Membangun Habitus yang Humanis

Willfridus Demetrius Siga, S.S, M.Pd (Dosen Pengampu Mata Kuliah Umum)

Wilfridus_Majalah The Economist (April 27th-May 3rd 2013, p. 9) memberi tajuk The Generation Jobless. Sepenggal kegelisahan global tentang jumlah orang-orang muda dan pekerjaan yang hampir sama besarnya jumlahnya dengan penduduk AS. Artinya akan lahir sebuah generasi pengangguran. Lalu apa kaitannya dengan habitus? Habitus (habit) secara umum diterjemahkan sebagai kebiasaan, watak atau karakter yang merujuk pada keseluruhan keadan dan cara bertindak terhadap suatu rangsangan. Habitus dimaknai sebagai “gugus insting, baik individual maupun kolektif, yang membentuk cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok” (Nota Pastoral KWI 2006 butir 10). Kata ‘insting’ yang dimaksud disini adalah kemampuan bereaksi yang spontan terhadap suatu masalah, yang nyata dalam sikap dan tindakan. Sikap dan tindakan yang dimaksud mengarah pada cara merasa, cara berpikir, cara melihat, cara memahami, cara mendekati, cara bertindak dan cara berelasi seseorang atau kelompok. Sedangkan kata ‘gugus’ menunjukkan adanya kesatuan dari berbagai elemen pembentuknya dan saling terkait erat secara konsisten. Dengan kata lain, kata insting dan gugus sedang menyoal the whole of character yang membentuk setiap individu sebabagai personality yang sarat dengan kapasitas SQ (Spiritual Quotience), IQ (Intelligence Quotience) dan EQ (Emotional Quotience).

Bung Karno menyoroti proses pendidikan dengan menyebutnya sebagai “Onderwijst is een voorplannting” (pendidikan sebagai sebuah proses penanaman). Pendidikan tidak hanya menghabiskan waktu dengan mengacak-acak sistemnya tetapi tentang bagaimana nilai-nilai itu sungguh-sungguh dialami. Jadi yang dibutuhkan adalah “pengalaman tentang nilai”. Program INAP (Inisiasi dan Adaptasi) yang digagas Unpar tidak lain mau mengajak setiap mahasiswa untuk berani menghadirkan diri sebagai roh keteladanan yang hidup. Sedangkan gema jauh dari kegiatan ini adalah mencoba menjawab kegelisahan global tentang sebuah generasi pengangguran. Oleh karena itu, pembentukkan karakter mahasiswa hendaknya terintegrasi dalam sebuah prosess pembelajaran yang mencakup semua ‘learning are’ sekaligus ‘deal’ dengan ‘life experience’.

Praksis dari frame pendidikan yang besar di atas adalah pendidikan yang humanis. Setiap individu diletakkan sebagai pusat dan pelaku utama. Menurut Freire, setiap individu itu bukan ‘tabung’ yang pasif menerima pengetahuan. Individu hendaknya diajak untuk berpikir kritis memecahkan masalah, dilatih untuk bebas mengungkapkan pendapat dan mandiri (self-directed learning). Atau dengan kata lain, setiap individu diarahkan untuk memiliki power to (kekuatan kreatif yang membuat seseorang mampu dan mau melakukan sesuatu), power with (membangun solidaritas atas dasar komitmen pada tujuan yang sama guna memecahkan permasalahan yang dihadapi guna menciptakan kesejahteraan bersama), dan power within (kekuatan spiritual yang ada dalam setiap individu). Pendidikan humanis merupakan pendidikan yang bersifat holistik dan terpadu yang mencakup pengembangan logos (intelektual), eros (kreativitas), ethos (integritas) dan pathos (solidaritas). Dengan kata lain, pendidikan humanis adalah “educate the head, the heart and the hand”. Setiap individu diharapkan mampu mempraktekan nilai-nilai kehidupan yang meliputi kebenaran (verum), keindahan (pulcrum) dan kebaikan (bonum).

Sebuah pepatah tua mengatakan: “Tell me and I forget, show me and I remember, involve me and I undertand”. Pepatah ini mau menunjukkan esensi dari sebuah proses pembelajar sebagai pendidik dan peserta didik yang berkelanjutan ‘inquiry based learning’ yang meliputi understanding, skills and attitudes yang mana setiap orang diperbolehkan untuk mencari jawaban dari setiap pertanyaan dan issues yang mana dapat menciptakan pengetahuan baru. Senada dengan rekomendasi pembaharuan pendidikan dan pembelajaran UNESCO yang meliputi: learning to know (kritis), learning to do (problem solving), learing to be (otentik dan mandiri), learning to live together (toleransi), learning throughout life (refleksi), and learning to love (spiritualitas). Tanda penghayatan dari nilai-nilai ini menuntut sebuah konsistensi, keteraturan, kontrol diri, dan otonom untuk membuat setiap perilaku menjadi bernilai sampai pada akhirnya terbentuk kebiasaan atau habitus.

Referensi:

  1. Majalah The Economist, April 27th - May 3rd 2013.
  2. Smith, William. Conscientizacao: Tujuan Pendidikan menurut Paulo Freire, (peny. St. Sunari), Pustaka Pelajar, Yogyakarta, 2001.
  3. Koesoema, Doni A. Pendidikan Berkarakter Di Zaman Keblinger, Grasindo, Jakarta, 2009.
  4. Nota Pastoral KWI, 2004.
  5. Drost, J. Humaniora, Kompas, 10 Oktober 2002