Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 05 Edisi September-Oktober 2014 / Transformasi Habitus Perguruan Tinggi Melalui Inisiasi dan Adaptasi (INAP)

Transformasi Habitus Perguruan Tinggi Melalui Inisiasi dan Adaptasi (INAP)

Dr. Laurentius Tarpin, OSC., S.Ag., L.Th. (Dosen Program Studi Ilmu Filsafat)

Laurentius-Tarpin-OSC_Judul tulisan memunculkan pertanyaan: habitus Perguruan apa yang mau ditransformasi?  Untuk menjawab pertanyaan tersebut pertama-tama kita harus memahami apa yang dimaksud dengan habitus?  Habitus adalah kebiasan-kebiasaan yang sudah tertanam  dalam di dalam diri seseorang sehingga tidak mudah untuk diubah. Habitus terbentuk karena pembiasaan, melakukan sesuatu secara berulang dan terus menerus sehingga membentuk karakter seseorang dan kalau dilakukan secara bersama-sama dalam suatu kelompok atau organisasi akan membentuk satu budaya organisasi. Suatu budaya organisasi tentu didasarkan pada nilai-nilai yang diyakini dan dihidupi sehingga mendarah daging dalam diri seseorang dan dalam kehidupan organisasi.  Sebelum kita mengubah habitus dan budaya sebuah organisasi maka pertama-tama yang harus diubah adalah mindset yang sangat mempengaruhi cara melihat, cara menilai, cara bersikap, dan cara berperilaku.

Kalau kita kembali pada pertanyaan awal  habitus apa yang mau diubah dalam Perguruan Tinggi dan mengapa harus diubah? Habitus yang mau diubah tentunya  habitus yang kurang baik dan dianggap tidak sesuai dengan martabat manusia, bertolak belakang dengan hakikat dan identitas suatu Perguruan Tinggi sebagai sebuah lembaga pendidikan tinggi yang mengemban misi  Tridharma, yakni dharma pendidikan, dharma penelitian, dan dharma pengabdian kepada masyarakat. Dharma pendidikan berurusan dengan  pembentukan  manusia seutuhnya, yang meliputi pengembangan aspek kognitif, aspek efektif, dan  aspek psikomotorik.

Pengembangan aspek kognitif meliputi pengembangan kemampuan intellektual, kemampuan berpikir secara kritis, sistematik, dan logik. Pengembangan aspek afektif meliputi pengolahan rasa, menumbuhkan kepekaan dan kepedulian sosial, ketajaman nurani, tanggung jawab sosial, kesadaran dan kepekaan ekologis, kepekaan dan ketajaman spiritual yang memampuan orang untuk merasakan dan mengalami kehadiran yang Ilahi dan Transenden dalam kehidupan.

Di samping itu, pendidikan yang dikembangkan di Perguruan tinggi seharusnya diarahkan pada upaya menumbuhkembangkan sikap altruistik dan mengikis sikap egoistik, serta meretas solidaritas lintas batas yang dijiwai oleh semangat inklusif yang merangkul, menghargai dan menerima  heterogenitas dan pluralitas. Pendidikan juga mengembangkan aspek psikomotorik peserta didik sehingga pada saat mereka melihat realitas sosial-kemasyarakatan yang tidak manusiawi, mereka tergerak oleh compassion untuk terlibat aktif dalam mengubah situasi hidup yang tidak manusiawi, tidak adil, tidak bersaudara, menjadi situasi hidup yang lebih manusiawi, lebih adil, lebih bersaudara.

Perguruan Tinggi sebagai lembaga pendidikan memiliki misi untuk menumbuhkembangan jiwa dan semangat untuk meneliti, mencari,menemukan, dan menyebarluaskan kebenaran. Jiwa dan semangat meneliti ini digerakkan dan dipicu oleh sikap selalu mempertanyakan, mengembangkan daya imaginasi-utopistik. Dengan demikian, penelitian yang dilakukan bukan hanya untuk kepentingan administratif-kenaikan jabatan fungsional dosen, tetapi penelitian yang digerakkan oleh dorongan internal mengubah situasi, mengubah realitas hidup, dari situasi tidak manusiawi, oppressif, ekploitatif menjadi  situasi hidup yang lebih manusiawi dan membebaskan. Penelitian yang dilakukan membawa dampak transformatif dan liberatif bagi manusia dan lingkungan hidup. Oleh karena itu, penelitian yang dilakukan harus diarahkan oleh nilai-nilai etis-humanis, sehingga hasil penelitian sungguh-sungguh membawa kebaikan bagi setiap individu dan demi kebaikan bersama.

Pendidikan dan penelitian yang dilakukan oleh insan Perguruan tinggi pada akhirnya diabdikan pada kepentingan masyarakat luas, yakni memberi pencerahan, mengubah pola pikir dan mentalitas, menumbuhkan kesadaran moral sosial, menjadikan hidup manusia lebih manusiawi. Semuanya ini harus menjadi kesepahaman bersama dan menjadi habitus insan Perguruan Tinggi. Kegiatan inisiasi dan adaptasi bagi mahasiswa baru Unpar melalui pendalaman materi Spiritualitas dan Nilai Dasar UNPAR (SINDU) diharapkan membawa perubahan dalam mindset para mahasiswa baru yang datang dari berbagai latar belakang budaya dan asal sekolah. Nilai-nilai dasar UNPAR dan prinsip-prinsip dasarnya, yakni kejujuran, keterbukan, sikap transformatif, subsidiaritas, bonum commune, keberpihakan kepada kaum lemah dan tersisih, dan nirlaba diharapkan akan membawa perubahan dalam habitus mereka.

Nilai-nilai dasar UNPAR dan prinsip-prinsip dasarnya diharapkan menjadi counter-culture terhadap tata nilai yang telah merasuki dan  meresapi cara berpikir manusia pada jaman sekarang yang ditandai oleh hedonisme, materialisme, konsumerisme, utilitarianisme, permisivisme, indifferentisme, egoisme, pragmatisme, formalisme, brutalitas, budaya kematian, sikap menghalkan segala cara. Melalui kegiatan Inisiasi dan Adaptasi para mahasiswa baru diajak dan disadarkan bahwa keberagaman dan pluralitas itu adalah anugerah yang harus disyukuri, bahwa persaudaraan sejati akan terwujud kalau setiap orang hidup dalam kejujuran, kebenaran, ketulusan,  keterbukaan, kesadaran bahwa orang lain adalah saudara kepada siapa dirinya punya tanggungjawab moral untuk menjaga dan mendukung kehidupan dan perkembangannya.  Kesuksesan dan kebermaknaan hidup tidak  ditentukan oleh apa yang dimiliki dan diakumulasi secara egoistik, tetapi ditentukan oleh kehendak dan kerelaan untuk mau berbagi. Dengan demikian, kebaikan dan kesejahteraan setiap individu dan bersama dapat diwujudkan.

Semoga melalui kegiatan Inisiasi dan Adaptasi yang berfokus pada SINDU mampu membawa transformasi dalam habitus Perguruan Tinggi, yaitu  “menjadi komunitas akademik humanum berdasarkan kasih dalam kebenaran yang diarahkan pada pengembangan potensi  lokal untuk dibawa ke tataran internasional demi pengembangan martabat manusia dan demi keutuhan alam ciptaan sebagaimana dikatakan dalam visi UNPAR.