Keseimbangan Insan Promethean dan Epimethean

Fabianus Sebastian Heatubun, Pr., Drs., SLL. (Dosen Program Studi Ilmu Filsafat)

Rm. FabieDalam mitologi Yunani Promotheus (artinya melihat ke depan) dan Epimetheus (artinya melihat ke belakang) adalah dua bersaudara yang saling melengkapi. Kakak adik yang tidak terpisahkan. Epimetheus mempersunting Pandora (artinya segalanya anugerah) yang kurang didukung oleh Promotheus. Pandora sebagai wanita yang pertama di muka bumi ini memiliki segala yang diimpikan oleh setiap wanita. Mulai dari kecantikan, awet muda, kemewahan, daya pikat kuat bagi setiap lelaki, dsb. Namun dengan naluri kecurigaan dan penasarannya Pandora telah membuka kotak yang berisi berbagai malapetaka, penyakit dan segala macam sumber penderitaan.

Ethos insan Epimethean itu selalu melihat masa lalu, mempertimbangkan sejarah, menghargai tradisi untuk menentukan masa depan. Karakternya penuh kehati-hatian dalam membuat keputusan dan melakukan tindakan, tidak ceroboh, tidak terpukau oleh kemajuan. Insan Epimethean mempunyai cukup waktu untuk merefleksikan dalam-dalam apapun yang pernah terjadi dalam sejarah. Merenungkan dan mengendapkan serta menemukan inti permasalahan. Ia hidup berdasarkan harapan dan kerinduan yang bersifat alamiah dan kodrati.Karena pertimbangan dan keputusannya selalu bersifat intuitif, maka ia sangat percaya pada ‘tacit knowing’ dan ‘gutfeeling’, sekaligus yang bersifat epistemik. Katakan saja bahwa karakter insan Epimethean itu arif dan bijaksana.

Sedangkan insan Promethean, yang secara mitik digambarkan sebagai mahluk yang melawan dewa, mencuri api milik para dewata dan memberikannya kepada manusia. Promotheus yang siap menerima hukuman berat demi ikhtiarnya mengubah nasib manusia. Sosok yang bertekad mengatasi kodratnya yang terbatas dan tak lengkap. Api untuk menempa besi menjadi peralatan teknologi sekedar memperpanjang anggota tubuhnya dan memenuhi hasrat kuat mentransendensir kelemahannya dan membuat dunia terang benderang. Eksplorasi dan petualangan penemuan saintifik menjadi gambaran leburnya keluasan pengetahuan dan kuatnya nafsu untuk menaklukan. Insan Promethean menentukan kemajuan berdasarkan ekspektasi. Berpikir dan bekerja keras menjadi nilai dasar utama untuk merealisasikan impian. Ekspektasi yang berkeyakinan akan cita-cita dan keinginan akan tercapai oleh kerja keras. Nasib harus dirubah oleh diri sendiri, jangan menunggu atau berharap pada anugerah yang tak pasti. Insan Promethean memang bermental ‘perseverance’ (ketekunan, ‘kekeukeuhan’), sehingga kaku dan kurang lentur serta beresiko ketika ekspektasinya berbenturan dengan realitas.

Dua tipologis insan Epimetehan dan Promethean adalah sikap dasar atas terbukanya kotak Pandora. Kotak yang berisi berbagai malapetaka, penyakit dan penderitaan yang telah mewabah dan menyebar ke seantero kehidupan tanpa ada yang mampu mengelak. Menariknya, dalam kotak itu hanya tersisa ‘harapan’. Bagi insan Epimethean segala malapetaka dapat diatasi sejauh masih memiliki harapan. Di sisi lain, bagi insan Promethean, malapetaka dapat dikuasai bila manusia memiliki ekspektasi untuk menaklukannya.

Seperti yang kita ketahui, kini sebuah instansi pendidikan didirikan pada kenyataannya hanya untuk membantu dan memenuhi hasrat dan ekspektasi siswa atau mahasiswa yang ditekan, dituntut dan dipaksa oleh keadaan. Disadari atau tidak, ekspektasi mereka belajar agar diakui, dihargai dan dihormati keberadaanya yang ditunjukkan dengan secarik kertas ijazah. Ekspektasi terbukanya kemungkinan untuk mendapat lapangan kerja menggiring instansi pendidikan untuk membekalinya tekhne (ilmu, sain dan teknologi) yang terampil dan siap pakai. Instansi pendidikan bukan lagi menjadi wahana untuk mencari, menemukan dan merayakan kebenaran, kebaikan dan keindahan. Siswa atau mahasiswa tidak lagi menyerahkan diri untuk diolah dan digembleng mental dan karakternya melalui artes dan episteme (seni dan olah pengetahuan), tetapi dipersenjatai untuk menaklukan malapetaka yang keluar dari kotak Pandora.

Kini terasa ada yang tak seimbang. Insan Promothean ternyata telah menciptakan belenggu bagi dirinya sendiri. Semua disiplin ilmu yang telah dieksplorasi untuk mengatasi malapetaka, dirancang untuk menaklukan masalah telah mengalami jalan buntu. Ilmu hanya demi ilmu. Institusi pendidikan malah menjerumuskan anak didiknya menjadi ‘homo faber’ (insan pekerja) yang sibuk memproduksi yang tak jelas juntrungnya. Terminologi seperti “prognose, program, project” dengan ambisius dijejalkan namun tak pernah jelas hasilnya. Ekspektasi telah berbenturan dengan kenyataan hidup. Pendidikan dan pengajaran terasa pahit dan absurd.

Ekspektasi itu berguna namun harapanlah yang menjadi penentu untuk dapat paham dan mengatasi malapetaka yang keluar dari kotak Pandora. Keseimbangan antara insan Promethean dengan insan Epimethean adalah pilihan arif. Tekhne dan episteme harus bergandengan tangan. Sains dan teknisitas kehidupan tidak perlu menggeser episteme. Begitu pula episteme tidak mesti menghina dan merendahkan martabat tekhne. Drama melawan nasib dan drama menerima kenyataan dengan kesabaran dan penuh harapan sudah seharusnya menjadi jalan tengah.