Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 3 Nomor 3 Edisi Mei – Juni 2015 / Mahasiswa UNPAR dalam Perjuangan Menjadi Indonesia: Sketsa-Sketsa Kecil Perjuangan

Mahasiswa UNPAR dalam Perjuangan Menjadi Indonesia: Sketsa-Sketsa Kecil Perjuangan

Andreas Doweng Bolo  (Redaktur Pelaksana Sañcaya)

Pak Andreas DowengPada kunjungan dan pidato Ir. Sukarno sebagai Presiden Republik Indonesia di UNPAR 16 Januari 1961, ada berbagai poin penting yang disampaikan Bapak Bangsa ini. Tulisan ini akan menyoroti satu poin terutama pesan Bung Karno  kepada para mahasiswa. Bung Karno memaparkan tentang peran universitas pada umumnya dan UNPAR pada khususnya dalam proyek menjadi bangsa. Dihadapan civitas academica, Sang Proklamator mengatakan, kalau dulu ketika masih dijajah orientasi pendidikan adalah agar kita menjadi buruh, “sehingga hasilnya adalah buruh menjadi juru tulis, buruh menjadi mandor, buruh menjadi guru, buruh menjadi opzichter, buruh bahkan menjadi ingenieur”. Bung Karno melanjutkan bahwa pendidikan di Indonesia merdeka  bukan untuk itu. “Lain dengan kita sekarang ini. Kita tidak mendidik buruh, tetapi kita mendidik kader.” Kader dalam konteks Sukarno, yaitu bahwa bangsa ini membutuhkan putera dan puteri Indonesia yang “technical dan managerial know-how”.

Pemikiran ini sejalan dengan keyakinan para pendiri UNPAR, sebagaimana juga disampaikan oleh Mgr. Geise, OFM, pada  konfrensi di Kinshasa 1968 bahwa tugas universitas  adalah mendidik kaum muda pria maupun wanita untuk menjadi teknolog terpelajar dan teknokrat terpelajar, yang mampu menuntun umat manusia menuju pemahaman yang lebih baik dan cara hidup yang lebih baik dari hidup manusia, yang dilandaskan pada pengetahuan yang jelas (terang mendalam) akan makna hidup manusia dalam berbagai macam bentuk. Dua puluh dua tahun kemudian, pada acara dies natalis UNPAR ke 36, Mgr Geise  mengedepankan tiga poin penting tentang UNPAR yaitu, pertama, bebas  dari segala rupa diskriminasi; kedua, karena berkualitas baik hingga predikat “disamakan” tetap dipertahankan; ketiga, karena merupakan kampus yang tenang dan aman bagi kaum muda untuk menyelesaikan studinya di dalam batas waktu yang resmi.

Pemikiran dua tokoh ini mendalam dan mendasar, menempatkan mahasiswa (orang muda) dalam subyek pokok bangunan pendidikan.Mahasiswa  merupakan kader bangsa, yang mampu menuntun umat manusia ke pemahaman dan cara hidup yang lebih baik. Mahasiswa adalah roh dan jiwa juang sebuah kampus, sebuah lembaga pendidikan. Bagaimana para kader  disiapkan demi misi mulia itu? Tulisan ini sekadar sketsa yang diuraikan tentang partisipasi mahasiswa dalam kehidupan bangsa di ruang publik dalam upaya menjadi Indonesia. Bagaimana mahasiswa UNPAR hadir dan bersama rakyat Indonesia “belajar menjadi Indonesia”.

Mahasiswa UNPAR dalam guratan zamannya

Kiprah mahasiswa dalam dinamika kampus ini bisa dirunut semenjak dekade pertama sejarah UNPAR. Salah satunya adalah perihal keterlibatan mahasiswa dalam perumusan dan penggambaran logo UNPAR menjelang kunjungan Ir. Sukarno.  Nama mahasiswa yang terlibat dalam lahirnya logo UNPAR adalah Soelarto (angkatan 1960).  Sedangkan yang menggambar logo adalah Paul Khoe (Paul Koesardi), atas petunjuk Prof. Njoo, Mgr. Geise, Mgr. Arntz dan   Mgr. Soegijapranata. Sedangkan mahasiswa lain seperti Arief Sidharta dan Ronald Go menjadi tim aktif mempersiapkan kedatangan presiden pertama Indonesia ke UNPAR.

