Home / Publikasi / Buletin Sañcaya / Sañcaya Volume 3 Nomor 3 Edisi Mei – Juni 2015 / Wawancara dengan Priscilla Junita Justian: Suara Mahasiswa untuk Pendidikan

Wawancara dengan Priscilla Junita Justian: Suara Mahasiswa untuk Pendidikan

PricillaSañcaya edisi kali ini menurunkan berita  hasil wawancara redaksi dengan Ketua Lembaga Kepresidenan Mahasiswa (LKM) Universitas Katolik Prahyangan, Priscilla Junita Justian.  Mahasiswa Program Studi Manajeman, angkatan 2011 ini, berkenan membagi kisah dan pengalaman selama menjadi mahasiswa terutama selama menjabat sebagai ketua LKM periode 2014-2015, berkaitan dengan Pendidikan Tinggi. Berikut petikan wawancara dengan Priscilla.

Apa pandangan Anda mengenai Pendidikan Tinggi di Indonesia dewasa ini?
Perguruan Tinggi di Indonesia sudah cukup baik seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sehingga banyak juga yang sudah mulai go internasional. Memang belakangan ini ada persoalan berkaitan dengan Peraturan Pemerintah mengenai pemberlakuan maksimal lima tahun kuliah bagi program studi jenjang Strata Satu (S1) Perguruan Tinggi di Indonesia. Ini tentu saja menyebabkan kegelisahan di kalangan mahasiswa dan  bisa dikatakan merupakan kemunduran, terutama karena tidak sesuai untuk beberapa program studi, misalnya kedokteran. Harus diakui bahwa tidak semua hal dapat dilakukan atau diperoleh secara instan, semuanya butuh proses. Pendidikan pun selalu merupakan bagian dari proses.

UNPAR dalam visinya menekankan pendidikan berbasis pada kemanusiaan dan adanya sesanti Bakuning Hyang Mrih Guna Santyaya Bhakti, bagaimana pendapat dan pengalaman Anda tentang hal itu?
Setiap universitas memiliki ciri khas masing-masing, begitu pula dengan UNPAR. Ciri khas UNPAR terwujud dengan tidak adanya pembedaan latar belakang mahasiswa berdasarkan agama dan suku bangsa yang beragam. Selain itu, UNPAR juga sangat memperhatikan mahasiswa yang tridak mampu secara ekonomi, yaitu dengan adanya program beragam beasiswa bagi mereka yang membutuhkan (preferential option for the poor), juga adanya berbagai kegiatan peduli lingkungan yang dilakukan  di lingkungan sekitar UNPAR.

Bila demikian, apa yang perlu diperhatikan saat ini?
Yang diperlukan adalah peningkatan spirit dan motivasi di dalam UNPAR, terutama di kalangan dosen dan tenaga kependidikan, untuk semakin mewujudkan nilai-nilai UNPAR tersebut agar menjadi contoh bagi mahasiswa UNPAR.

Sebagai Ketua LKM periode 2014 – 2015 Anda beserta jajaran anda sudah melakukan sesuatu untuk mewujudkan visi dan sesanti UNPAR tersebut?
Ya, sudah, sebagai LKM kami juga sudah melakukan sesuatu.

Bisa anda ceritakan apa yang sudah Anda dan teman-teman anda di LKM lakukan?
Pertama, bekerjasama dengan Lembaga Pengembangan Humaniora UNPAR (LPH) kami menyelenggarakan peringatan dan perayaan Sumpah Pemuda, kegiatannya antara lain, seminar kebangsaan bagi Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) se-Bandung, lomba esai tentang Nasionalisme, lomba melukis bagi anak-anak SMP dan SD. Selain itu dilakukan pula kunjungan perusahaan dan seminar yang relevan untuk persiapan menghadapi dunia kerja.

Kegiatan-kegiatan  non-akademik yang telah dilakukan, yaitu TOSAYA dan Gerakan Amal Sosial Parahyangan. TOSAYA adalah kegiatan pembangunan jalan, pembenahan mata air di desa daerah Punclut dimana dalam kegiatan ini LKM bekerja sama dengan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) yang ada di UNPAR. Selain itu diisi juga dengan kegiatan lain seperti, pengajaran Bahasa Inggris, bela diri, tarian, dsb. Dana untuk kegiatan ini selain berasal dari UNPAR juga dari hibah pemerintah pusat.

Gerakan Amal Sosial Parahyangan merupakan kegiatan untuk membantu mensejahterakan masyarakat, di mana tahun ini diadakan bagi para veteran dengan memberikan bantuan alat dengar, renovasi rumah, membantu mensosialisasikan informasi program Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dari Pemerintah, dan bantuan lain sejenis.

Apa harapan Anda berkaitan dengan peran mahasiswa UNPAR untuk mewujudkan pendidikan bermutu?
Meningkatkan partisipasi mahasiswa di dunia akademik dan non-akademik. Hal ini dapat dilakukan dengan memanfaatkan ruang diskusi di UNPAR, bisa saja mengenai isu-isu nasional atau isu-isu lain di sekitar kita, atau meningkatkan peran melalui organisasi-organisasi atau UKM yang tersedia di UNPAR. Ini bisa mewujudkan rasa kebersamaan/ kekeluargaan serta solidaritas antar fakultas. Ini bisa menjadi bekal bagi mahasiswa sehingga ketika menjadi alumni dapat berkontribusi bagi almamater UNPAR. Ini semua perlu didukung dengan peran aktif dari lembaga-lembaga kemahasiswaan di UNPAR.

Apa harapan dan mimpi Anda untuk UNPAR sebagai lembaga Pendidikan Tinggi di masa mendatang?
UNPAR bisa menjadi leader, terutama dalam hal updating kurikulum yang dibutuhkan oleh semua mahasiswa. Selain itu, menyediakan para dosen yang tidak saja mampu di bidangnya, melainkan juga memiliki kemampuan  soft skills yang baik untuk membimbing dan mendampingi mahasiswa. Kebersamaan dan rasa kekeluargaan di antara mahasiswa UNPAR juga perlu ditingkatkan. Salah satu yang perlu diperhatikan adalah meningkatkan hubungan dan kerjasama UNPAR dengan alumni karena kerja sama yang baik bisa memberikan kontribusi secara akademik maupun non-akademik bagi perkembangan UNPAR  di masa yang akan datang.

(Pewawancara: Maria Ulfah dan Sylvester Kanisius Laku)