Kecil Tapi Besar

Erwinna Chendra, S.Si, M.Si (Dosen Prodi Matematika)

Bu ErwinnaPada hakekatnya, pendidikan memiliki dua tujuan yaitu: membantu manusia untuk menjadi cerdas dan pintar (smart), dan membantu mereka menjadi manusia yang lebih baik (good). Menjadi-kan manusia cerdas dan pintar, mungkin mudah tetapi men-jadikan manusia agar menjadi orang yang baik dan bijak, tampaknya jauh lebih sulit atau bahkan sangat sulit dilakukan.

Di lingkungan kampus, seringkali dosen berkeluh kesah dengan sikap mahasiswa/i zaman sekarang: “Kenapa yah mahasiswa sekarang beda dengan mahasiswa dulu?” Mahasiswa sekarang lebih mudah menyerah, rasa empati mereka semakin berkurang. Hanya beberapa dari mereka yang sungguh-sungguh dan maksimal dalam berusaha, dan masih banyak lagi.

Merupakan tantangan bagi kita sebagai dosen untuk mencoba mempengaruhi atau lebih bagus lagi mengubah sikap mereka. Tentu saja bukan hanya lewat teori-teori. Anak-anak apalagi para mahasiswa tidak bisa lagi diceramahi mengenai sikap atau karakter yang baik, mereka perlu merasakan atau terlibat langsung untuk menyentuh sisi kemanusiaan mereka.

Salah satu kegiatan yang kami coba lakukan dengan melibatkan para mahasiswa adalah Komunitas Ibu Belajar Matematika (IBM). Awalnya kami kira hanya merupakan kegiatan pengabdian pada masyarakat khususnya ibu-ibu di sekitar UNPAR. Ternyata juga menjadi kegiatan yang banyak mendidik tidak hanya dosen tetapi juga para mahasiswa yang terlibat di dalamnya.

Tahun ini merupakan tahun ke-4 pelaksanaan kegiatan tersebut. Beberapa mahasiswa yang terlibat bahkan sudah ada yang lulus. Beberapa mahasiswa tersebut terkesan dan mendapatkan manfaat dengan kegiatan tersebut dari awal proses penyusunan modul sampai dengan menjadi tutor di kelas-kelas IBM. Kesan dan manfaat yang mereka rasakan itulah yang coba saya tuangkan dalam tulisan ini.

Pada tahap awal kegiatan IBM tersebut, kami mengumpulkan dan menyusun modul-modul yang disusun oleh dosen dan para mahasiswa. Dalam hal ini beberapa mahasiswa mendapat kesempatan belajar menulis. Selama ini seringkali mahasiswa belajar di kelas hanya sebatas memahami sehingga mereka belum tentu memiliki kemampuan yang baik untuk menuangkan pemahaman mereka dalam bentuk tulisan yang dapat dipahami oleh orang lain dengan mudah.

Proses penyusunan modul IBM ini menjadi salah satu tempat mereka belajar dan membuat mereka semakin menyadari bahwa pemahaman saja tidak cukup, namun harus diikuti dengan kemampuan yang baik untuk menjelaskan pemahaman tersebut kepada orang lain.

Tidak hanya secara tertulis namun juga secara lisan, yang terasa ketika mereka berhadapan langsung dengan ibu-ibu di kelas pada saat kegiatan tersebut berlangsung. Seorang mahasiswa bahkan merasa mengajar ibu-ibu tidak seperti bayangan dia sebelumnya yang dikiranya akan mudah, tetapi ternyata dibutuhkan kesabaran dan harus bisa menemukan cara termudah yang bisa dimengerti oleh para ibu. Hal ini menjadi tantangan sendiri bagi kami selama menjadi tutor IBM.

Selama menjadi tutor di kelas IBM, tidak sedikit mahasiswa yang terkesan dengan semangat dan antusias ibu-ibu untuk belajar, yang kadang jauh melebihi semangat belajar mereka ketika kuliah di kelas. Semangat ibu-ibu tersebut secara tidak langsung menular, paling tidak saat mereka menjadi tutor di kelas IBM. Dari rasa suka greget sendiri jika sudah dijelaskan dan ibu-ibu masih bingung, hingga akhirnya menjadi kepuasaan sendiri jika ibu-ibunya bisa mengerti materi yang dijelaskan.

Kegiatan IBM ini juga menjadi sarana bagi mereka untuk berefleksi dan menyentuh sisi kemanusiaan mereka. Ada mahasiswa yang semakin menyadari bahwa di luar sana masih banyak orang yang merindukan bangku pendidikan, sedangkan ia sendiri yang selama ini menempuh pendidikan dengan lancar terkadang lupa bersyukur.

Beberapa mahasiswa juga merasa mereka dilatih untuk berbagi pada orang lain dengan cara selain melalui uang. Bahkan ada di antara mereka yang sadar ternyata berbagi ilmu itu tidak membuat ilmu mereka berkurang tetapi malah bertambah. Sesuai pengalaman yang kita selalu alami dan percaya sebagai dosen bahwa dengan mengajar maka kita juga akan belajar.

Selain itu, tidak sedikit di antara mahasiswa yang tersentuh dengan nilai-nilai kehidupan yang dimiliki oleh ibu-ibu IBM, seperti kasih sayang seorang ibu pada cucunya sehingga rela belajar di usia tua agar dapat menemani cucunya belajar. Semua pengalaman ini, saya bahkan beberapa mahasiswa yakin akan mampu mendidik kami menjadi manusia yang lebih baik.

Saya ingin mengutip langsung kalimat dari salah satu mahasiswa kami yang terlibat dan kini telah lulus. “Saya sangat bersyukur karena telah menjadikan IBM sebagai salah satu pengalaman hidup yang bermakna yang telah saya lalui. Keterlibatan saya di IBM kini menjadi cerita yang selalu ingin saya bagikan kepada orang-orang di sekitar saya untuk memotivasi mereka mengabdi kepada masyarakat”.

Ketika bertanya pada mahasiswa yang terlibat dalam program Komunitas IBM, sungguh diluar dugaan kami. Apa yang kami kira kecil ternyata berdampak besar bagi para mahasiswa.

Apresiasi dan terimakasih saya untuk seluruh mahasiswa yang terlibat dalam program Komunitas IBM.