Home / Berita / Workshop Sang Guru Sang Peziarah Angkatan ke-2 (8-9 Juni 2015)

Workshop Sang Guru Sang Peziarah Angkatan ke-2 (8-9 Juni 2015)

IMG_0794

FOTO DINAMIKA WORKSHOP     ||  PESERTA  || STATISTIK

Setelah sukses menyelenggaraan Workshop Sang Guru Sang Peziarah (SGSP) Angkatan I, hingga melahirkan buku Cincin Sang Dosen, Pusat Inovasi Pembelajaran (PIP) kembali menyelenggarakan Workshop Sang Guru Sang Peziarah Angkatan ke-2. Bertempat di Hotel Puri Setiabudhi, Workshop SGSP kali ini diikuti oleh 33 peserta, dan semuanya adalah dosen, dari berbagai Program Studi yang ada di UNPAR. Yang unik adalah tingkat usia dan masa kerja peserta berbeda-beda. Ada peserta yang masa kerjanya sudah purna bhakti alias pensiun, meski tetap membaktikan dirinya sebagai dosen, dan ada juga peserta yang baru satu bulan bergabung dengan salah satu Program Studi, alias masih berstatus sebagai kader dosen. Bukan usia dan masa kerja yang paling penting, melainkan semangat atau spirit yang dimiliki para peserta untuk bersama-sama saling menyemangati dan membangun kebersamaan sebagai sebuah komunitas. Hymne UNPAR menjadi lagu pembuka yang mengawali pertemuan, atau lebih tepat semacam rekoleksi pendidikan, yang berlangsung selama dua hari, yaitu Senin – Selasa, tanggal 08 Juni – 09 Juni 2015. Dalam sambutannya WR Bidang Akademik menegaskan bahwa kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para dosen untuk menyegarkan kembali motivasi dan spirit panggilan sebagai seorang pendidik, selain sebagai media untuk merefleksikan kembali jati diri dan perjalanan panggilan tersebut. Dinamika yang terjadi selama workshop ini merupakan jawaban atas kerinduan para dosen untuk berkumpul, bercengkerama, berbagi kisah dan pengalaman, tanpa peduli usia atau masa kerja yang mereka miliki. Sangat terasa suasana keakraban, persaudaraan, dan kesetiakawanan untuk saling menyemangati dan menumbuhkan meski berbeda ilmu dan keahlian. Yang senior memotivasi yang muda, yang muda mendapat kesempatan belajar dari yang senior, bahkan sebaliknya. Rm. A. Mintara Sufiyanta, SJ., yang menjadi pendamping dalam kegiatan workshop ini sekali lagi menegaskan bahwa kesamaan pengalaman akan meneguhkan pribadi masing-masing, sebaliknya perbedaan pengalaman justru akan semakin memperkaya setiap pribadi yang terlibat di dalamnya. Itulah sebetulnya sumber utama dari kegiatan ini, yaitu saling meneguhkan dan memperkaya. Antusiasme peserta terlihat dari dinamika yang terjadi selama proses berlangsung. Bahkan ada peserta yang secara jujur memberikan testimoni tentang sesuatu yang sangat berarti bagi dirinya yang diperoleh dengan mengikuti kegiatan ini, meski awalnya merasa ragu dan tak yakin. Kegiatan ini juga melahirkan sebuah komitmen bersama untuk menuliskan kisah-kisah inspiratif (pengalaman sendiri atau orang lain atau apapun) dalam menjalani panggilan sebagai pendidik yang dapat menjadi sumber atau bahan penerbitan buku berikutnya. Pertanyaan yang dilontarkan sangat sederhana, Mengapa Anda menjadi dosen dan mengapa anda tetap menjadi dosen? Dua hal itulah yang menjadi sumber utama yang digali dan direnungkan dalam workshop SGSP ini. Hymne Guru dinyanyikan bersama oleh seluruh peserta untuk mengingat kembali jasa para Guru kita, sekaligus juga untuk menegaskan tugas panggilan kita sebagai guru.  Kegiatan yang penuh tawa, gairah, dan inspiratif ini diakhiri dengan sebuah kisah inspiratif yang disampaikan oleh Rektor, Prof. R. Wahyudi Triweko, P.hD. Pesannya, “Teruslah berusaha dan berjuang untuk menggapai cita-cita, karena tidak ada yang mustahil.” (PIP)