Kedudukan Refleksi dalam Proses Pembelajaran

Wawancara dengan Dr. Miryam B.L. Wijaya (Dosen Program Studi Ekonomi Pembangunan)

 

Bu MiryamUntuk edisi kali ini redaksi Sañcaya berkesempatan menemui Ibu Miryam, sapaan akrab Dr. Miryam B.L. Wijaya. Ditemui di ruang kerjanya di Fakultas Ekonomi, beliau berkenan membagikan pengalamannya memberikan ruang refleksi dalam proses pembelajaran. Berikut ini petikan wawancaranya.

Dalam konteks pendidikan dan berdasarkan pengalaman Ibu mengelola proses pembelajaran, apa yang Ibu pahami dan hayati tentang refleksi?

Menurut siklus manajamen, kita harus merencanakan apa yang mau kita lakukan, melaksanakan rencana tersebut, memonitor sepanjang proses, dan kemudian melakukan evaluasi. Dalam evaluasilah unsur refleksi itu ada. Walaupun tidak dengan kata-kata ‘Saya merefleksikan….’, kita perlu dengan jujur mengingat kembali semua yang sudah terjadi sepanjang semester; apa saja yang sudah kita lakukan, bagaimana reaksi mahasiswa, apakah hasil dari proses pembelajaran sudah sesuai dengan harapan, dst., dst. Kita perlu merefleksikan proses dan hasil-hasil interaksi.

Bagaimana evaluasi atau refleksi tersebut Ibu lakukan?

Refleksi dijalankan sepanjang semester dan menjadi bagian dari siklus penjaminan mutu pendidikan/perkuliah. Menurut saya refleksi belum cukup terwadahi dalam sistem yang ada, sehingga mulai tahun yang lalu saya memunculkan formulir ekstra evaluasi akhir semester yang berbeda dengan yang standar dalam format OMR. Dalam formulir tersebut terdapat daftar berbagai kompetensi yang seharusnya dikuasi oleh mahasiswa sebagaimana dinyatakan dalam silabus/SAP. Di akhir semester,mahasiswa diminta mengevaluasi diri masing-masing , sampai sejauh mana masing-masing mencapai setiap kompetensi yang ditargetkan: dibawah rata-rata kelas, sama dengan rata-rata kelas, atau di atas rata-rata kelas.. Mereka juga diminta memberi masukan, apakah perkuliahan sudah berjalan sesuai yang mereka harapkan, apakah ada kejutan yang menyenangan atau tidak, dll. Refleksi diri tidak hanya terkait dengan cara/metode pembelajaran tapi juga terkait dengan materi perkuliahan. Refleksi lebih diarahkan pada penyadaran bahwa apapun yang secara positif diceritakan di dalam teori selalu ada aspek normatifnya.

Dari pengalaman Ibu melakukan refleksi, di mana signifikansinya refleksi?

Refleksi itu mutlak, perlu dilakukan secara terus menerus, terhadap proses, dalam interaksi dengan semua yang terlibat. Refleksi bisa menjadi alat untuk memeriksa apakah tujuan pembelajaran yang meliputi 4 (empat) aspek: how to know, how to be, how to do, dan how to live together sudah dilakukan dan bagaimana hasilnya. Dengan sejak awal mahasiswa diberi penjelasan tentang apa yang hendak dibangun dalam diri mereka, makin banyak mahasiswa yang benar-benar belajar, benar-benar mendengarkan, benar-benar peduli. Karena yang perlu terus belajar itu bukan hanya mahasiswanya tapi juga dosennya, maka dengan rutin melakukan refleksi atas proses pembelajaran keahlian sebagai ilmuwan dan pendamping mahasiswa akan terus berkembang.

Bagaimana tanggapan mahasiswa atas evaluasi atau refleksi yang Ibu lakukan ?

