Belajar Dari Refleksi Mahasiswa

Stanislaus Risadi Apresian, S.IP., MA.
(Dosen Program Studi Hubungan Internasional)

Apakah anda pernah melakukan refleksi? Setiap orang pasti pernah melakukan refleksi meskipun dengan intensitas dan cara yang berbeda. Pada saat melamun kita kadang melakukan refleksi, bahkan pada saat update status melalui akun media sosial yang kita punya, kadang kita juga melakukan refleksi namun tidak menyadarinya. Ketika kita mencoba menjawab pertanyaan di awal tulisan ini, secara tidak sadar juga sudah melakukan refleksi. Kita mencoba mengingat-ingat apa yang pernah direfleksikan atau kapan terakhir kali melakukan refleksi.

Refleksi adalah suatu proses unik yang dapat dialami oleh manusia. Melalui refleksi, kita mempunyai waktu untuk diri kita sendiri. Melihat kembali apa yang sudah kita lakukan dan memaknainya. Tanpa melakukan refleksi kadang apa yang sudah kita alami menjadi suatu hal yang menguap begitu saja tanpa makna. Dengan melakukan refleksi setidaknya ada suatu pelajaran yang dapat diambil dari suatu pengalaman hidup.

Tahun lalu, tepatnya semester ganjil tahun ajaran 2015-2016, saya mengajukan hibah ke Pusat Inovasi Pembelajaran (PIP) UNPAR dan mendapatkan hibah tersebut untuk mengimplementasikan metode pembelajaran Pedagogi Reflektif. Saya bukan pengajar yang ahli atau menguasai metode pembelajaran ini. Hanya berbekal pengalaman pernah mengikuti Workshop Pedagogi Reflektif yang diselenggarakan oleh PIP UNPAR, saya berani untuk mencoba mengaplikasikannya dalam proses pembelajaran di kelas.

Lalu apa yang dimaksud dengan pedagogi reflektif? Tidak banyak hal yang saya ketahui mengenai pedagogi reflektif, bahkan sampai sekarang saya masih berupaya untuk mencari tahu lebih jauh mengenai metode ini. Karena mendapatkan hibah, saya berupaya untuk belajar lagi mengenai apa itu pedagogi reflektif. Dalam mengimplementasikan metode ini, saya hanya berpegang pada satu hal yang menjadi inti dari Pedagogi Reflektif adalah mengajak mahasiswa belajar langsung dari pengalaman melalui kegiatan refleksi. Metode pembelajaran ini menekankan pentingnya refleksi dalam proses belajar dan mengajar dalam setiap perkuliahan.

Saya menerapkan metode pembelajaran Pedagogi Reflektif ini pada mata kuliah Ekonomi Politik Pembangunan. Sebagai gambaran singkat, mata kuliah ini membahas isu pembangunan global dikaitkan dengan dinamika ekonomi dan politik. Isu-isu yang dibahas antara lain isu mengenai permasalahan pembangunan di negara sedang berkembang, bantuan luar negeri, kemiskinan, reformasi birokrasi, dan ketenagakerjaan.

Mengajak mahasiswa untuk melakukan refleksi adalah suatu tantangan tersendiri mengingat mahasiswa seringkali alergi dengan kata “tugas”. Saya berupaya mencari cara untuk mengemas kegiatan refleksi menjadi tugas yang lebih bisa diterima oleh mahasiswa tanpa menganggapnya sebagai beban. Langkah awal yang saya lakukan adalah dengan mengajak mereka melakukan refleksi dengan media yang dekat dengan mahasiswa zaman sekarang. Media yang dimaksud adalah aplikasi media sosial.

Ketika masuk pada topik yang pertama,yaitu topik mengenai permasalahan pembangunan di negara sedang berkembang, saya memberikan tugas kepada mahasiswa untuk mencari foto di sekitar mereka yang mereka anggap sebagai permasalahan pembangunan dengan menggunakan telepon genggam. Waktu yang diberikan adalah satu minggu. Dengan tugas ini mahasiswa diajak untuk peka terhadap permasalahan pembangunan yang nyata dan ada di sekitar mereka. Foto tersebut wajib untuk diunggah melalui media sosial instagram. Instagram merupakan aplikasi media sosial untuk berbagi foto. Saya juga meminta mereka menuliskan refleksi dalam bentuk esai singkat sebagai caption dari unggahan foto mereka. Caption adalah tulisan singkat di bawah foto untuk memberikan penjelasan mengenai foto yang diunggah.

