Pendidikan dan Perempuan

Indraswari, M.A., Ph.D. (Dosen Program Studi Ilmu Administrasi Publik)

Indraswari“Pendidikan yang melibatkan” dapat diartikan sebagai, proses pendidikan yang melibatkan secara aktif peserta didik (mahasiswa); dapat pula berarti proses pendidikan yang melibatkan pihak di luar pendidik dan peserta didik; “Pendidikan yang melibatkan” dapat diartikan sebagai, proses pendidikan yang melibatkan secara aktif peserta didik (mahasiswa); dapat pula berarti proses pendidikan yang melibatkan pihak di luar pendidik dan peserta didik;dasar, dimana perempuan memiliki ruang lebih kecil dibandingkan laki-laki.

UN Women mencatat bahwa kemiskinan, jarak tempuh dari rumah ke sekolah dan nilai budaya adalah faktor-faktor utama penghambat perempuan mengakses pendidikan. Dalam situasi dimana sebuah keluarga dihadapkan pada keterbatasan finansial untuk menyekolahkan anak-anaknya, maka lebih besar kemungkinan anak perempuan diminta mengalah dan memberikan kesempatan menempuh pendidikan kepada saudara laki-lakinya. Jauhnya jarak tempuh dari rumah ke fasilitas pendidikan adalah faktor penghambat lain, terkait langsung dengan masalah keamanan perempuan dan besarnya biaya transportasi yang harus dikeluarkan. Dalam hal budaya, perempuan menghadapi tekanan sosial yang lebih besar dibandingkan laki-laki untuk segera menikah dan setelah menikah menjadi terkendala untuk mengakses pendidikan terutama pendidikan menengah dan tinggi. Data BPS menunjukkan pada tahun 2010, 12,26% perempuan Indonesia menikah pertama kali saat mereka berusia 10-15 tahun dan 32.46% saat berusia 16-18 tahun. Dengan demikian sekitar 45% perempuan Indonesia menikah pertama kali sebelum mereka berusia 19 tahun.

Pendidikan dipercaya sebagai salah satu motor penggerak perubahan sosial. Bagi perempuan, pendidikan adalah kunci menuju kehidupan yang lebih baik. Namun sebenarnya pendidikan memiliki cakupan manfaat yang lebih luas, bukan hanya pada diri perempuan itu sendiri melainkan meliputi keluarga, komunitas dan negara.

Tingkat pendidikan perempuan berpengaruh signifikan terhadap kualitas kesehatan anak. Sebuah kajian Bank Dunia berjudul Gender Equality and the Millennium Development Goals (2003) menunjukan bahwa rendahnya tingkat pendidikan dan tingginya angka buta huruf ibu berdampak langsung terhadap maraknya gizi buruk akibat rendahnya kualitas pengasuhan bayi dan anak balita. Kajian tersebut menunjukan temuan di 25 negara berkembang, dimana perempuan yang tinggal di bangku sekolah satu hingga tiga tahun lebih lama mampu menurunkan 15% angka kematian anak, sedangkan jangka waktu pendidikan yang sama bagi ayah menurunkan hanya 6% angka kematian anak. Perempuan yang berpendidikan, saat ia menjadi ibu ia akan paham peran gizi, sanitasi dan higiene yang baik bagi kesehatan dirinya dan anaknya.

Pendidikan bagi perempuan juga berdampak langsung terhadap penurunan angka kematian ibu hingga 66% atau sama dengan menyelamatkan nyawa 189.000 ibu (UN Women, 2015). Logikanya semakin lama perempuan duduk di bangku sekolah berdampak pada semakin meningkatnya usia pernikahan, yang berarti pula mengurangi resiko kematian akibat hamil dan melahirkan terlalu muda dan terlalu sering.

Pendidikan bagi perempuan berdampak pula terhadap meningkatnya pendidikan anak. Setiap satu tahun penambahan waktu ibu di bangku sekolah berdampak terhadap penambahan 0,32 tahun pendidikan anak (UN Women, 2015). Logikanya perempuan yang berpendidikan paham pentingnya pendidikan dan saat menjadi ibu ia akan menjadi pendukung utama pendidikan anak-anaknya.

Terlepas dari fakta tersebut, di berbagai belahan dunia masih hidup tradisi yang menomordua-kan perempuan dalam berbagai bidang kehidupan termasuk pendidikan. Tugas kita semua untuk memajukan bangsa ini melalui pendidikan yang berkualitas dan meng-hapuskan diskriminasi dalam pendidikan bagi perempuan dan kelompok marginal lain.