Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 03 Nomor 06 Edisi Oktober-November 2015 / Integrasi Proses Pengajaran Melalui Penelitian dan Pengabdian yang Berkelanjutan

Integrasi Proses Pengajaran Melalui Penelitian dan Pengabdian yang Berkelanjutan

Catharina Badra Nawangpalupi, Ph.D.
(Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat)

Dalam sebuah proses pembelajaran, belajar maupun mengajar adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sebagai seorang dosen, selain mengajar, saya juga belajar dari mahasiswa kita,dan juga dari lingkungan disekitar kita. Proses belajar saat mengajar memperkaya saya dalam pengembangan keilmuan, proses belajar dapat diperoleh dari interaksi di kelas saat pengajaran, maupun melalui penelitian yang mendukung materi pengajaran dan proses “turun” ke lapangan dalam bentuk pengabdian masyarakat.

Menurut saya, salah satu kunci kesuksesan dalam proses pembelajaran adalah pembadanan proses belajar itu sendiri secara konsisten dan pengintegrasian proses belajar dengan pengembangan keilmuan melalui penelitian dan pengabdian kepada lingkungan pengaruh kita

Saya mencoba untuk dapat mengintegrasikan proses mengajar dan belajar melalui penelitian dan pengabdian sejak awal saya menjadi dosen. Saat saya pertama kali mulai mengajar, saya diminta oleh teman-teman saya di Jogjakarta untuk melakukan pendampingan para petani salak pondoh. Sebagai bentuk pertemanan, tentu saya bersedia. Namun lebih dari itu, saya berpikir, apa hubungannya pendampingan tersebut dengan profesi dan pengembangan kapasitas saya sebagai dosen, atau apa relevansinya dengan materi ajar saya. Saat itu saya mengajar mata kuliah pemodelan sistem. Pendampingan para petani untuk permasalahan pertanian multikultur saya kombinasikan dengan penelitian kuantitatif  yang menganalisis luas lahan dan efektifitas dari penggunaan lahan dalam konsep pertanian yang multikultur. Hal ini merupakan permasalahan yang menarik untuk menjadi studi kasus untuk matakuliah permodelan sistem sekaligus penerapan penelitian aksi (action research) di masyarakat. Pelaksanaan penelitian ini saya jalankan dnegan menggunakan dana penelitian LPPM UNPAR.

Praktek seperti itu terus saya jalankan setelah sekian lama saya mengajar dan setelah saya menyelesaikan studi saya. Selesai studi S3 saya, secara aktif saya bergabung dengan Pusat Studi yang ada di UNPAR dan mencoba secara konsisten mengaitkan penelitian yang saya lakukan dengan materi ajar. Saya bergabung di Centre of Excellence for SME Development (CoE SMED) sejak awal tahun 2010 saat saya selesai studi. Aktivitas saya bersama teman-teman di CoE SMED membuahkan berbagai bentuk pengabdian terkait pengembangan kapasitas para pengusaha kecil dan menengah serta penelitian besar, yaitu Global Entrepreneurship Monitor (GEM). Penelitian dalam Global Entrepreneurship Monitor yang pada tahun 2013-2015 didanai oleh IDRC Canada secara penuh maupun parsial, merupakan sebuah kegiatan yang menunjukkan keterkaitan kuat antara komitmen saya di bidang pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat. Di bidang pengajaran, saya menggunakan hasil penelitiannya untuk memperkaya materi kuliah saya di mata kuliah Technopreneurship (S1 Teknik Industri) dan Rantai Pasok UKM (S2 Teknik Industri) maupun untuk kegiatan membimbing mahasiswa sarjana (skripsi) dan magister (tesis). Dalam bidang penelitian, kegiatan GEM memacu saya untuk mengakses hibah penelitian, baik di tingkat universitas maupun hibah DIKTI, Hibah Kerja Sama dan Publikasi Luar Negeri untuk tahun 2015-2017. Di sisi pengabdian kepada masyarakat dan penguatan jejaring kerja sama dengan pihak luar di bidang kewirausahaan, baik dengan Mandiri Institute (mengenai ekosistem kewirausahaan), Deputi Bidang Restrukturisasi Kementerian KUKM (mengenai desain Pusat Layanan Usaha Terpadu (PLUT) untuk KUKM), Dinas KUKM Indag Kota Bandung (mengenai kelayakan produk ekspor bagi UKM dan kewirausahaan kreatif), British Council (mengenai kewirausahaan sosial). Berbagai kajian kewirausahaan yang dilakukan bersama dengan institusi di atas merupakan bentuk pengabdian masyarakat yang juga memperkuat penelitian aksi dan penelitian terapan.

 

Praktek tersebut kembali lagi memperkuat kemampuan saya dalam mengajar dan mengembangkan kasus dalam proses pembelajaran ini yang mendukung tujuan pembelajarannya. Dalam proses pembelajaran di Teknik Industri yang sesuai dengan kurikulum yang kami kembangkan, salah satu profil lulusan adalah memiliki kompetensi kognitif, motorik, afektif dan kooperatif. Meskipun dengan cara yang berbeda, dalam mengintegrasikan pengajaran, penelitian dan pengabdian masyarakat, saya juga melakukan pengembangan kemampuan kogitif saya, sekaligus motorik, afektif dan kooperatif. Sebagai contoh, kajian saya dalam desain PLUT untuk KUKM membutuhkan kemampuan analitis dan perencanaan operasional, taktis dan strategis didukung oleh pemahaman akan kebijakan dan kebutuhan masyarakat (kognitif). Dalam memberikan rekomendasi desain, saya “turun”ke berbagai UKM, studi lapangan mengunjungi pusat tersebut (motorik) dan melakukan survei dan wawancara kepada berbagai UKM (afektif) dan melakukan diskusi kelompok terpusat dengan berbagai pemangku kepentingan dan bersama tim membagi dan sekaligus mengintegrasikan kerja (kooperatif). Dengan melakukan hal ini yaitu pembadanan proses pembelajaran itu sendiri, saya dapat memahami bagaimana saya dapat mengembangkan materi ajar yang memiliki capaian pembelajaran yang berbasis kompetensi dalam 4 aspek di atas.