Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 03 Nomor 05 Edisi Agustus-September 2015 / Menelisik Labirin Penelitian Internasional: Berbagi Pengalaman bersama Arenst Andreas, Ph.D.

Menelisik Labirin Penelitian Internasional: Berbagi Pengalaman bersama Arenst Andreas, Ph.D.

Ditemui di ruang kerja di Fakultas Teknologi Industri UNPAR, Bapak Arenst Andreas, Ph.D meng-share-kan pengalaman beliau mengeluti dunia riset terutama riset internasional. Berikut petikan  perbicangannya:

 

Apakah Pak Arenst bisa menceritakan awal mula keterlibatan bapak dalam dunia penelitian hingga keterlibatan dalam penelitian internasional?

Begini saja, saya akan mengawali dari masa kuliah saya di UNPAR. Saya adalah mahasiswa FTI angkatan ke-dua tahun 1994 (FTI didirikan tahun 1993). Saya juga ditahun 1995 masuk jurusan matematika di ITB, jadi ketika S1 saya kuliahnya double. Di Teknik Kimia sendiri saya kuliah dari 1994-1999, dan di ITB 1995-2000. Selesai di ITB saya melanjutkan S2 saya di Twente University Belanda, saya mendapat beasiswa StuNed selama dua tahun dari 2000-2002. Selasai S2, saya kebetulan ketemu teman saya Bapak Hengky Mulyana yang lagi mengambil kuliah di Groningen. Dari bincang-bincang dengan Pak Henky yang sudah terlebih dahulu bergabung sebagai dosen di Teknik Kimia UNPAR, saya merasa tertarik bergabung,  saat itu saya belum mempunyai sense atau kemampuan atau keinginan untuk meneliti. Panggilan menjadi dosen itu karena saya suka belajar dan suka mengajar.  Akhirnya saya melamar ke UNPAR dan bulan  Januari 2003 diterima. Dari dua 2003-2007 mulai dari kepala lab sampai ketua jurusan. Pada tahun 2007 saya mendapat tawaran untuk studi lanjut di Korea, yaitu di KIS (Korea International School). Saya mulai Februari 2007, kemampuan meneliti saya saya mulai saat Ph.D ini. Pada waktu program Ph.D. ini saya belajar menulis jurnal internasional dan presentasi di kelas internasional. Saya mendapat pengalaman ini ketika belajar selama empat tahun di Korea. Semua ini karena  tuntutan untuk lulus Ph.D disana itu adalah pada publikasi internasional sebanyak empat sampai lima buah. Jadi sejak awal sudah ditargetkan bahwa untuk lulus harus ada publikasi internasional.  Waktu itu saya targetkan 20, harus saya akui bahwa sejak menjadi dosen UNPAR 2003-2007 saya tidak pernah menulis di jurnal Internasional. Tapi sejak masuk di KIS saya “dipaksa” mulai berinteraksi dengan komunitas internasional dengan tuntutan yang sangat tinggi. Cuma, saya tidak merasa tuntutan itu sebagai beban. Kalau saya prinsipnya sesuatu itu harus saya coba dahulu, dan sudah mencoba baru saya bisa mengatahui itu berat atau tidak. Sesungguhnya bidang riset yang saya geluti pun baru bagi saya, karena saya belum melakukan sebelum itu.

Apa sesungguhnya konsentrasi studi (jurusan) yang diambil oleh bapak?

S1 saya Teknik Kimia UNPAR dan S1 Matematika ITB. Kemudian saya melanjutkan S2 Matematika Terapan di University of Twente  Belanda  dan S3 kembali lagi ke Teknik Kimia dengan bidang riset pada baterai lithium menjadi bidang riset saya selama 4 tahun di KIS. Saya belajar ini mulai dari nol. Jadi, saya bertemu dan belajar berinteraksi dengan komunitas internasional, menulis jurnal berskala internasional ketika menempuh program Ph.D di Korea. Saya mendapat banyak pengalaman riset internasional ini ketika studi di Korea.

 

Bagaimana pengalaman itu kemudian dibawa ke Indonesia atau UNPAR pada khususnya?

