Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 03 Nomor 01 Edisi Januari-Februari 2015 / Perguruan Tinggi Dan Pemberdayaan Masyarakat

Perguruan Tinggi Dan Pemberdayaan Masyarakat

Siwi Nugraheni, Dra., M.Env. (Dosen Ilmu Ekonomi Pembangunan)

Ibu Siwi“Pendidikan yang melibatkan” dapat diartikan sebagai, proses pendidikan yang melibatkan secara aktif peserta didik (murid, mahasiswa); dapat pula berarti proses pendidikan yang melibatkan pihak di luar pendidik dan peserta didik; tetapi, ‘melibatkan’ juga dapat berarti ‘melibatkan diri’ dalam mencari solusi atas persoalan-persoalan nyata di masyarakat. Tulisan di bawah lebih sesuai dengan arti yang terakhir. Keterlibatan Perguruan Tinggi (PT) dalam mengatasi masalah yang ada di masyarakat (terutama) diamanatkan oleh dharma ketiga Tridharma PT, yaitu pengabdian kepada masyarakat. Bentuk pengabdian memang mungkin berbeda antar program studi, jurusan  dan fakultas, namun menurut saya, tujuan utamanya sama, yaitu pemberdayaan masyarakat demi tercapainya penghidupan yang berkelanjutan (sustainable livelihood), suatu kondisi yang antara lain ditandai oleh meningkatnya kesejahteraan masyarakat (pendapatan, kesehatan dan tingkat pendidikan makin baik), sumber daya alam dan lingkungan makin lestari, serta distribusi pendapatan makin merata (WCED 1987; Chambers 1987; Chambers & Conway 1992). Dalam prosesnya, pemberdayaan masyarakat sejatinya tidak hanya menimbulkan manfaat searah, dari warga PT (civitas academica) kepada masyarakat, melainkan juga sebaliknya.

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat merupakan sarana belajar dan pemberdayaan diri tim pengabdi, warga PT. Bagi dosen, kegiatan pengabdian adalah kesempatan untuk mengenali kenyataan di lapangan yang dapat memperkaya materi pengajaran di kelas. Tanpa pengetahuan lapangan, dosen hanya akan menjadi ‘penyampai isi textbook’ yang tidak terhubung dengan kondisi nyata di lapangan. Kegiatan pengabdian adalah kesempatan untuk menerapkan secara langsung teori dan temuan penelitian. Di lapangan jugalah dosen dapat menggali kearifan lokal, pengetahuan yang dapat menjadi sumber berkembangnya ilmu.

Bagi mahasiswa, pengalaman berpartisipasi dalam kegiatan pengabdian bukan hanya meningkatkan keterampilan berkomunikasi dan bertindak untuk memecahkan masalah nyata masyarakat, tetapi juga mengasah rasa empati mahasiswa, terutama pada kelompok masyarakat yang tersisih.

Bagi warga UNPAR, kegiatan pengabdian kepada masyarakat adalah pelaksanaan nyata semboyan “Bakuning Hyang mrih Guna Santyaya Bhakti”, berdasarkan ketuhanan menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada masyarakat.

Tantangan utama ketika melibatkan mahasiswa dalam kegiatan pengabdian (dan kegiatan tersebut bukan kegiatan terstruktur) adalah ketiadaan waktu. Durasi studi di jenjang S1 yang relatif pendek (dan biasanya juga sudah terisi penuh dengan kegiatan perkuliahan) menyebabkan waktu untuk mengerjakan hal-hal lain di luar perkuliahan menjadi kian sempit. Di era yang serba bergegas ini, ketika sebagian besar mahasiswa bercita-cita ‘cepat lulus dengan nilai tinggi’, mereka mungkin tak sempat lagi mengasah kecerdasan-kecerdasan non-kognitif.

Daftar Pustaka:

Chambers, R dan Conway, G., 1992. “Sustainable rural livelihoods: practical concepts for the 21st century”, IDS Discussion Paper 296, Brighton: IDS.

Chambers, R., 1987. “Sustainable livelihoods, environment and development: putting poor rural people first”, IDS Discussion Paper 240, Brighton: IDS.

World Commission on Economic and Development (WCED), 1987. Our Common Future: the report of the World Commission on Environment and Development, Oxford: Oxford University Press.