INAP dan SIKAP

Dr. Aloysius Rusli (Dosen Program Studi Fisika)

Dr. Aloysius RusliDEFINISI

Istilah INAP (akronim bagi istilah “Inisiasi dan Adaptasi”) telah digunakan sejak tahun 2007 untuk acara orientasi studi bagi mahasiswa baru Unpar. Kalau diperiksa di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia, edisi ke 4 cetakan ke 2 tahun 2011, yang hak ciptanya ada pada Pusat Bahasa, Departemen Pendidikan Nasional ketika itu), “inisiasi” didefinisikan sebagai upacara atau ujian yang harus dijalani orang yang akan menjadi anggota suatu perkumpulan/suku/kelompok umur, dsb, sedangkan “adaptasi” didefinisikan sebagai penyesuaian terhadap lingkungan, pekerjaan, pelajaran.

KONSEKUENSI

Tentu “inisiasi” masa kini tidaklah patut disamakan dengan inisiasi suku-suku primitif di masa lalu, di mana seorang lelaki muda diutus menembus hutan belantara, dsb, untuk membuktikan kepatutan dan kesiapannya sebagai seorang dewasa. Ataupun, seperti yang dilakukan terhadap mahasiswa (atau pekerja, prajurit) baru sejak beberapa abad, sering disertai dengan tindakan yang bertentangan dengan martabat seorang manusia, dan terkadang juga mematikan. Inisiasi yang dimaksudkan tentu selaras dengan semangat SINDU (Spiritualitas dan Nilai Dasar UNPAR), yang ingin memperkenalkan mahasiswa baru pada semangat dan nilai mencari kebenaran ilmu, dan kebenaran yang lebih utuh dalam hidup seorang manusia dan dalam bergaul-akrab dengan sesamanya. Perkenalan ini lalu disertai dengan adaptasi-diri mahasiswa baru pada kehidupan yang baik di lingkungan UNPAR.

REALITA

Biasanya jangka waktu yang disediakan untuk INAP ini hanya beberapa hari, dan sejauh saya lihat dan dahulu juga alami (tahun 2002-2006), sering terjadi tarik urat dengan mahasiswa lama, yang ingin sekali berkenalan dengan pendatang baru itu, sayangnya terlalu banyak dari mereka yang juga ingin bersenang-senang tanpa cukup peduli akan manfaat dan kesejahteraan bagi mahasiswa baru. Padahal orangtua mahasisa baru, baru saja telah harus membayar biaya cukup besar untuk dapat mendaftarkan putra-puteri mereka ke UNPAR.

SIKAP DAN PERAN DOSEN

Saya melihat bahwa peran dosen, baik yang tua (dengan wibawa akademis dan pengalaman hidupnya), maupun yang muda (dengan kemampuan berelasi-akrab dengan mahasiswa karena kedekatan-usia), ikut menjadi kunci makin berhasilnya INAP ini.

Dosen dapat dilibatkan dengan menjadi teladan dalam bersenyum dan beramah kepada para mahasiswa baru, dalam berperilaku sopan dan menghargai martabat mahasiswa baru sebagai manusia muda harapan masa depan, dengan menemani mahasiswa lama yang menjadi panitia, walaupun pengalaman hidup mahasiswa lama (umumnya) masih sedikit dalam bergaul secara sama tinggi-sama rendah. Padahal sebenarnya kita semua sudah mengalami setiap hari, perilaku ramah penuh senyum itu dari pegawai bank di kampus; dan yang pernah menginap di hotel yang baik, tentu sudah biasa pula mengalami keramahan dan semangat membantu para staf hotel tersebut. Jadi tinggal diadaptasi ke suasana hakiki di kampus UNPAR.

Kalau misalnya emoticon senyum-simpul dapat ikut dijadikan logo (dan tentu juga perilaku) INAP selanjutnya, UNPAR kiranya dapat lebih baik menumbuhkan SINDU pada mahasiswa baru (dan warga kampus lainnya), dan mencegah perilaku destruktif-berpura-pura-koruptif yang sayangnya sedang kita lihat setiap hari di televisi.

Tugas semacam ini berat bagi dosen, tetapi kalau kita mau konsisten dengan SINDU itu, menurut saya tidak ada jalan lain. Membiarkan INAP diurus hanya oleh beberapa dosen MKU dan fakultas, memberi tanda-tanda kurang positif kepada mahasiswa baru. Mayoritas dosen, baik yang tua maupun yang muda, sesegera mungkin perlu disiapkan perannya bagi INAP tahun 2015, agar senyum dan keramahan makin bertumbuh dan tulus di kampus UNPAR ini.

Sikap à priori, “mahasiswa jaman kini sering tak sopan, harus diperlakukan dengan keras” perlu digantikan dengan sikap proaktif-positif “kita sebagai dosen perlu memberi teladan beramah dan bersopan kepada mahasiswa sebagai manusia muda yang bermartabat, disertai sikap penuh senyum, yang akan menumbuhkan perilaku yang sama pada mahasiswa kita. Jumat 3 Oktober yang baru lalu, di Gedung Serba Guna, Pak Dani dari tim konsultan manajemen SRW & Co telah menyebutnya juga: “Perilaku dosen, akan dipandang sebagai standar yang patut ditiru, oleh para mahasiswanya”. Marilah kita, dosen ataupun bukan dosen, menanggapi pernyataan itu secara positif-konstruktif dengan menggerakkan diri menjadi teladan bagi lingkungan terdekat kita, di kampus maupun di luar kampus.