Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 05 Edisi September-Oktober 2014 / Membangun Habitus melalui Spiritualitas dan Nilai Dasar UNPAR (SINDU) dalam INAP

Membangun Habitus melalui Spiritualitas dan Nilai Dasar UNPAR (SINDU) dalam INAP

Rudi Setiawan, S.Ag., M.M. (Dosen Program Studi Ilmu Filsafat)

Rudi_Inisiasi dan Adaptasi (INAP) adalah rangkaian kegiatan penerimaan dan pengenalan mahasiswa baru dengan kehidupan kampus di UNPAR.  Berdasarkan istilahnya, kegiatan tersebut meliputi dua proses yakni inisiasi dan adaptasi. Inisiasi dimaksudkan sebagai penerimaan mahasiswa baru ke dalam komunitas akademik UNPAR. Sementara itu, adaptasi dimaksudkan sebagai proses penyesuaian diri dalam kehidupan berkomunitas. Proses ini meliputi pengenalan, pendalaman, maupun pembiasaan diri dengan segala hal yang berkaitan dengan kehidupan kampus, baik dengan orang, kegiatan, nilai, aturan, tata cara/ prosedur, maupun yang berlaku di dalamnya. Singkat kata, kehidupan akademik di kampus diawali dengan penerimaan sekaligus perubahan.

INAP merupakan kegiatan penting karena sejatinya bukan sekadar kegiatan informatif, namun juga formatif. Yang dilakukan dalam INAP bukan pengumuman, pemberitahuan, atau penjelasan tentang nilai, aturan, sistem, prosedur, atau kegiatan kampus, melainkan pembentukan diri sebagai pribadi. INAP adalah momen pembelajaran pertama mahasiswa sebagai insan intelektual muda kampus. INAP adalah “introduksi” atas bab-bab besar bertema pembentukan mahasiswa menjadi manusia yang utuh di dalam kampus: cerdas secara intelektual, bermoral, dan punya kedalaman hidup spiritual. INAP adalah titik awal dan kerangka dasar habitus komunitas akademik perguruan tinggi.

Persoalannya, penyelenggaraan INAP penuh tantangan mengingat INAP sering diasosiasikan sebagai kegiatan orientasi dan pengenalan kampus (OPSPEK) yang konon punya  sejarah kelam itu. Dahulu, OPSPEK sering jatuh pada penggojlokan yang sarat dengan kekerasan. OPSPEK menjadi ajang balas dendam berwajah solidaritas atau penindasan berbungkus pendisiplinan diri dan patriotisme. Pembelajarannya sangat hirarkis, monolog, indoktrinatif, kaku, kering, dan cenderung militeristik. Suasana pembelajarannya diwarnai ketakutan, kecurigaan, keterpaksaan, dan kepatuhan semu. OPSPEK menjadi dinamika pembelajaran yang penuh negativitas: saling mencari-cari kesalahan, saling menyangkal, saling memusuhi, saling mencurigai atau mengasingkan. OPSPEK lantas dinilai sebagai pembelajaran yang tidak efektif, atau bahkan kontradiktif dengan hakekatnya sendiri karena logika yang bekerja di balik penerimaan mahasiswa baru adalah penolakan terhadap orang. Ironisnya, melalui OPSPEK mentalitas mengobyekkan orang lain dijadikan tradisi turun menurun, sehingga menjadi habitus di dalam kampus maupun lebih luas lagi dalam masyarakat.

Oleh karenanya, Spiritualitas dan Nilai-Nilai Dasar (SINDU) UNPAR dipandang perlu menjadi salah satu tema yang dibahas dalam INAP sekaligus acuan bagi penyelenggaraan INAP. Spiritualitas UNPAR sebagai kekuatan rohani untuk memaknai hidup dan menggerakkan anggota komunitas UNPAR dalam berpikir, berkata-kata, maupun bertindak, digali dan dirumuskan dari semangat pendiri, sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, magisterium Gereja Katolik, dan falsafah Sunda tentang niat, ucap, lampah, serta pengertian nama “Parahyangan”. Sementara itu, Nilai Dasar UNPAR mencakup cinta kasih dalam kebenaran, hidup dalam keragaman, dan manusia yang utuh (humanum), yang dijabarkan dalam 7 prinsip, yakni keterbukaan, sikap transformatif, kejujuran, keberpihakan pada kaum lemah, bonum commune (kebaikan bersama), subsidiaritas, dan nirlaba.

INAP meliputi pengenalan SINDU sekaligus wujud implementasi SINDU itu sendiri. Di dalamnya pembelajaran dilakukan dengan model reflektif, eksperiensial, dan playful. Materi pembelajarannya bukan SINDU sebagai teks, tetapi pengalaman mahasiswa sendiri yang dimaknai dan diinspirasi dengan SINDU. Yang disampaikan bukan pengetahuan tentang SINDU melalui retorika konseptual, atau instruksi moral. Akan tetapi, mahasiswa diajak menggali dan menemukan sendiri makna atas pengalamannya baik dari kenyataan hidup yang dialami maupun permainan yang diikuti. Modul pun dibuat dari pengalaman bersama secara lintas disipliner. Dosen bertindak sebagai fasilitator, yakni perantara makna (mediator of meaning) dalam proses pertemuan teks dengan konteks pengalaman para peserta. Melalui pemaknaan pengalaman satu sama lain secara baru, spiritualitas dan nilai dasar bukan lagi teks adiluhung dan kering, tetapi dapat “berbicara” terus menerus, relevan, hidup, dan bertumbuh (bahkan mungkin melampaui maksud aslinya). Pembelajaran tidak lagi hirarkis, berjarak, otoritatif, maupun instruksional. Mahasiswa bukan obyek yang dibuat patuh, tetapi teman seperjalanan dalam pencarian dan penemuan makna bersama. Setiap orang diafirmasi dan dihargai. Setiap orang saling memperkaya dan diperkaya. Suasana pembelajaran setara, partisipatif, dialogis, dan interaktif. Di balik permainan, bukan lagi soal menang atau kalah yang penting, tetapi perayaan kegembiraan bersama atas keterlibatan, kerjasama, kejujuran, keadilan, kesediaan berbagi, perhatian, saling pengertian, dan pemahaman perasaan orang lain. Belajar bukan lagi soal “kamu” atau “aku”, melainkan “kita” yang tumbuh bersama.