Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 03 Nomor 01 Edisi Januari-Februari 2015 / Pendidikan yang Melibatkan: 60 Tahun Kehadiran UNPAR

Pendidikan yang Melibatkan: 60 Tahun Kehadiran UNPAR

Wawancara dengan Dr. Pius Sugeng Prasetyo, M.Si. (Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Publik)

Pak PiusPendidikan Yang melibatkan, menjadi tema Sañcaya, yang berkesinambungan dengan tema dies UNPAR ke-60. Untuk itu, tim redaksi menghadirkan perbincangan dengan Ketua Panitia Dies Natalis, Bapak Dr. Pius Sugeng Prasetyo, yang juga adalah Wakil Rektor Bidang Akademik, Kemahasiswaan dan Alumni. Berikut petikan perbincangan:

Sancaya pada terbitan kali ini mengangkat tema “Pendidikan yang Melibatkan”. Topik ini bertautan dengan tema Dies Natalis UNPAR ke 60, “Terlibat Untuk Keberkelanjutan”. Apakah, Pak Pius bisa menjelaskan alasan dibalik pemilihan tema ini?

Terlibat untuk keberlanjutan: tema ini dipilih bukan karena selama ini UNPAR belum terlibat. Tema ini dipilih untuk membuktikan bahwa selama 60 tahun ini UNPAR terlibat. Secara historis jelas terlihat Mgr. Geise, OFM dan Mgr. Arntz, OSC dibantu oleh para tokoh termasuk tokoh-tokoh di Jawa Barat membuktikan bahwa Gereja melalui institusi pendidikan ingin melibatkan diri di dalam membangun bangsa ini.

Bagaimana keterlibatan itu perlu dimaknai dan dijalani?

Terlibat tidak berarti UNPAR sekadar bermanuver untuk achievement popularitas semata tetapi pada bagaimana keterlibatan itu berdampak pada masyarakat, baik skala lokal, nasional dan global.

Mengapa keterlibatan disandingkan dengan “Keberlanjutan”?

Kita mempunyai pemikiran, keterlibatan itu sedapat mungkin menjamin aspek keberlanjutan. Sebuah iklim berkelanjutan, baik dengan alam ciptaan, sesuai dengan visi kita tetapi juga keberlanjutan secara sosial. Oleh karena itu, kemarin diawali dengan kegiatan pekan “Sumpah Pemuda dan Pancasila” itu sebenarnya ingin menempatkan bahwa Pancasila adalah tonggak dan jaminan keberlanjutan bangsa ini.

 Apa saja tantangan yang dihadapi UNPAR dalam mewujudkan cita-cita tersebut?

Kita perlu memotret baik secara internal maupun eksternal. Secara internal kita harus mengenali diri sendiri, ini harus kita lakukan. Keterlibatan itu harus didasarkan pada basis fundamen kita, apa visi kita? Karena jangan sampai kita terlibat tetapi itu tidak sesuai dengan visi kita. Secara internal segenap komunitas UNPAR, mahasiswa, dosen, tenaga penunjang harus menghayati spirit UNPAR misalnya nilai-nilai yang ada dalam SINDU. Apa SINDU hanya sebuah dokumen, apakah ia embedded dengan aksi stakeholder internal UNPAR.  Secara eksternal, kita pun harus melihat kecenderungan di luar, yang juga menjadi penentu apa yang harus kita lakukan secara internal. Regulasi pemerintah adalah eksternalitas yang tidak bisa kita hindari. Regulasi ini baik tentunya bahwa UNPAR menjadi perguruan tinggi yang mencapai suatu standar kualitas yang jelas. Itu bagus tentunya. Ini saya garis bawahi. Tetapi, jangan sampai seluruh potensi yang dimiliki lebih pada upaya semata-mata mencapai standar semata dan kita melupakan hal-hal lain.

 Apakah keterlibatan UNPAR di Nias kerjasama dengan Masyarakat dan Pemerintah Jawa Barat dalam pengembangan Taman Hutan Raya, Ir.H. Djuanda, adalah pilihan akan eksternalitas itu?

