Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 03 Nomor 2 Edisi Maret-April 2015 / Pendidikan Gender: Tantangan Dunia Pendidikan

Pendidikan Gender: Tantangan Dunia Pendidikan

Yusuf Siswantara, S.S., M. Hum (Dosen MKU)

Yusuf SiswantaraIlmu pengetahuan seolah-olah hanya dikembangkan oleh laki-laki saja; kebanyakan buku-buku teks ilmiah ditulis oleh laki-laki, teori-teori baru digagas dan dikembangkan oleh laki-laki, hadiah nobel dimenangkan oleh tokoh-tokoh negarawan dan ilmuwan terkemuka yang laki-laki. Perempuan seolah tenggelam, tak terdengar suaranya, tak terlihat kiprahnya, tak teridentifikasi hasil karyanya. Lebih lanjut, Ellis mengemukakan bahwa wacana ilmu pengetahuan, khususnya ilmu sosial, dibangun berdasarkan pengalaman, ekspresi pikiran, dan persepsi laki-laki tentang dunia.[1] Bahkan, Kitab Suci pun berisi cerita laki-laki yang dikisahkan oleh para laki-laki. Pertanyaannya, dimanakan perempuan selama itu? Mungkinkah situasi dominasi laki-laki masih terjadi sampai saat ini? Bagaimana pendidikan bisa ambil peranan?

Seperti kita semua mengetahuinya, gender (laki-laki & perempuan beserta dengan tugas, fungsi, peranan, tanggung jawabnya) merupakan konstruksi sosial. Dan, konstruksi sosial tersebut telah menentukan wajah dunia dan ilmu pengetahuan. Bagi kaum feminis (dan kita semua), peremuan dinomor-duakan, ditenggelamkan, dan kurang mendapat perhatian. Tak tersanggal pula, metodelogi dan paradigma epistemologinya pun laki-laki. Dalam dominasi laki-laki ini, Mariana Amiruddin menyerukan “Feminisme adalah Ilmu Pengetahuan yang merindukan kebenaran”.[2] Terhadap pendapat ini, “Teori feminisme hanya berlaku bagi peremuan yang feminis. Laki-laki dan peremuan yang tidak feminis tidak dapat menggunakannya.” Atau, “Feminisme hanyalah sebuah gerakan atau pemberontakan saja. Tidak lebih”.[3]

Terlepas dari pandangan feminis atau tanggapan atasnya, kita melihat bahwa hasil budaya ‘laki-laki’ telah memisahkan dirinya dengan ekosistemnya (Culture without nature), bahwa perkembangan manusia mendegradasi atau menghirarki tubuh dan tanah, serta bahwa paradigma “manusia adalah pusat” mengantikan “ekosistem adalah pusat”.[4] Logikanya adalah “Eksploitasi teknologi terhadap alam, setara dengan eksploitasi laki-laki terhadap perempuan. Alam dan perempuan adalah obyek-pasif, sementara teknologi dan laki-laki adalah subyek-aktif”.[5]

Ironisnya, wajah dunia, para penemu, dan tokoh dunia (yang laki-laki) merupakan ‘produk’ institusi pendidikan (yang dalam sejarahnya pun didominasi laki-laki). Sebagai institusi yang mengembangkan dan menurun ilmu dari generasi ke generasi, seberapa besar peran yang bisa diambil lembaga pendidikan dalam pembangunan kebudayaan yang bias gender tersebut?

Menarik sekali jika kita melihat sebuah nostagia saat SD atau SMP. Dalam praktik keterampilan, memasak dilakukan siswi dan kerajinan-tangan oleh siswa. Dalam pelajaran agama, wanita diciptakan dari tulang rusuk (satu bagian dari laki-laki). Dalam upacara bendera, laki-laki menjadi pemimpin upacara; pengibar (pembawa) bendera adalah perempuan. Ketua kelas biasanya laki-laki dan sekretaris adalah perempuan. Dari materi sejarah sastra, kita dikenalkan dengan tokoh laki-laki: Khairil Anwar, Teguh Karya. Dimanakah sastrawati seperti Selasih (dgn novel Kalau Tak Untung) atau Himadah dengan Kehilangan Mestika, Ratna Riantiarno, Ken Zuraida (drama), Isma Sawitri, Dwiarti Mardjono, Susi AA, atau Rita Oentoro (1970 an), Medy Loekito atau Dorothea Rosa Herliany (1980-2000-an)?

Dengan Pemerintah menyadari pentingnya pendidikan berbasis gender yang terekspresi dalam Inpres no. 9 tahun 2000, tentang Pengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional.[6] Institusi pendidikan bukan hanya men-transfer, mengembangkan pengetahuan, tetapi juga kritis dan sadar atas jenis pengetahuan (dan bahkan mengkritisi kesadarannya). Mengapa demikian? Sebabnya adalah falosentrisme (situasi dimana laki-laki mendominasi pengetahuan), dan kekerasan simbolik (situasi kekerasan yang tidak dirasakan karena dianggap alamiah-wajar).[7] Universitas sebagai insan pendidik mempunyai tanggungjawab posisi penting dalam usaha pendidikan berbasis gender. Salah satunya adalah UI dengan Program Magister Kajian Wanita (Women’s Studies).[8]


[1]   Lih. Elli Nur Hayati, “Ilmu Pengetahuan + Perempuan = …” dalam Jurnal Perempuan no. 48. Tahun 2006, hal. 9-10.

[2]   Ibid hlm. 17

[3]   Amiruddin, Mariana, “Feminisme: Ilmu Pengetahuan Merindukan Kebenaran” dalam Jurnal Perempuan no. 48, tahun 206, Hlm. 19

[4]   Lih. Dr. Phil. Dewi Candraningrum, “Tiga Tubuh Tanah”, dalam Tubuh Perempuan dan Ekologi, Jurnal Perempuan no. 80, vol. 19 no. 1, Februari 2014, hlm. 5

[5]   Lih. Rocky Gerung, SS., “Transvaluasi”, dalam Gender dan Teknologi, Jurnal Perempuan, Vol. 18 No. 3, Agustus 2013, hlm. 4

[6]   Departemen Pendidikan dan Kebudayaan pun menerbitkan buku Buku Saku Pengarusutamaan Gender Bidang Pendidikan Ella Yulaelawati (Ed), tahun 2013.

[7]   Mariana Amiruddin “Feminisme: Ilmu Pengetahuan Merindukan Kebenaran” dalam Jurnal Perempuan No. 28, tahun 2006. Hlm. 21

[8]   Bisa diakses pada http://www.ui.ac.id/akademik/pascasarjana/pasca-ui/program-magister-kajian-wanita.html