Setelah kembali, saya membawa kebiasaan itu ke Indonesia khususnya UNPAR. Namun demikian harus saya akui bahwa situasinya tentu berbeda dengan di KIS. Misalnya di UNPAR, fasilitas laboratorium sangat minim, karena fasilitas laboratorium di UNPAR memang hanya untuk teaching terutama di teknik kimia dan bukan untuk riset. Situasi ini menantang saya untuk tetap survive dengan riset. Hal ini membuat saya menjalin hubungan dengan professor saya di Korea. Dan tentang dana, saya mengakses dana dari KIS sendiri. Karena KIS juga menyiapkan dana untuk mahasiswanya yang  baru lulus.  Selain itu saya pun belajar mengajukan dana hibah ke Dikti dan kemudian mendapatkan hibah tersebut.  Tahun ini adalah tahun ketiga saya memperoleh hibah Dikti. Hal ini membuat saya  bisa  melakukan riset dengan mahasiswa S1 dan S2 di UNPAR. Dalam riset ini, kalau ada sample yang tidak bisa diuji coba di sini maka saya membawanya ke KIS untuk diuji coba di sana dengan memakai skema hibah Dikti untuk program riset internasional dan skema KIS. Walaupun, kita terbatas toh kita bisa melakukan sesuatu. Saya mengakui bahwa sekembali dari Korea bukan hanya gelar saja yang saya bahwa tetapi juga networking yang tetap saya gunakan untuk mengembangkan riset baik untuk saya maupun untuk mahasiswa-mahasiswa S1, S2 dan juga untuk perkembangan institusi UNPAR, fakultas maupun jurusan.

Bagaimana keterlibatan mahasiswa UNPAR dalam program riset internasional ini?

Selama dua tiga tahun ini saya pun melibatkan mahasiswa terutama mahasiswa S2 agar terlibat  dalam riset internasional di Korea.  Pada awalnya (2011-2012) ketika belum ada mahasiswa saya pergi sendiri, namun saya berharap mahasiswa pun berkembang dalam pengalaman riset internasional. Maka saya mulai melibatkan mahasiswa S2.  Para mahasiswa S2 pun kemudian bisa berangkat ke Korea dengan memakai biaya hibah tersebut. Pola tersebut saya pertahankan sampai sekarang. Bulan depan satu mahasiswa program Magister Teknik Kimia UNPAR akan ke KIS. Mereka sudah lakukan riset di sini dan akan melanjutkan tes ke Korea. Saya juga mendorong mahasiswa kita untuk melanjutkan studi ke KIS. Sampai sekarang sudah ada 10 orang lulusan UNPAR yang studi S2, S3 di sana. Saya meng-encourage mahasiswa kita untuk mempunyai kualitas internasional. Bagi saya kita harus menyiapkan diri di tengah perkembangan Masyarakat Ekonomi ASEAN misalnya. Kalau kita tidak siap kita tergilas. Saya mencoba membantu mahasiswa yang ingin studi lanjut dengan networking yang saya punya.

Menurut pengalaman bapak, seberapa dekat kaitan penelitian dan pendidikan/pengajaran?

Menurut saya kaitannya sangat dekat, erat. Saya tidak membayangkan mengajar di kelas hanya mengandalkan text book saja. Apa lagi teks 1970, 1980, 1990-an, mungkin untuk mata kuliah dasar boleh saja, tetapi untuk mata kuliah terapan kita harus menceritakan yang up to date. Dan yang up to date itu kita dapatkan dari hasil penelitian. Tentu kita tidak mungkin menceritakan apa yang tidak kita lakukan tetapi apa yang sudah kita lakukan. Seperti saat ini contohnya, saya juga membuka selain mata kuliah wajib saya juga membuka mata kuliah bimbingan terkait riset saya. Ketika di KIS riset saya tentang   lithium ion battery itu memakai bahan baku karbon dan silikon, ketika saya pulang ke Indonesia saya kembangkan juga material karbon ini  untuk komponen air. Saya memperlebar mengaplikasikan riset saya agar lebih membumi. Saya pun menggunakan komponen riset dari bio-massa yaitu bahan lokal Indonesia seperti kulit jeruk Garut atau salak pondoh atau kulit pisang Ambon menjadi bahan baku material karbon. Sebenarnya ketika presentasi di luar saya juga sekaligus memperkenalkan Indonesia yang kaya bio-massa. Ini bagi saya sesuai dengan visi misi UNPAR dari yang lokal menuju Internasional.

Apakah ini juga bisa untuk pengabdian kepada masyarakat?

Bisa, misalnya pengabadian di pemurnian air di bina desa misalnya. Riset  tidak hanya konsumsi jurnal tetapi juga dibaktikan kepada masyarakat. Ini sebenarnya saling bersinergi satu sama lainnya.

Apa yang menjadi harapan Bapak ke depannya?

Saya sangat mengharapkan bahwa UNPAR memberikan “ruang” yang lebih luas kepada dosen yang memiliki kinerja di bidang penelitian. Ke depannya, UNPAR dapat membagi dosen berdasarkan kapabilitasnya; ada dosen yang difokuskan untuk mengajar serta ada dosen yang difokuskan kepada penelitian. Dosen-dosen yang fokus kepada penelitian didorong untuk melakukan sejumlah publikasi, mendapatkan dana dari luar dan menghasilkan lulusan yang membanggakan.

Pewawancara: Andreas Doweng Bolo &  Elisabeth A.S. Dewi