Pentingnya Refleksi dalam Pendidikan

Onesius Otenieli Daeli, OSC, Ph.D (Dosen Program Studi Ilmu Filsafat)

Onesius Otenieli Daeli_FFPendidikan merupakan salah satu bentuk sosialisasi. Yang disosialisasikan adalah norma-norma, nilai-nilai, dan peran-peran di dalam keluarga dan masyarakat kepada generasi penerus. Secara lebih rinci, W.Kornblum menguraikan bahwa “Education is the process by which a society transmits knowledge, values, norms, and ideologies and so doing prepares young people for adult roles and adults for new roles; in other words, it transmits the society’s culture to the next generation”(1998:295).

Ada beberapa kata kunci dari definisi Kornblum tersebut, antara lain, (1) process, yaitu suatu aktivitas yang terus-menerus berlanjut, (2) transmit, yaitu upaya meneruskan/melanjutkan atau memindahkan sesuatu kepada pihak lain, (3) culture, yaitu konfigurasi nilai-nilai yang merupakan hasil keadaban. Ki Hadjar Dewantara melihat bahwa kultur atau kebudayaan itu sifatnya bermacam-macam, namun karena semuanya buah dari keadaban, maka semua kebudayaan itu selalu bersifat etis, yaitu: tertib, indah, berfaedah, luhur, memberi rasa damai, senang, dan bahagia (1967:28). Kata kunci terakhir adalah (4) next generation, yaitu generasi penerus yang akan melanjutkan eksistensi sebuah kelompok. Generasi dalam arti ini bisa dimengerti secara biologis-vertikal yang dilihat berdasarkan umur atau social-kognitif berdasarkan muatan pengetahuan yang dimiliki. Misalnya, meskipun seorang dosen lebih muda umurnya bila dibandingkan dengan mahasiswanya, akan tetapi ia sudah terlebih duhulu faham (berpengetahuan) tentang suatu ilmu yang hendak di-trasmitnya kepada ‘generasi’ (angkatan) berikutnya, maka ia patut digurui.

Pendidikan yang merupakan sebuah proses pendampingan dan pembentukan sangatlah penting supaya generasi berikutnya sungguh menjadi pribadi yang siap, dewasa, dan bertanggungjawab dalam menjalani serta menghidupi, baik budaya para pendahulu maupun budaya masa kini untuk menghadapi aneka peluang dan tantangan di masa yang akan datang. Menurut Ki Hadjar Dewantara, “Pendidikan harus mengutamakan kemerdekaan hidup batin, agar orang lebih insyaf akan wajib dan haknya sebagai anggota dari persatuan” (1962:4). Kemerdekaan lahir batin merupakan cita-cita pendidikan supaya tidak menjadi budak dari mereka yang merasa diri lebih hebat. Hal ini sejalan dengan pendapat W. Gulõ dalam bukunya Strategi Belajar-Mengajar: “Pengembangan kualitas manusia menjadi suatu keharusan terutama dalam memasuki era globalisasi dewasa ini, agar generasi muda kita tidak menjadi korban dari globalisasi itu sendiri. Pendidikan yang berorientasi pada kualitas ini menghadapi berbagai tantangan yang tidak bisa ditanggulangi dengan paradigma lama” (2002:vii). Tidak menjadi korban dalam konteks ini bisa berarti memiliki kemandirian dan kualitas atau dalam bahasa Ki Hadjar Dewantara di atas memiliki “kemerdekaan.” Hal inilah yang membuat manusia jauh lebih unggul dibanding dengan berbagai jenis ciptaan lain di bumi ini. Manusia tidak hanya sekadar tinggal di dunia (in the world), tetapi juga ada bersama dunia (with the world) (bdk. Freire 1974:3). Artinya manusia ikut memikirkan, merancang, dan melibatkan diri dalam berbagai bentuk perubahan dunia ini. Manusia merupakan agen utama terjadinya transformasi dunia. Lebih jauh Freire mengatakan bahwa “To be human is to engage in relationships with others and the world. It is to experience that world as an objective reality, independent of oneself, capable of being known” (1974:3). Dengan kata lain, gerak dan keterlibatan manusia membuat dunia ini berdenyut, hidup, dan bermakna. Meskipun di sisi lain, manusia yang sama bisa menjadi Pendidikan yang merupakan sebuah proses pendampingan dan pembentukan mesin penghancur dunia yang sangat powerful.

Peran manusia dalam pendidikan manusia lain sangatlah esensial supaya “kemerdekaan” yang diidam-idamkan terjadi. Proses yang baik dan benar dalam melakukan ‘transmit’ kebudayaan dalam dunia pendidikan akan mempengaruhi kualitas produk yang dihasilkan. Supaya produk yang dihasilkan berkualitas, maka refleksi komprehensif atas berbagai demensi dalam dunia pendidikan sangatlah berarti, baik di tingkat materi dan metodologis maupun di tingkat teoretik dan estetik.

Bagi saya refleksi adalah ruang dan waktu untuk mengembalikan sesuatu pada tempatnya atau pada keadaan yang sebenarnya, atau pada cita-cita awal, atau pada nada dasar, atau pada harmoni yang sesungguhnya. Refleksi juga bisa menjadi kesempatan untuk sejenak berhenti untuk “mengisi minyak” pada mesin atau “me-recharge” baterai pada HP (benda elektronik lainnya). Refleksi merupakan kesempatan untuk “kembali ke rumah” setelah sekian lama bekerja/berkeliaran di luar. Ia merupakan ruang dan waktu untuk menata ulang berbagai dimensi dan corak-cerita hidup, baik yang memuaskan maupun yang mengecewakan, yang membahagiakan maupun yang menyedihkan. Refleksi pada akhirnya adalah saat melihat diri sendiri, melihat usaha pribadi dan organisasi pada ranah dasar yang sudah dimaktubkan dan ingin dihadirkan sebagai sajian yang menghidupkan dan membahagiakan banyak insan. Refleksi membantu insan pendidikan untuk tidak terjebak pada integritas semu dan pujian gombal.

Referensi:

Freire, Paulo. 1974. Education For Critical Consciousness. London: Continuum.
Gulõ, W. 2002. Strategi Belajar-Mengajar. Jakarta: Grasindo.
Kornblum, William. 1998. Sociology: The Central Questions. Orlando: Harcourt Brace College Publishers.
Madjelis-Luhur Taman Siswa. 1962. Karja Ki Hadjar Dewantara – Bagian Pertama: Pendidikan. Jogjakarta: Percetakan Taman Siswa.
____. 1967. Karya Ki Hadjar Dewantara – Bagian Ke-IIA: Kebudajaan. Jogjakarta: Percetakan Taman Siswa.