Mereka bisa berpartisipasi dengan sangat baik. Dalam hal mengevaluasi diri misalnya: awalnya mereka takut/kesulitan untuk menilai dirinya sendiri, tapi setelah mereka mulai melakukannya mereka bisa menjelaskan dengan nyaman dan cukup objektif.

Cukup banyak mahasiswa yang semula tergolong di bawah rata-rata berhasil naik ke rata-rata dan pada akhirnya ada yang masuk ke dalam kelompok di atas rata-rata. Ini menjadi pengalaman yang luar biasa bagi saya maupun mahasiswa tersebut. Mahasiswa bisa berubah secara signifikan kalau mereka bisa belajar dari pengalaman mereka sendiri.

Bagaimana Ibu menanggapi dan menghadapai tantangan situasi yang dihadapi mahasiswa saat ini seperti mentalitas budaya instan, pragmatis, dan tidak mau berproses?

Menurut saya itu merupakan bagian dari tantangan sulit yang harus kita dihadapi. Sesulit-sulitnya mengajarkan teori, pekerjaan itu lebih mudah daripada menyadarkan mahasiswa tentang tantangan tadi. Sulit untuk meyakinkan mereka bahwa berproses itu penting. Sering saya berkata kepada mahasiswa, ‘Pada akhirnya teori itu penting tapi sekaligus tidak berguna karena ketika kamu kerja, realita tidak persis seperti teori yang dipelajari dan ketika kamu sudah bekerja 10 tahun teori yang dipelajari juga sudah berubah’.

Maka menjadi penting, bagaimana menyadarkan mahasiswa bahwa mereka itu belajar untuk belajar, bukan belajar teori dan kebijakan ekonomi semata-mata. Karena ‘belajar untuk belajar’ itu demikian abstrak maka perlu perlu dipraktekkan. Misalnya, mahasiswa diminta mempelajari sendiri dalam kelompok kecil suatu materi kuliah dan kemudian mempresentasikannya di depan kelas. Mereka harus siap ditanya, ditanggapi oleh mahasiswa atau kelompok lain. Mahasiswa diajak bertanggung jawab untuk menghasilkan sesuatu bersama, bukan hanya berkarya sendiri saja. Mengajar seperti itu melelahkan, menghabiskan banyak waktu, kita dituntut setiap saat siap. Namun demikian, kalau proses itu berhasil, sungguh membahagiakan.

Apa yang menjadi harapan Ibu atas proses pembelajaran di UNPAR ke depan?

Sekarang sudah ada Pusat Inovasi Pembelajaran. Itu bagus sekali. Ada sekelompok orang yang tugasnya memantau apa yang terjadi dalam proses pembelajaran, mencari hal-hal baru dan menyampaikannya kepada komunitas. Tapi, mengenali dosen mana yang membutuhkan pengembangan apa, adalah lumayan sulit.

Keahlian sebagai pendidik merupakan hasil penghayatan yang membutuhkan waktu lumayan lama untuk membangunnya. Harus dipikirkan bagaimana dosen muda dibantu untuk berproses. Alangkah baiknya kalau para guru besar menjalankan fungsi sebagai pendamping dosen-dosen muda. Tentunya seorang pendamping juga harus terus mengembangkan dirinya. Seperti halnya dosen ditutuntut untuk mengenal dan memahami dengan baik karakter mahasiswa dan berbagai persoalan yang dihadapinya, begitu juga halnya dengan pendampingan dosen. Nah yang sering mencelakakan di UNPAR itu adalah tugas yang diemban dosen itu demikian menumpuk sehingga membuat dosen tidak sempat sedikit santai dan merenungkan atau merefleksikan apa yang sudah dilakukannya.

Oleh karena itu dibutuhkan perencanaan yang baik kalau kita betul-betul mau membangun komunitas akademik yang baik khususnya dosen. Dosen muda perlu diberi kesempatan luas untuk meningkatkan kualitasnya tanpa dimaksudkan untuk memprosesnya secara instan.

 

(Pewawancara: Hendrikus Endar S. dan Sylvester Kanisius Laku)