Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 02 Nomor 06 Edisi November-Desember 2014 / Refleksi dalam Pendidikan; Apa Arti Pentingnya?

Refleksi dalam Pendidikan; Apa Arti Pentingnya?

Dr. W.M. Herry Susilowati, S.H., M.Hum (Dosen Program Studi Ilmu Hukum)

Herry SusilowatiSeorang mahasiswa dengan muka sedih bercerita kepada kawannya, dia tidak dapat melakukan sidang proposal seperti yang telah dijadwalkan. Masalahnya karena yang bersangkutan terlambat menyerahkan naskah proposalnya. Naskah tersebut baru pagi hari sebelum jam sidang diserahkan. Padahal seharusnya, naskah proposal harus sudah diterima dosen paling lambat 3 (tiga) hari sebelum hari sidang. Kemudian datang mahasiswa yang lain ikut bergabung dan bercerita, bahwa sidang proposal skripsinya dengan tiba-tiba di hari yang telah dijadwalkan ditunda dengan waktu yang akan ditentukan kemudian, karena dosen tidak dapat hadir dengan pemberitahuan yang mendadak, sehingga sidang tidak dapat dilangsungkan karena tidak memenuhi qorum dan tidak sah. Padahal sebetulnya jadwal itu adalah penugasan dari fakultas kepada dosen yang bersangkutan.

Berdasar contoh kedua peristiwa tersebut, dapat ditinjau dari dua sisi yaitu dari sisi pendidik dan dari sisi peserta didik. Dalam kejadian yang pertama, dari sudut pandang pendidik memang tepat kalau mahasiswa tersebut diberi pelajaran atas ketidak-disiplinan serta ketidak-patuhan terhadap aturan. Selanjutnya dalam peristiwa yang kedua, dilihat dari sudut pandang peserta didik harus ikhlas menerima putusan yang tidak adil tersebut. Mengapa dikatakan tidak adil, karena mahasiswa tersebut telah melaksanakan aturan dengan benar, sementara itu  pendidik dengan berbagai alasan dapat menyatakan tidak hadir dengan mendadak, sehingga sidang harus ditunda. Mahasiswa merasa sebagai pelengkap penderita.

Kedua peristiwa tersebut dapat dimaknai bahwa, peserta didik dapat dinilai oleh pendidik sebagai tidak disiplin dan dapat dijatuhi sanksi. Sementara itu pendidik tidak dapat dinilai oleh peserta didik ketika dengan tiba-tiba tidak hadiran, namun peserta didik tidak dapat memberikan sanksi atau pun kritikan kepada pendidiknya. Apakah itu suatu tindakan yang konsisten dan konsekuen serta patut ditiru?. Apakah hal tersebut boleh terjadi dalam proses belajar mengajar untuk mendidik anak bangsa ini?.

Menurut Ki Hadjar Dewantara dalam filosofinya yang terkenal ING NGARSO SUNG TOLODO, ING MADYO MANGUN KARSO, TUT WURI HANDAYANI (Di depan memberi teladan, di tengah memberi bimbingan, di belakang memberi dorongan). Sungguh sebuah filosofi yang sarat makna akan arti sebuah pendidikan. Filosofi tersebut mengajarkan arti peran pendidik, ketika didepan harus memberi contoh atau teladan dalam tindakan, ketika ditengah para peseta didik dapat memberi ide-ide serta menciptakan prakarsa, dan yang lebih penting dapat memberi dorongan kepada murid-muridnya dari belakang. Pendidik harus mampu menjadi teladan, pelayanan, pengayoman dan inspirator bagi peserta didik.

Untuk dapat menerapkan filosofi tersebut khususnya pendidik sebagai pelayan, maka perlu tindakan yang dapat memuaskan peserta didik, yaitu berupa kegiatan dimana kedua belah pihak yang terlibat dalam proses belajar mengajar diberikan ruang untuk saling menilai. Kalau penilaian dari pendidik kepada peserta didik, itu hal biasa, namun budaya untuk menilai dari peserta didik kepada pendidik, itu hal yang luar biasa dan istimewa. Padahal kegiatan itu sangat penting untuk memberikan informasi positif tentang bagaimana pendidik melakukan tugasnya sekaligus sebagai bahan observasi untuk mengetahui sejauh mana tujuan pendidikan itu tercapai. Sekaligus dalam kegiatan tersebut akan dapat diketahui tingkat kepuasan peserta didik dalam proses belajar mengajar, sehingga dapat dijadikan wahana untuk menjalin komunikasi yang baik antara pendidik dengan peserta didik.   Inilah  refleksi dalam pendidikan.

Refleksi sebagai suatu kegiatan yang dilakukan dalam proses belajar mengajar pada prinsipnya merupakan kegiatan untuk nilai peserta didik kepada pendidik. Penilaian tersebut dapat dilakukan secara tertulis maupun secara lisan oleh peserta didik kepada pendidiknya. Penilaian dari peserta didik dapat berisi ungkapan curahan hatinya yang berupa kesan, pesan, harapan serta kritikan yang bersifat membangun atas proses belajar mengajar yang diterimanya sejak awal hingga akhir proses tersebut. Oleh karena itu, apa pun hasil kegiatan refleksi ini seharusnya diterima dengan bijaksana dan berani memperbaiki diri ke depan jika hasilnya kurang disukai peserta didik. Manusia adalah tempatnya salah, sehingga peserta didik dan pendidik yang sama-sama manusia juga dapat berbuat salah. Dari sebab itu, maka kegiatan refleksi menjadi sangat penting, apalagi dalam perkembangan jaman saat ini yang penuh dengan tantangan menghadapi pengaruh globalisasi yang membawa pada perubahan sikap peserta didik maupun pendidik dalam memaknai proses belajar mengajar yang ideal.

Dalam kegiatan refleksi akan didapatkan pendidik yang ideal, yaitu pendidik yang altruis, demokratis, memberikan pelayanan yang menyenangkan dan berkualitas, professional dan tidak kebal akan kritik membangun. Dengan demikian tidak dapat disanggah, bahwa refleksi dalam pendidikan itu sangat penting, tetapi memang lebih penting lagi melakukannya.