Imaji, Pendidikan, dan Kesadaran Kelas

Desmond Satria Andrian (Mahasiswa Program Magister Ilmu Sosial)

Desmond“Bila kaum muda yang telah belajar di sekolah dan meng-anggap dirinya terlalu tinggi dan pintar untuk melebur dengan masyarakat yang bekerja dengan cangkul dan hanya memiliki cita-cita yang sederhana, maka lebih baik pendidikan itu tidak diberikan – Tan Malaka, Madilog”.

Yakin, Tan Malaka sedang tidak berdendang. Tidak juga mabuk kepayang. Apalagi ber-senandung sumbang. Di hadapannya, duka nestapa luas terbentang. Zaman Baru di tanah Hindia Belanda terang benderang. Asa baru diduga berkembang. Sayang, nasib rakyat di Nusantara tak kunjung terang. Kemiskinan bagai lingkaran setan. Melingkar-lingkar tak berujung pangkal. Seakan hidup tak ada pilihan. Semua diterima sebagai jalan hidup. Ya, mungkin takdir.

Menurut Tan Malaka, kata takdir menjadi semacam candu bagi rakyat Hindia Belanda. Sebab, ia menenangkan sekaligus meredakan beban hidup. Padahal, kata takdir tak lepas dari propaganda imaji kaum kolonial. Demi kelanggengan eksploitasi sumber daya di Hindia Belanda, takdir sebagai imaji terus diyakinkan. Simbol-simbol imaji takdir hidup subur di tengah rakyat yang memang meyakini mistisme. Makin lama, rakyat makin jauh dari kesadaran akan kolonialisme sebagai penyebab kesengsaraan hidup mereka hampir di sepenjuru Nusantara.

Tan Malaka meyakini pendidikan adalah jalan rakyat untuk bangkit. Rakyat merdeka adalah rakyat yang terdidik. Karena, rakyat terdidik akan mampu melepaskan diri dari cengkeraman imaji yang dibangun. Selalu terdapat ruang berjarak antara daya cengkeram imaji yang kaya simbol-simbol dengan kesadaran substansial akibat pengaruh pendidikan. Hanya rakyat terdidik yang memiliki kesadaran penguasaan alat produksi, sentra produksi, dan akses sumber bahan baku. Tiga hal itu adalah jalan menuju kemandirian dan kedaulatan rakyat kolonial. Mata rantai kemiskinan dan kesengsaraan rakyat dengan sendirinya dapat diputuskan.

Tujuh puluh tahun kemerdekaan bersama kita. Namun, selama itu juga simbol imaji masih berada di sekitar kita. Wujudnya sudah berbeda. Tapi, efek racunnya masih sama. Semua bisa terlena. Lalu, jatuh dalam cengkeramannya. Artinya, amanah untuk mengabdikan ilmu pengetahuan bagi masyarakat senantiasa relevan. Ilmu pengetahuan lahir dari rakyat dan diabdikan untuk cita-cita kemanusiaan.
Para mahasiswa UNPAR senantiasa diingatkan akan hal itu. Moto Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti bermakna “Berdasarkan Ketuhanan menuntut ilmu untuk dibaktikan kepada masyarakat”. Ilmu pengetahuan bukan untuk mengabdi pada kepentingan kapitalisme.  Mari kembalikan nilai-nilai luhur ilmu itu pengetahuan untuk mengabdi kepada rakyat!  Merdeka!