Memanusiakan Mahasiswa

Andy Chandra, S.T., M.M.
(Dosen Program Studi Teknik Kimia)

Menerapkan metode pembelajaran dengan Problem Based Learning, menuntut seorang pendidik lebih memanusiakan mahasiswanya. Dalam hal tertentu, pendidik dapat menjadi rekan berdiskusi dan belajar bersama dengan mahasiswa mengenai topik perkuliahan yang dilakukan. Dalam hal ini dengan melalui pendekatan problem pemicu yang telah dibuat. Banyak input dan teori baru yang bisa didapat oleh pendidik dari mahasiswanya, sehingga terkadang pendidik dapat dibuat kagum atas pencapaian mahasiswanya. Metode ini membuat pergeseran cara mengajar konvensional dengan metode pidato/orasi menjadi Student Centered Learning. Dari pendidik yang dulu aktif, kini menjadi mahasiswanya yang aktif untuk belajar.

Problem Based Learning sungguh membebaskan pendidik dari tugas berorasi di depan kelas. Hanya dengan memberi problem sebagai pemicu, sepanjang semester berjalan, kelas tersebut akan belajar mandiri dalam bentuk diskusi kelompok. Hal ini yang membuat metode ini sulit diterapkan oleh pendidik lain. Ada ketakutan bahwa pendidik akan dinilai pasif dan tidak bekerja, takut kalau tidak terlihat bahwa pendidik tersebut pintar dan menguasai bahan, merasa terpaku dengan metode konvensional tanpa pernah mau mencoba, malas untuk belajar hal yang baru lagi, takut apabila gagal dengan metode yang baru, dan persepsi bahwa tugas mengajar itu yang penting adalah masuk kelas sesuai jadwal, berorasi tentang topik kuliahnya dengan kadang sedikit interaksi tanya jawab, memberi tugas dan kuis, membuat soal ujian, dan sebagainya. Seakan-akan mengajar hanyalah formalitas dan rutinitas yang kadang dijalankan dengan passion yang naik-turun pula. Seringkali pendidik mengajar tanpa menyadari apakah mahasiswanya sudah mengerti, sejauh mana mahasiswa mengerti, apakah tertarik dengan mata kuliah itu, siapa saja yang ada di kelas itu atau bahkan dosen terlalu mendominasi kelasnya tersebut. Dengan metode Problem Based Learning ini, pendidik akan terbebas dari hal-hal di atas.

Saat menerapkan metode pembelajaran yang berbeda dari metode konvensional, metode ini digabungkan dengan metode Pedagogi Reflektif. Metode Problem Based Learning yang seakan-akan “membebaskan” pendidik dari tugasnya berorasi dan tidak tampil di depan kelas, sehingga peranannya dianggap menjadi hampa dan terindikasi “gaji buta”, dapat teratasi dengan metode Pedagogi Reflektif. Dengan metode paduan ini mahasiswa dapat tetap merasakan kehadiran sang pendidik, bahkan memberikan keyakinan kepada mahasiswa untuk dapat mengandalkan pendidik kapanpun mahasiswa membutuhkan (rely-on bukan depend-on). Tidak ada yang benar dan yang salah untuk setiap pendapat yang muncul di kelas, namun tugas pendidiklah yang harus meluruskannya. Hal ini yang memicu pendidik untuk selalu memutakhirkan keilmuannya seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dinamika inilah yang merupakan salah satu keuntungan menerapkan metode paduan ini.

Penerapannya tentu saja menuntut persiapan dengan usaha yang lebih besar. Pendidik harus membuat problem sebagai pemicunya, membuat dan membagikan buku pegangan mahasiswa, buku pegangan instruktur (dalam hal ini pendidik berlaku sebagai instruktur, namun dapat dibantu oleh asisten tambahan. Idealnya, untuk setiap 40 mahasiswa ada 2 orang instruktur), lembar penilaian, lembar diskusi, dan lain sebagainya. Namun, setelah metode ini berjalan, sungguh sangat memudahkan pendidik dalam menyampaikan bahan kuliah sesuai dengan silabusnya. Caranya, pertama adalah menjelaskan secara singkat apa itu metode Problem Based Learning, kemudian mulai membagi kelompok dari mahasiswa yang ada. Mahasiswa dibagi menurut angkatannya, lalu berdasar grup IPK (ada baiknya bila dapat dibagi menjadi asal daerah, gender dan golongan darahnya). Lalu dari setiap anggota grup membentuk kelompok yang terdiri dari 5 orang, sehingga kelompok yang terbentuk terdiri dari berbagai latar belakang. Tentu saja, pembentukan kelompok dicapai dengan permainan yang santai dan menuntut seluruh anggota kelas untuk aktif.