Betul itu adalah terjemahan visi kita. Komitmen institusi dan insan-insan di institusi  hadir dalam berbagai persoalan bangsa ini.

 Bagaimana mahasiswa harus dididik dalam konteks pendidikan di UNPAR terutama kea rah keterlibatan tersebut?

Pendidikan kita harus memberi orientasi pada mahasiswa, yaitu memberi bukan meminta. Dalam perkuliahan dosen-dosen secara taktis perlu memasukan spirit ini. Oleh karena itu, ketika dari Pusat Inovasi Pembelajaran (PIP) memasukan pedagogi reflektif, dengan metode Ignasian, itu adalah sebuah ajakan untuk terlibat. Kita tidak ingin sekadar melihat lulusan kita berkibar, tapi nothing to do, untuk masyarakat bagi saya, hal itu tidak ada artinya.

Bagaimana UNPAR harus menempatkan diri dalam realitas masyarakat Jawa Barat?

Saya pikir, UNPAR sendiri tidak mungkin menyelesaikan sendiri berbagai persoalan. Tetapi, saya yakin UNPAR bisa memberi kontribusi. Kita berbicara dari skala kecil di sekitar kita, kita perlu membangun dengan masyarakat sekitar kita yang peduli lingkungan. Hal ini bisa dilakukan baik secara institusional mapun individual. Keahlian para dosen kita misalnya bisa kita sumbangkan, misalnya di Tahura. Dan ini harus terus meluas. Kontribusi konkret lain misalnya, UNPAR bisa melakukan apa dalam penanganan banjir di Bandung Selatan? Memang kita tidak menyelesaikan semua masalah, tetapi kita masuk dan bersama masyarakat mencari solusi.

Dalam berbagai persolan ini, Unpar diharapkan menjadi “Miniatur Indonesia”, karena keragaman yang besar di kampus ini. Cara pandang ini dan sikap hidup ini sekurang-kurangnya bisa membawa pada penghargaan pada pluralitas. Apa yang dirintis LPH dengan gladi juga menjadi ciri khas kita. Ini menjadi perspektif baru bagi para mahasiswa. Syukur-syukur setelah belajar di Unpar mahasiswa kita mempunyai mind set ke-indonesia-an, keanekaragaman dari Sabang sampai Merauke. Kalau tidak demikian berarti, kita hanya menyumbangkan kegagalan bagi dunia pendidikan.

Seberapa sadarkah civitas academica Unpar terhadap visi dan misi Unpar dan terutama perihal keterlibatan yang berkelanjutan ini?

Memang sulit untuk menilai, tapi paling tidak kita mengajak teman-teman menjadi pilar-pilar, kita butuh role model, artinya bisa menjadi model bagi para mahasiswa dan karyawan lain. Kalau tidak demikian, maka segala nilai baik itu hanya sekadar menjadi dokumentasi saja. Maka SINDU itu harus sungguh diterapkan secara militan di kampus ini. Pertanyaan bagaimana kita membangun role model itu? Model ini barangkali tidak banyak tetapi powerful yang bisa menjadi contoh bagi yang lain. Sehingga, siapa saja dosen, tenaga penunjang dan mahasiswa sungguh menjadi etalase UNPAR di luar. Terutama, para alumni adalah etalase real UNPAR di luar.

 

Militansi, itu perlu diciptakan atau alamiah akan muncul sendiri?

Bagi saya, yang alamiah juga bisa muncul sendiri, tetapi ada hal yang bisa kita bangun bersama-sama. Perlu adal militansi. Militansi bukan dalam arti sempit tapi dalam arti bahwa nilai-nilai baik itu sungguh hidup. Misalnya salah satu nilai SINDU yang diambil, yaitu kejujuran. Dari sini kita mengatakan bahwa lulusan Unpar dan orang UNPAR siapapun juga pasti jujur. Maka aman negara ini. Untuk hal aneh-aneh, seperti penyalahgunaan kita katakan “tidak” .  (Pewawancara: Marian Ulfah & Andreas Doweng Bolo)