Pendidikan yang Melibatkan

Petrus Canisius Suroso, Drs., MSP., Lic.Rer.Reg. (Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan)

Pak SurosoSewaktu Pusat Inovasi Pembelajaran mengubungi saya untuk sharing pengalaman tentang thema di atas, pertama kali yang saya minta adalah lingkup sharing yang sebaiknya saya buat. Dan berdasarkan lingkup tulisan yang dikirimkan, saya membuat tulisan ini sebagai sharing pengalaman saya mengajar. Sebagai sharing, yang tentu subyektivitasnya sangat kental, ada baiknya, pertama kali saya ungkapan pandangan saya, termasuk nilai-nilai yang saya anut dalam memahami makna pendidikan. yaitu bahwa pendidikan itu ada bersama dengan adanya interaksi manusia. Artinya manusia itu saling mendidik, saling memberdayakan. Dengan demikian pendidikan yang melibatkan artinya melibatkan setiap manusia yang terlibat dalam interaski itu. Dalam lingkup pengajaran, pengajaran yang sekaligus mempunyai makna pendidikan hanya akan terjadi kalau dalam proses pengajaran melibatkan dosen dan mahasiswanya. HARUS ADA KESADARAN BAHWA TIDAK ADA GURU TANPA MURID DAN TIDAK ADA MURID TANPA GURU.

Lalu apa yang perlu disadarkan dalam interaksi proses pembelajaran? Pertama kali yang perlu disadari adalah bahwa interaksi dosen dan mahasiswa itu dalam rangka meningkatkan aspek kompetensi kita sebagai manusia. Aspek kompetensi ini berkaitan erat dengan aspek intelektualitas, perlu banyak tanya jawab, banyak membaca, review kuliah terakhir oleh mahasiswa  sebelum kuliah berikutnya dijalankan. Review kuliah oleh mahasiswa ini bertujuan untuk mengontrol apakah materi yang telah disampaikan dipahami oleh mahasiswa dengan benar. Selain itu review ini juga menunjukkan kepedulian dosen pada mahasiswanya sejauh mana mahasiswa telah menangkap materi yang telah disiapkan. Kesadaran berikutnya adalah pentingnya aturan main dalam hidup bersama. Dalam praktek proses belajar mengajar, saya menyadarkan mahasiswa, dan saya sendiri, melalui aturan main mengikuti perkuliahan. Aturan main ini perlu diterima dengan kebebasan penuh. Pertama kali saya mengusulkan aturan main, yang biasa saya lakukan adalah mengusulkan agar mahasiswa yang terlambat lebih dari 15 menit tidak boleh masuk kelas. Karena apa saya yang pertama kali mengusulan aturan main itu? Intinya adalah bahwa aturan main itu dibuat cenderung menguntungkan yang membuat aturan main. Nah disini perlu dibicarakan bersama sebelum aturan main itu diterima oleh semua pihak yang berkepentingan (mahasiswa dan dosen). Dalam pembicaraan itu biasanya ditemukan karena apa perlu aturan main. Aturan main itu diperlukan untuk menggarap masalah kepedulian terhadap sesama (bukankah ini yang sering kita kenal dengan compassion?). Yang terlambat datang itu cenderung mengganggu orang lain. Untuk itu dosen dan mahasiswa harus hadir sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan bersama itu. Aspek lain dari mentaati aturan main berupa jadwal kuliah yang telah disepakati adalah menggarap masalah integritas (bukankah ini yang sering kita kenal dengan commitment?) dan memutuskan sesuai dengan suara hati (bukankah ini yang sering disebut sebagai conscience?). Kalau sudah terlambat sebaiknya  tahu diri bahwa kalau tetap masuk kelas itu akan mengganggu (baca: meruigikan) yang lain.

Sementara itu dosen kalau tidak bisa menepati jadwal yang telah ditetapkan semestinya memberitahu kepada mahasiswa tentang keterlambatannya atau bahkan kalau tidak bisa hadir. Ini bukan hanya masalah commitment tetapi juga agar mahasiswa dapat menggunakan waktu kuliahnya yang ternyata kosong itu denganm sebaik mungkin.

Jadi dalam proses pembelajaran yang mendidik itu merupakan proses PENYADARAN akan pentingnya peningkatan aspek kompetensi  (intelektualita), aspek kepedulian terhadap sesama (compassion), aspek suara hati (conscience) dan aspek integritas (commitment), baik dalam diri mahasiswa maupun dosen.

Dosen dan mahasiswa harus menyadari bahwa pendidikan diri tidak pernah akan berhenti sebelum kita menghuni rumah sangat-sangat-sangat sederhana  ukuran 2x1m. Pendidikan yang menyadarkan akan pentingnya peningkatan keempat aspek dalam hidup manusia pada dasarnya juga merupakan penjabaran dari visi universitas yang membangun manusia yang bermartabat.

Kalau saya dalam kegiatan saya sebagai pengajar juga  melakukan pengabdian kepada masyarakat berupa pengembangan lembaga keuangan di masyarakat, ada beberapa aspek yang menjadi dasar; pertama, sebagai penjabaran dari visi universitas preferential option for the poor (rumusan yang baru manusia yang bermartabat); kedua. Pengabdian kepada masyarakat, menururt saya bukan proyek yang sekaligus selesai tetapi merupakan kegiatan yang bekelanjutan, karena pengembangan lembaga keuangan itu baru bisa tercapai kalau juga terjadi pengembangan di sektor pengembangan barang-barang (baca: produksi). Pengembangan kedua sektor tersebut memerlukan pengembangan kelembagaan yang mendukung, dan itu proses yang terus akan terjadi. Dengan perkataan lain pengabdian kepada masyarakat harus dipandang
sebagai kegiatan penelitian aksi (action research) yang merupakan basis perkembangan ilmu pengetahuan. Bukankah ILMU pengetahuan (baca teori) selalu bertumpu pada PENGETAHUAN  (baik yang dialami sendiri maupun orang lain, dibaca dari berbagai media)?

Harapan bagi UNPAR? UNPAR itu siapa? Bukankah kita-kita yang telah berani memutuskan untuk bekerja di UNPAR itu adal;ah insan utama penentu makna keberadaan UNPAR? Dengan perkataaan lain, agar UNPAR dapat semakin terlibat, semestinya kita yang sudah berani memutuskan bekerja  di UNPAR harus menyadari keterlibatan kita dalam proses mengajar yang sekaligus mendidik.