Hasilnya ternyata diluar ekspektasi saya, mahasiswa mengerjakannya dengan cepat. Ada yang baru satu hari sudah langsung mengunggah hasil jepretannya berikut refleksinya terkait permasalahan pembangunan disekitarnya. Isunya pun beragam, mulai dari kebersihan, kemiskinan, banjir, sampai pengangguran. Tema gambar yang paling banyak diambil ketika itu adalah pembangunan di UNPAR. Mungkin ada beberapa alasan mahasiswa mengambil gambar tersebut, karena memang lokasinya dekat jadi tidak perlu repot-repot ke luar kampus untuk mencari gambar atau memang itu menjadi kegelisahan mahasiswa atas pembangunan di lingkungan UNPAR. Foto-foto tersebut sampai sekarang masih dapat diakses di Instagram dengan hashtag #epphiunpar2015.

Setelah melihat refleksi dan antusiasme mahasiswa, saya juga tertantang untuk mengerjakan tugas yang sama dengan mahasiswa saya. Hal ini untuk menunjukkan juga bahwa dosen tidak hanya asal memberikan tugas kepada mahasiswa tetapi juga mau ikut merasakan prosesnya. Ada dua foto yang saya unggah melalui akun Instagram saya.

Untuk topik yang berikutnya, misalnya saja topik ketenagakerjaan, saya tidak meminta mahasiswa menuliskan refleksinya tetapi untuk menceritakan apa yang dipikirkan mereka dalam forum kelas. Hal ini dilakukan untuk membuat variasi dalam berefleksi Topik ketenagakerjaan membahas kondisi ketenagakerjaan Indonesia yang tak luput dari permasalahan pengangguran. Pertanyaan refleksi untuk mahasiswa ketika itu adalah “setelah lulus apa yang akan kalian lakukan? sudahkah kalian merencanakan hal itu?” Kebanyakan mahasiswa kesulitan untuk menjawab pertanyaan ini secara langsung. Pesan yang ingin saya sampaikan adalah mempersiapkan diri untuk masuk dunia kerja harus dimulai sejak sekarang. Jangan berpikir mau jadi apa setelah lulus kuliah.

Cara refleksi menarik lain yang saya terapkan adalah dengan bermain game online. Cara ini saya pelajari dari Bapak Sapta Dwikardana selaku dosen koordinator untuk Mata Kuliah Ekonomi Politik Pembangunan. Mahasiswa kami ajak bermain game online bernama Ayiti the Cost of Life. Mahasiswa akan berperan sebagai keluarga miskin dan diminta untuk bertahan hidup dengan keterbatasan kemampuan dan pilihan yang dimiliki. Pengalaman berperan sebagai keluarga miskin ini kemudian mereka tuliskan dalam selembar kertas. Kemudian pada minggu berikutnya ada sharing di kelas. Hasilnya pun bermacam-macam, ada yang mampu bertahan hidup tapi hampir semuanya gagal mempertahankan kehidupan keluarga miskin tersebut. Dari permainan tersebut mahasiswa belajar bahwa orang miskin tidak memiliki kebebasan karena keterbatasan pilihan. Mereka tidak memiliki banyak pilihan untuk memilih apa yang akan dimakan, apa yang akan dipakai, bahkan ketika sakit tidak banyak pilihan untuk pengobatan.

Metode pembelajaran berbasis pedagogi reflektif ini menawarkan suatu proses belajar yang menekankan refleksi sehingga pengalaman belajar di dalam kelas maupun di luar kelas melalui pemberian tugas tidak menguap dan menghilang begitu saja tanpa makna. Mahasiswa diberi kesempatan untuk belajar melalui pengalaman mereka sendiri tidak hanya mengabsorbsi informasi-informasi dari dosen. Metode ini juga relevan untuk menciptakan student-centered learning. Selain itu, melalui tugas refleksi ini saya sebagai fasilitator mereka di kelas juga dapat belajar dari pengalaman yang mereka tuangkan dalam bentuk tulisan.