Keterlibatan mahasiswa dalam dinamika perubahan negeri ini tampak juga ketika merebak demonstrasi di tahun 1966. Perjuangan para mahasiswa saat itu bersama rakyat mengusung tiga perjuangan yang kerap disingkat “Tritura” (tiga tuntutan rakyat). Mahasiswa UNPAR pun tidak tinggal diam. Pada peristiwa tahun ini tepatnya pada sebuah demonstrasi tanggal 19 Agustus 1966, gugur seorang mahasiswa UNPAR bernama Julius Usman. Ia ditembak di dalam area kampus Jalan Merdeka 30 dalam sebuah demonstrasi menuntut perubahan saat itu. Situasi dimana UNPAR sangat peduli dengan kehidupan rakyat pada pada umumnya juga dinyatakan oleh Ishak Soemantri (Angkatan 1968). Dalam sebuah wawancara beliau mengatakan bahwa di era itu UNPAR terutama mahasiswa  tampil menggigit dalam konstelasi perubahan politik di Indonesia. Demikian juga di era 1970an ketika Normalisasi Kehidupan  Kampus/Badan Koordinasi Kemahasiswaan (NKK/BKK) menjadi kebijakan politik pendidikan yang ingin men-sterilkan kampus dari kehidupan perjuangan bersama rakyat. Mahasiswa UNPAR, sebagai-mana dikisahkan oleh Miryam Wijaya (Angkatan 1978),  tetap tampil sampai  di forum nasional.

Demikian juga dalam gelombang besar demonstrasi di tahun 1998, mahasiswa UNPAR kembali menyatakan dukungan terhadap reformasi yang dikumandangkan. Baik sebagai pribadi maupun sebagai organ kemahasiswaan, para mahasiswa UNPAR keluar menyatakan diri. Salah satu kegiatan yang besar yaitu, 14 Mei 1998, ribuan mahasiswa UNPAR melakukan long march reformasi yang berjalan sukses, aman dan simpatik melawati jalan Surapati, Djuanda, Siliwangi, dan Ciumbuleuit. Ketika Suharto mundur dari jabatan Presiden, mahasiswa UNPAR menyatakan sikap kritis dalam empat poin pernyataan yang berintikan agar agenda reformasi harus berjalan sesuai amanah konstitusi.

Perjuangan mahasiswa UNPAR di ruang publik tetap hadir di setiap tahun dan zaman. Tahun ini, ketika usia reformasi genap 17 tahun, maha-siswa UNPAR kembali menggelar aksi simpatik di depan Gedung Sate, Kamis, 21 Mei 2015. Dalam aksi mahasiswa itu pun, Pricilla Justian selaku Presiden Mahasiswa UNPAR mengingat-kan rezim berkuasa sekarang ini untuk konsisten menyelesaikan tuntutan reformasi 1998.

Akhirnya menjadi awalan
Mahasiswa, kader bangsa dalam setiap zaman menemukan cara merumus dirinya. Sebagaimana juga ditandaskan Bung Karno dan Mgr. Geise di atas, kemajuan dengan segala kecanggihan teknologi mengarahkan mahasiswa pada pendidikan sejati yaitu menjadi manusia yang utuh (humanum). Relasi antara manusia dan teknologi ini pun, dinyata-kan secara gamblang oleh J. Naisbitt dan P. Abuderne, dalam bukunya Megatrends 2000 bahwa terobosan paling mengairahkan pada abad 21 terjadi bukan karena teknologi, tetapi karena perkembangan konsep mengenai apa artinya menjadi manusia. Dan segala kiprah kita tak lain dan tak bukan adalah menjadi manusia utuh, manusia yang bakuning hyang mrih guna santyaya bhakti. Inilah akhir tetapi sekaligus menjadi awal proses menjadi manusia.

Referensi:
Borgias, F. dkk 2006, Juragan Visioner-Prof. Dr. Mgr.  N.J.C.Geise,OFM, Kanisius, Yogyakarta.
Sastrapratedja,M.,2013, Pendidikan sebagai Humanisasi, Pusat Kajian Filsafat dan Pancasila, Jakarta.
Sukarno, Adakan Kompetisi Antar Universitas demi Ampera, Pidato dihadapan civitas academica UNPAR, 16 Januari 1966
Tim Buku Sindu, 2013, Spiritulalitas dan Nilai Dasar UNPAR, Lembaga Pengembangan Humaniora.
Majalah Parahyangan, 1998, Long March Maha-siswa UNPAR: Pertama Kali dalam sejarah, ribuan mahasiswa UNPAR sukses gelar Long March.
Majalah Parahyangan, 2015, Aksi PM UNPAR: Rezim Jokowi-JK Memelihara Mafia Oligarki.