Setelah terbentuk, setiap kelompok diberikan Buku Pegangan Mahasiswa, yang berisi topik pembelajaran dan langkah-langkah dalam mengikuti perkuliahan selama semester berjalan, sedangkan bahan perkuliahan dapat diperoleh dari website IDE atau e-learning yang ada di UNPAR. Pada periode tertentu, kelompok akan diberikan pemicu-pemicu terpadu yang solusinya dapat dipecahkan dengan topik-topik perkuliahan di dalam silabus melalui buku Pegangan Mahasiswa yang ada. Problem pemicu dapat berupa paduan dari 2 – 4 topik perkuliahan. Selanjutnya kelompok yang dipimpin ketua kelompok akan merenungkan pemicu tersebut, mulai secara individu, membagi tugas pada anggota kelompok, kemudian pendapat masing-masing anggota dibagikan di dalam kelompoknya. Sumber pustaka yang digunakan tidak dibatasi, mahasiswa boleh mengakses melalui internet, membaca buku pustaka, jurnal, diktat kuliah dari IDE, dan lain sebagainya. Diskusi untuk setiap problem dapat menghabiskan waktu 2 – 3 minggu pertemuan di kelas. Tak jarang diskusi tersebut berlanjut di luar kelas, terutama untuk penyelesaian tugas-tugas yang diminta. Hasil yang didapat oleh kelompok kemudian dibagikan di depan kelas sesuai penugasan problem. Ada yang dalam bentuk presentasi, pentas drama, pembuatan dan pemutaran video, hingga dalam bentuk praktik (contoh untuk kasus wawancara kerja, kelompok dibagi menjadi pencari kerja, pemberi kerja, dan pengamat yang saling bertukar peran satu kelompok dengan yang lain).

Penilaian dilakukan dengan metode 360ᵒ, dimana kelulusan mahasiswa ditentukan tidak saja dari nilai ujian (UTS dan UAS), namun dari nilai anggota kelompok yang saling menilai satu sama lain, penilaian dari kelompok lainnya saat menampilkan tugas hasil dari setiap pemicu, nilai dari tugas-tugas yang dilakukan, serta penilaian instruktur dalam mengamati dinamika proses diskusi di masing-masing kelompok. Masing-masing komponen diberi bobot penilaian lalu digabungkan menjadi nilai akhir. Sistem evaluasi kelulusan dilakukan untuk setiap pemicu. Apabila ada mahasiswa yang gagal pada satu pemicu, maka mahasiswa tersebut cukup mengulang di pemicu tersebut. Sehingga dapat dikatakan, akan sulit bagi mahasiswa untuk tidak lulus dan mendapat nilai buruk bila menerapkan metode paduan ini (hal ini yang dapat menjadi ganjalan pula bagi sebagian pendidik untuk menerapkan metode ini, terlebih apabila dikenal sebagai pendidik “killer”).

Tanggapan keseluruan peserta mata kuliah melalui kuesioner di akhir semester sangatlah positif. Hal ini disebabkan karena: mahasiswa tidak merasakan kebosanan di dalam perkuliahan bahkan seringkali merasa bahwa jam perkuliahan dilalui dengan singkat, mendapatkan keadilan dalam penilaian, suasana belajar yang menyenangkan, dapat memperdalam topik pembelajaran dengan cara yang tepat bagi pribadi masing-masing mahasiswa itu sendiri, mampu mengekspresikan diri, berani untuk mengungkapkan pendapat, dalam batasan tertentu mampu menerima pendapat orang lain dan perbedaan dalam mengambil keputusan, merasa lebih dekat dengan rekan mahasiswa yang lain dan juga dengan pendidiknya, dan lain sebagainya.

Tentu saja perlu penyesuaian berbeda dalam penerapan metode ini pada mata kuliah yang lain, hal ini yang memicu pendidik untuk mau mengevaluasi metode pembelajarannya, belajar hal yang baru lagi, demi kepentingan mahasiswanya. Berusahalah untuk membentuk mahasiswa sesuai 3 nilai dasar UNPAR: Humanum Religiosum, Caritas in Veritate, Bhinneka Tunggal Ika.