Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 03 Nomor 2 Edisi Maret-April 2015 / Konsep Gender dalam Masyarakat Asmat Papua Berubah

Konsep Gender dalam Masyarakat Asmat Papua Berubah

Onesius Otenieli Daeli OSC, Ph.D (Dosen Program Studi Ilmu Filsafat)

Rm Ote, OSCPendahuluan

Barangkali ada orang yang belum bisa mendefinisikan perbedaan antara seks dan gender. Memang, keduanya bisa kelihatan sama saja atau mirip belaka karena berkaitan dengan perbedaan antara laki-laki dan perempuan. Namun, kalau ditelaah lebih detail, kita bisa mengidentifikasi perbedaan signifikan antara keduanya. Secara sederhana, seks itu merupakan perbedaan antara laki-laki dan perempuan dari sudut pandang biologis atau fisiologis. Sifatnya natural, bawaan, dan tidak mudah atau bahkan tidak bisa berubah. Gender bukan bawaan biologis-natural, melainkan bentukan kultural. Gender merupakan konstruksi masyarakat sehingga bisa saja berbeda antara satu kelompok masyarakat yang satu dengan kelompok masyarakat yang lain dan bisa berubah dalam waktu dan tempat (bdk. Barfield 1997:217). Salah satu konsep gender, misalnya, laki-laki membuat rumah, perempuan memasak.

Aplikasi Konsep Gender dalam Masyarakat Asmat  

Asmat menganut faham patriarkal, di mana laki-laki menjadi tolok ukur dan penentu serta pengambil keputusan (bdk. Fleischhacker 1991:9). Perempuan tidak boleh mencampuri urusan laki-laki, juga tidak boleh mengerjakan pekerjaan laki-laki, meskipun mereka memiliki kemauan dan kemampuan untuk mengerjakannya. Oleh sebab itu, konsep gender pun sudah dengan sendirinya berdasar padat sudut pandang laki-laki. Laki-laki Asmat merasa diri lebih superior dalam segala hal karena melihat dirinya lebih kuat, hebat, dan perkasa segi fisik.

Dalam suatu wawancara ketika saya melakukan penelitian untuk kepentingan disertasi saya, seorang informan laki-laki (maaf, nama tidak disebutkan) mengatakan, “Perempuan berbeda dengan laki-laki dalam mendayung perahu. Itu tergantung gaya: gaya laki-laki berbeda dengan gaya perempuan secara natural. Fisik laki-laki berbeda dengan perempuan. Perempuan tidak boleh disamakan dengan laki-laki. Laki-laki membawa keperkasaan. Wanita tetap sebagai wanita, seorang mama”(Daeli 2013:141). Pernyataan ini seolah-olah diamini oleh informan perempuan yang dengan emosional mengatakan, “Perempuan Asmat jadi kelas dua dan terjajah karena ‘ego laki-laki.’ Laki-laki Asmat melihat bahwa perempuan harus dinomorduakan dan tidak boleh lebih dari laki-laki”(Daeli 2013:147). Kira-kira begitulah masyarakat Asmat memahami perbedaan gender di antara mereka yang barangkali berbeda dengan konsep gender di tempat lain.

Konsep gender ini teraplikasi dalam hidup harian Asmat. Wilayah Asmat berada di antara banyak sungai, baik besar maupun kecil yang tidak terhitung jumlahnya. Oleh sebab itu, transportasi utama yang memungkinkan mereka bergerak dari satu tempat ke tempat lain adalah perahu. Perahu ini membuat keluarga Asmat bisa hidup dan tidak tergantung pada orang lain karena dengannya mereka bisa pergi ke hutan untuk berburu dan memangkur sagu atau ke sungai untuk memancing/menjaring ikan, udang, kepiting, dan sebagainya. Nah, perahu ini bisa menjadi media terbaik untuk mengamati aplikasi konsep gender dalam masyarakat Asmat. Artinya, perahu bisa menunjukkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan lewat beberapa simbol dan fenomena yang ada di dalamnya. Sebagai contoh, ketika sedang mendayung perahu, posisi laki-laki ada di ci cimen (kepala perahu) sambil berdiri, sedangkan perempuan di ci ep (ekor perahu) sambil duduk (bdk. Daeli 2013:139). Selain itu, dayung dan cara memegang dayung pun berbeda antara laki-laki dan perempuan. Oleh sebab itu, cara memegang dayung menjadi indikator sederhana untuk mengidentifikasi siapa yang sedang mendayung di atas sebuah perahu, entah dia laki-laki atau dia perempuan (bdk. Daeli 2013:151). Menurut masyarakat Asmat, konsep dan aplikasi gender ini tidak boleh dilanggar begitu saja karena akan menghadirkan resiko, baik secara sosial maupun supernatural, karena dianggap tidak taat kepada nenek-moyang.

Konsep dan Aplikasi Gender Berubah

Seiring dengan perubahan dan perkembangan zaman, menurut saya, masyarakat Asmat mulai “tidak setia” pada konsep leluhur mereka yang telah mengatur bagaimana sebuah keluarga harus hidup dan bersikap. Pada zaman sekarang, perempuan tidak harus duduk di bagian belakang/ekor perahu. Seorang perempuan bisa saja duduk di depan perahu (yang dulunya dianggap tabu) dan diterima baik oleh masyarakat, termasuk oleh tua-tua adat pelindung dan penerus tradisi, kalau si perempuan itu memiliki jabatan publik yang bisa dibanggakan seperti guru, pegawai Pemda, perawat, dan ketua oraganisasi tertentu.

Harus diakui bahwa yang mengantar perempuan sampai pada posisi-posisi atau pekerjaan strategis di dalam masyarakat, tidak lain dan tidak bukan, adalah pendidikan formal sehingga mereka bisa mendapatkan ijasah dan mematahkan mitos laki-laki yang harus superior, dominan, hebat, dan perkasa. Perempuan menjadi bisa berdiri di bagian depan perahu sebagai simbol seorang pemimpin. Dalam arti itu, pendidikan telah membuka mata masyarakat Asmat, baik laki-laki maupun perempuan bahwa laki-laki dan perempuan itu setara.

Referensi:

Barfield, Thomas (ed.). 1997. The Dictionary of Anthropology. USA: Blackwell Publishers Inc.

Daeli, Onesius Otenieli. 2013. “The Ci, Gender, and Social Change among the Asmats of Papua, Indonesia”. Dissertation. Quezon City: University of the Philippines. (Unpublished).

Fleischhacker, Marcus B. OSC. 1991. Making the Invisible Visible: Asmat Art and Spirituality. Minneapolis: The Crosier Fathers and Brothers Province, Inc.