarik itu sangat keras di UNPAR antara dedikasi, pengabdian kita dengan bisnis.

Bukankah sebagai lembaga pendidikan UNPAR merupakan lembaga nirlaba karena ini juga yang menjadi jati diri Gereja Katolik?

Nah, nirlaba itu harus diartikan dengan sungguh-sungguh. Jangan sampai labanya ditebalin dan nir-nya dikecilin. Sebagai orang yang penah mendalami NGO, karakter NGO adalah semua profit yang dihasilkan NGO harus kembali untuk pengembangan lembaga itu bukan untuk keuntungan pribadi. Dalam tulisan saya ke yayasan saya pun mengingatkan yayasan untuk mega proyek nanti. Ingat Mgr. Geise sebagai orang fransiskan itu sangat menghormati lingkungan dan peduli pada orang miskin.

(Pewawancara: Andreas Doweng Bolo)