Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 06 Edisi November-Desember 2014 / Arti Penting “Refleksi” dalam Dunia Pendidikan

Arti Penting “Refleksi” dalam Dunia Pendidikan

Fransiskus Borgias, Drs., M.A. (Dosen Program Studi Ilmu Filsafat)

Frans BorgiasMenurut Will Durrant, dalam The Story of Philosophy (1978, 1926), salah satu tokoh besar dalam filsafat pendidikan ialah Socrates. Ada dua ide yang disinggung jika merujuk Socrates. Pertama, menyangkut metode pendidikan, kedua mengenai salah satu tuntutan bahkan syarat penting dalam proses dan hasil didik itu sendiri.

Pertama, kata Socrates, metode pendidikan terbaik ialah metode kebidanan, majeutike tekne. Sebagaimana halnya peranan bidan dalam proses kelahiran anak, demikian juga peranan pendidik ialah membantu peserta didik untuk mengaktualisasi diri dan memancarkan keluar potensi pengetahuan yang dimiliki peserta didik itu. Bukan bidan yang melahirkan, melainkan ia hanya membantu ibu melahirkan anaknya. Sukses program dan proses didik ditentukan oleh kemampuan pendidik dalam menuntun peserta didik melahirkan potensi-potensi dasar dan kodrati yang dimilikinya. Sukses kelahiran anak ditentukan oleh keahlian bidan yang membantu proses kelahiran. Salah satu cara untuk proses kelahiran tersebut ialah metode dialog guru-murid. Cara ini mengilhami sang murid Socrates yang paling besar bahkan ikut melestarikan ingatan historis kita akan sang guru, Plato.

Kedua, mengenai tuntutan dan syarat penting dalam seluruh proses dan hasil didik itu sendiri. Dengan proses dialogis dan teknik kebidanan, diharapkan peserta didik dituntun menuju ke proses pengenalan akan diri sendiri, gnoti se auton. Pengenalan akan diri adalah salah satu tuntutan dan syarat penting agar manusia dapat hidup dan bertindak sebagai makhluk rasional dan moral. Tanpa pengenalan akan diri, sulit dibayangkan orang bisa bertindak dan hidup secara rasional dan moral. Orang bisa mencapai keadaan dan kesadaran seperti itu lewat proses refleksi terus menerus atas hidupnya. Itulah dan di situlah letak arti penting refleksi dalam proses didik. Pengenalan diri adalah basis kemajuan dalam proses didik. Hal itu hanya didapat melalui refleksi dan kontemplasi, lewat permenungan akan hidup dan diri sendiri.

Socrates pernah berkata: “Hidup yang tidak direfleksi tidak layak dihidupi.” Ada yang mengganti “refleksi” itu dengan kata “gugat”: “hidup yang tidak digugat tidak layak dihidupi.” Hidup, agar layak dihidupi, harus direfleksi atau digugat terus menerus. Jadi, syarat agar hidup layak dihidupi, maka ia harus direfleksi, digugat terus menerus. Visi ini mengandung tendensi anti kemapanan, selalu dinamis, aktif, terus bergerak, berkembang. Jangan sampai terjerat dalam ngarai kebekuan.

Tetapi apa itu releksi? Refleksi berarti bergerak mundur untuk merenungkan kembali apa yang sudah terjadi dan dilakukan. Ini adalah suatu yang harus dilakukan dengan sadar dan terencana. Tidak spontan. Untuk itu perlu diberi ruang dan peluang. Di sana orang merenungkan apa yang sudah dilakukannya. Gerak mundur ini harus dilakukan agar kita mendapat kekuatan baru untuk melangkah ke depan. Ibarat atlet loncat jauh, ia harus terlebih dahulu bergerak mundur untuk mengambil ancang-ancang agar dengan itu ia bisa meloncat jauh ke depan. Atau seperti anak panah, yang ditarik ke belakang dengan tali busurnya dan dengan itu anak panah bisa melesak ke depan dengan cepat laksana kilat menuju sasaran.

Gerak refleksi, gerak mundur ini, harus dilakukan sebab hanya dengan itu orang bisa mengetahui dan mendalami secara kritis apa yang selama ini terjadi dan dilakukan. Untuk itu, perlu disediakan waktu di ujung kegiatan. Bagi pendidik dan peserta didik misalnya bisa dilakukan di akhir semester. Dalam ruang dan waktu itu pendidik bisa merenungkan apa yang ia lakukan selama ini. Begitu juga dengan peserta didik. Ini perlu agar masing-masing pihak bisa mengadakan koreksi dan dengan bekal koreksi itu bisa merancang aksi baru dan lebih baik di masa depan. Jadi, ada lingkaran hermeneutik aksi-refleksi-aksi, kalau meminjam kosa kata Teologi Pembebasan Gustavo Guttierez (1968), atau filsafat pendidikan Paolo Freire, dengan gagasannya yang terkenal dan sekaligus judul bukunya: Pendidikan Sebagai Praxis Pembebasan (1984), yang juga menjadi idealisme pendidikan Kahlil Gibran dalam bukunya Sang Nabi (1986). Lingkaran hermeneutik aksi-refleksi-aksi ini penting dilakukan jangan sampai orang mengulang kesalahan yang sama, sebab even a donkey will not stumble over the same stone. Di sini sejarah dan pengalaman bisa menjadi guru yang baik.